Retrospektif Anime Mamoru Hosoda Di Tokyo International Film Festival Ke-29

Retrospektif Anime Mamoru Hosoda Di Tokyo International Film Festival Ke-29

398
SHARE
Sumber foto: @2016 TIFF

20 tahun berkarya di industri anime Jepang, Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) ke-29 mempersembahkan segmen spesial retrospektif untuk pertama kali bagi Mamoru Hosoda, sutradara film-film anime terkenal dari ‘The Girl Who Leapt Through Time’ (2006) hingga ‘The Boy and the Beast’ yang menjadi film layar lebar berpenghasilan tertinggi di tahun 2015 dengan rekor domestik hampir mencapai 60 juta dolar AS.

Segmen yang mereka beri nama ‘The World of Mamoru Hosoda’ ini bukan saja menayangkan 4 film layar lebarnya selain 2 judul di atas, ‘Summer Wars’ (2009) dan ‘Wolf Children’ (2012), namun juga akar karya Hosoda di industrinya, animasi-animasi pendek seperti ‘Digimon Adventure’ (1999-2000) selain juga event special talk untuk mendekatkan Mamoru ke para penggemarnya dari seluruh dunia.

tiff-hosoda-kore-eda-3
Sumber foto: @2016 TIFF

Sutradara kelahiran tahun 1967 ini pertama kali belajar lukisan tangan di Kanazawa College of Art yang juga merupakan almamater kreator video game Nintendo Shigeru Miyamoto, sebelum kemudian memulai karirnya di Toei Animation dengan karya-karyanya di franchise ‘Digimon’ dan berpindah ke Madhouse di tahun 2005 lantas kemudian mendirikan sendiri studionya, Chizu Studio di tahun 2011.

Setelah penayangan salah satu karyanya, ‘Wolf Children’ pada tanggal 26 Oktober lalu, Hosoda hadir bersama sutradara ternama Jepang Hirokazu Kore-eda (‘Nobody Knows’, ‘Like Father Like Son’, ‘Our Little Sister’) dalam sebuah event special talk. Dalam diskusi tersebut, mereka membicarakan kesamaan-kesamaan paralel dalam karya mereka berdua. Walau berbeda jalur, di mana Hosoda lebih dikenal dalam film-film anime blockbuster dan Kore-eda ada di jalur live-action yang lebih naturalis serta kontemplatif, kedua sutradara ini mengatakan bahwa mereka banyak menemukan kesamaan dalam karya-karya mereka.

Sering berbicara salah satunya soal keluarga, Hosoda dan Kore-eda mengaku bahwa ada rasa kehilangan sosok ayah dari keduanya yang sedikit banyak direpresentasikan secara berbeda dalam karya-karya mereka, misalnya lewat gambaran figur ayah yang hadir seolah jadi bayangan penting baik dalam ‘The Boy and the Beast’ dan ‘Our Little Sister’.

tiff-the-boy-and-the-beast
Sumber Foto: @2015 The Boy and the Beast Film Partners

Begitu pula, karakter ibu seakan jadi penghubung dalam karya keduanya. Hosoda mengaku kehilangan ibunya saat ia membuat ‘Summer Wars’ setelah menderita sakit selama 10 tahun dan kemudian menghadirkannya lewat karakter ibu yang membesarkan dua anak dalam ‘Wolf Children’. Kore-eda sendiri, dalam karya terbarunya ‘After the Storm’ membangun karakter utama lewat aktris Kirin Kiki berdasar sosok ibunya. Ia bahkan memberikan kartu pos, lukisan serta kacamata sang ibu pada Kiki agar bisa benar-benar masuk menyelami karakternya.

Dalam waktu terpisah setelah penayangan ‘The Girl Who Leapt Through Time’ pada 29 Oktober, Hosoda mengatakan bahwa ia benar-benar tak menyangka bahwa film yang sudah berusia lebih dari 10 tahun lalu itu tetap dihadiri begitu banyak pemirsa dan mendapatkan sambutan semeriah saat filmnya dirilis dulu.

Menjawab pertanyaan tentang kegemarannya mengangkat tema-tema keluarga dalam film-film animenya, Hosoda mengatakan bahwa keluarga sebenarnya lebih menjadi motif dalam menghadirkan tawa serta tangis atas kisah-kisah pertemuan dan perpisahan. Hosoda juga mengaku bahwa karakter-karakternya rata-rata memuat sisi tumbuh kembang anak, dari ‘The Girl who Leapt Through Time’ dengan karakter Makoto yang bisa kembali ke masa lalu hingga karakter Kyuta yang menjadi murid seorang monster bernama Kumatetsu setelah kehilangan ibunya yang meninggal dan ayah yang pergi entah kemana dalam ‘The Boy and the Beast’.

tiff-the-girl-who-leapt
Sumber foto: @2006 Kadokawa

Dalam sesi tersebut, Hosoda juga membahas soal idealismenya menggunakan teknik lukisan tangan ketimbang digital. Seperti lukisan tangan yang sudah melalui sejarah ribuan tahun, ia merasa bahwa kultur ini perlu dilestarikan di industri animasi negara mana pun, karena ada perbedaan dalam emosi-emosi yang bisa dipresentasikan lewat lukisan tangan lewat sejarah ribuan tahun yang terentang dalam waktu lebih lama.

Menyaksikan retrospeksi karya-karya Hosoda selama TIFF berlangsung dari 25 Oktober hingga 3 November, para pemirsa dan penggemarnya dibawa untuk menyelami dunianya yang berbeda sebagai salah satu sineas anime Jepang terdepan saat ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY