Presentasi Hasil Riset Dalam Konser Solo Indra Menus

Presentasi Hasil Riset Dalam Konser Solo Indra Menus

245
SHARE

Noise merupakah hal yang cenderung tidak diinginkan dalam sebuah komposisi musik popular karena identik dengan kebisingan yang tidak diinginkan. Akan tetapi apabila kebisingan tersebut mampu diracik dengan apik dan dijadikan sebuah komposisi, Noise bisa menjadi sebuah karya musik yang menarik walaupun tidak semua orang bisa menikmati-nya.

Di era 90an dan awal 2000, Noise mungkin hanya bisa ditemui di kota besar semacam Jakarta, Yogyakarta dan Bandung. Mereka lekat bersanding dengan ranah kesenian kontemporer. Noise sendiri saat ini sudah mulai berkembang di beberapa daerah di Jawa, Kalimantan, Sumatra, Bali, Sulawesi bahkan sampai ke pulau Batam. Sebuah film dokumentasi mengenai orang-orang yang bermain musik Noise di Indonesia, Bising: The Movie sudah diputar di banyak negara mulai Hongkong sampai ke Jepang dan Eropa. Belum lagi duo Senyawa dari Yogyakarta yang malang melintang tour ke benua Australia, Asia, Eropa sampai ke USA. Juga gaung dari pergerakan Jogja Noise Bombing yang mulai terdengar di skena Noise internasional.  Sementara itu proyek dokumentasi musik Noise di Indonesia yang dikuratori oleh Indra Menus, Pekak! Indonesian Noise 1995 – 2015: 20 Years of Experimental Music From Indonesia juga sukses menggiring publik internasional untuk menolehkan perhatian mereka ke Indonesia.

Media internasional yang berpengaruh semacam Noisey/Vice, Quietus sampai The Wire mulai membahas tentang Noise di Indonesia di artikel mereka. Banyak group Noise dari negara dan benua lain yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan tour mereka. Festival Noise tahunan, Jogja Noise Bombing Festival pun menjadi salah satu wadah bagi para musisi dan penikmat Noise seantero dunia untuk berkumpul setahun sekali di Yogyakarta.

Hal ini menjadi suatu perhatian tersendiri bagi Indra Menus, seorang musisi Noise dengan nama panggung To Die berbasis di Yogyakarta, yang juga menjalankan records label dan mengorganisir pertunjukkan bagi band tour untuk mempelajari koneksi diantara skena musik Noise di berbagai negara ini. Dipilihlah area Asia Tenggara (dalam hal ini Singapura, Filipina, Malaysia dan Thailand) sebagai wilayah area penelitian tersebut karena kedekatan wilayah tersebut dengan Indonesia. Kemudian Jepang juga dipilih sebagai area yang menjadi rujukan bagi kebanyakan musisi Noise di Asia Tenggara.

 

Presentasi Hasil Riset Dalam Konser

Adapun penelitian ini didukung sepenuhnya oleh program fellowship dari Asia Center, Japan Foundation yang memberikan dukungan dana yang diperlukan untuk melalukan penelitian langsung di lima negara tersebut pada bulan Februari – Maret 2017. Selama sebulan, Indra Menus berkeliling di ke lima negara tersebut untuk mengumpulkan data. Selain melakukan interview dengan musisi, penikmat, pemilik records label serta organizer dan pemilik venue yang berkaitan, Indra Menus juga melakukan pertunjukkan untuk memperkenalkan  penelitian ini serta mempelajari bagaimana sebuah pertunjukkan Noise digelar di negara lain.

Sebagai tindak lanjut dari penelitian tersebut, Indra Menus akan menggelar sebuah presentasi mengenai riset yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 20 Mei 2017 bertempat di Kedai Kebun Forum, Jalan Tirtodipuran no. 3, Mantrijeron, Yogyakarta. Hasil dari presentasi yang akan dimoderatori oleh Titah Asmaning (Warning Magazine) ini nantinya bisa menjadi bahan tambahan untuk pembuatan sebuah buku berdasarkan hasil penelitian ini. Buku yang akan dirilis dalam dua Bahasa: Inggris dan Indonesia ini rencananya versi Bahasa Indonesia-nya akan dirilis oleh Warning Books di akhir tahun 2017.

Selain menggelar presentasi yang dimulai pada pukul 19.00 – 20.00, Indra Menus bersama Kenali Rangkai Pakai sebagai produsen D.I.Y synthesizer terkemuka dari Yogyakarta juga akan menggelar konser solo. Konser solo yang diorganisir oleh Jogja Noise Bombing ini juga digelar di hari yang sama mulai pukul 20.30 – 21.30 serta mengajak Mahamboro (saxophone) dan Jandon Banyu (beatbox) sebagai kolaborator.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY