Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM Inisiasi SEA MOVIE Bertajuk: Borderless...

Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM Inisiasi SEA MOVIE Bertajuk: Borderless on Screen”

209
SHARE

Menyadari pentingnya ruang yang dapat mempertemukan wacana-wacana yang diproduksi oleh pembuat film di kawasan Asia Tenggara, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT UGM) menginisiasi SEA Movie Open Program Project. Kegiatan ini diinisiasi sebagai gerakan kesadaran bahwa film menjadi unsur penting yang dapat digunakan untuk memahami kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat pada kawasan tersebut. Melalui ruang pemutaran ini, perjumpaan yang mampu melahirkan pemikiran dan wacana baru atas keberadaan masyarakat Asia Tenggara sangat diharapkan.

Film pendek yang dipilih berdasarakan hasil kurasi dari para pembuat film di kawasan tersebut tidak hanya dipandang sebagai media yang mampu memberikan gambaran realitas akan tetapi juga mampu menghadirkan kritik serta wacana atas keinginan membantuk komunitas masyarakat ASEAN yang selama ini telah disepakati bersama.

Tahun ini SEA Movie mengusung tema “Borderless on Screen”. Selama ini batas wilayah dan negara masih menjadi masalah yang membatasi kawasan ini untuk berkomunitas, setidaknya hal itu selalu menjadi masalah yang problematik. Ketegangan-ketegangan selalu muncul pada saat urusan teritorial mulai terganggu atau merasa satu negara mencaplok wilayah negara lain.

Sebagai sebuah komunitas, hal tersebut tentu menjadi permasalahan yang harus diselesaikan dengan jalan yang solutif bagi yang berkonflik. Sebagai sebuah komunitas pula, tentu saja permasalahan batas wilayah seharusnya tidak lagi menjadi permasalahan yang selalu menghadirkan kecurigaan diantara negara anggota Asia Tenggara. Lewat film, permasalahan tersebut dapat diresapi lalu menghadirkan keterikatan atas dasar satu komunitas. Dengan demikian, batas bukanlah hal yang menggangu sebab ada persoalan lain yang selama ini masih sangat membebani masyarakat pada kawasan tersebut.

Asumsi awal bahwa masyarakat di kawasan Asia Tenggara memiliki persoalan yang tidak jauh berbeda, namun persoalan itu masih dilihat sebagai masalah masing-masing yang harus pula diselesaikan secara sendiri-sendiri. Akan tetapi pemikiran tersebut jelas bertentangan dengan ide komunitas yang coba dibangun saat ini. Komunitas yang coba dibangun harusnya memperkokoh asas kemelekatan antara satu dan lainnnya. Persoalan suatu bangsa yang terkait dengan berbagai isu merupakan persoalan bersama yang juga harus atau setidaknya negara atau masyarakat dari kawasan lain turut andil dalam memberikan kontribusi berupa pemikiran yang solutif.

SEA Movie Open Program

SEA Movie Open Program Project merupakan sebuah program pemutaran dan diskusi yang bersifat terbuka bagi seluruh penggiat film di kawasan Asia Tenggara. Program ini merupakan program pemutaran yang dilakukan dengan menerima submission film dari para pembuat film yang kemudian melalui proses kurasi akan dipilih film yang sesuai dengan tema yang ditentukan sebelumnya yaitu Politik, Ekonomi, Agama dan kepercayaan, serta sosial dan budaya.

Kegiatan ini sebetulnya sudah dimulai sejak bulan Februari lalu, dan akan ditutup pada tanggal 07-08 Agustus 2017 nanti. Puncak kegiatan keseluruhan kegiatan ini adalah Pemutaran dan diskusi film dan publikasi buku. Kegiatan pemutaran film akan dibuka dengan film karya Russell Morton, Forest of Copper Columns. Sebuah film yang bercerita tentang seorang lelaki tua kurang gizi yang terlihat seperti tawanan Perang Dunia II merusak barang-barang rumah dan memecahkan TV. Ia kemudian mencoba mulai menyulut api dalam suatu aktivitas mirip ritual di tengah hutan.

Salhsatu adegan dalam film Forest of Copper Columns, karya Russell Morton.

Kemudian dilanjutkan dengan program pertama, yaitu The Hidden Stories, yang akan memutar film-film karya filmmaker Indonesia, seperti:

  1. Agustinus Dwi Nugroho, Arca, Indonesia (12.43 minutes)
  2. Harvan Agustriansyah, The Silent Mob, Indonesia (16.33 minutes)
  3. Eden Junjung, Flowers In The Wall/Bunga dan Tembok, Indonesia (16.27

minutes)

Menutup sesi The Hidden Stories, akan ada diskusi publik oleh Dr. Budi Irawanto dengan tema, “Film di Asia Tenggara”.

Pada hari pertama setelah sesi The Hidden Stories ini, juga akan diputar film-film pendek pilihan yang berasal dari Myanmar. Sesi ini diberi tajuk S-Express 2016: Myanmar. Beberapa film pendek tersebut yaitu:

– CHASING ROSES
Directed by Kriz Chan Nyein, 2015 / Short Fiction / 11:11.
– MISSING
Directed by Khin Myanmar, 2014 / Short Fiction / 18:57.
– MRAUK OO STORY
Directed by Aung Min and Than Kyaw Htay, 2015 / Short Fiction / 30:00.
– THE SPECIAL ONE
Director Lamin Oo, 2015 / Short Documentary /07:12.

Pada hari kedua kegiatan, tanggal 08 Agustus 2017, kegiatan rencananya akan dibuka dengan pemutaran film pendek asal Filiphina karya Sutradara Jaime Habac, Jr. Berjudul Maria. Film ini menampilkan artis-artis filiphina seperti Upeng Fernandez, Sue Prado, Zini Narciso dan Jayvhot Galang. Film pendek berdurasi 11 menit ini bercerita tentang sebuah keluarga mencurigai bahwa anak perempuan mereka yang berumur 14 tahun hamil di luar nikah dan bersamaan dengan itu ada seorang perempuan tua berumur 50 tahun yang melahirkan anak ke-22.

Kegiatan hari kedua ini dikemas dengan sebuah program bertajuk Blending The Identities yang akan memutar juga film-film seperti:

  1. RM10, sutradara Emir Ezwan, Malaysia (12.34 minutes)
  2. Ma-ae, sutradara Natthapat Kraitrudphon, Thailand (15.32 minutes)
  3. Gilingan, sutradara Ersya Ruswandono, Indonesia (20 minutes).

Lalu diakhir sesi Blending The Identities juga akan ditutup dengan kegiatan diskusi publik oleh Dr. Novi Kurnia dengan tema “Identitas di Asia Tenggara”.

Setiap sesi pemutaran akan menghadirkan pembuat film (jika memungkinkan) dan juga narasumber yang mampu memberikan perspektif terhadap persoalan yang ditampilkan dalam setiap program pemutaran. Hasil dari diskusi tersebut dirancang agar mampu menghasilkan pemikiran kritis dalam bentuk karya tulis yang nanti dapat dijadikan bahan publikasi dari program ini sendiri.

SEA Movie Open Program Project memberi peluang yang baik bagi seluruh penggiat film di kawasan Asia Tenggara yang concern dengan isu perbatasan untuk berkontribusi pada kegiatan ini. Pasalnya, isu perbatasan di berbagai kawasan Asian Tenggara terus berkembang dan menghadirkan realitas yang selama ini tidak menjadi perhatian khususnya masyarakat Indonesia. Misalnya, isu pekerja migran yang selama ini kurang menjadi perbincangan. Jika pun ada, maka akan sebatas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengalami tindak kekerasan. Padahal, Myanmar (dan juga negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara) menghadapi hal yang sama tentang isu sulitnya memperoleh pekerjaan di negeri sendiri yang menuntut tenaga kerja mencari penghidupan di luar negeri seperti dalam film (The Flowerless Garden, 2001). Persoalan serupa terlihat pula dalam film pendek Indonesia, Semalam Anak Kita Pulang (Adi Marsono, 2016). Selain itu, masih sangat banyak persoalan yang dihadapi, yang digambarkan dengan sudut pandang berbeda.

Melihat kemampuan film (dalam hal ini film pendek) menghadirkan isu-isu tersebut, sangat memungkinkan keterikatan permasalahan pada kawasan ini dihadirkan dan kemudian disadari sebagai permasalahan yang perlu diselesaikan secara bersama-sama.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY