Review Film: My Girl (2003)

Review Film: My Girl (2003)

1906
SHARE

Oleh: Rohman Sulistiono

Pernakah anda merasakan sebuah film begitu dekat dengan kenangan anda? Seperti diajak bernostalgia dengan keseruan masa kecil anda yang terasa akrab? “My Girl’ akan membawa penontonnya yang merasakan masa kecil di era 80-an untu bernostalgia dengan segala memori masa kecil dan mengajak penonton untuk bereuni sejenak mengingat pola tingkah anak-anak dimasa tersebut.

“My Girl” yang memiliki judul asli “Fan Chan” merupakan film tahun 2003 yang digarap secara keroyokan oleh enam sutradara-penulis sekaligus (Vitcha Gojiew, Songyos Sugmakanan, Nithiwat Tharathorn, Witthaya Thongyooyong, Anusorn Trisirikasem, dan Komgrit Triwimol) yang pada saat itu, “My Girl” merupakan film debutan mereka. Sebuah debutan yang istimewa untuk mereka, selain diakui dalam segi kualitas, film ini juga sukses dalam rahian jumlah penonton di Thailand sana.

“My Girl” berkisah mengenai Jeab (Charlie Trairat) mendapatkan undangan pernikahan dari sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya, Noi-Naa (Focus Jiracul). Pernikahan Noi-Naa berlangsung di kampung halaman Jeab dan Noi-Naa dimana mereka menghabiskan masa kecil bersama. Dalam perjalanan pulang, Jeab bernostalgia akan memori masa kecilnya bersama Noi-Naa. Dan sepanjang film penonton akan dibawa flashback dengan kenangan masa kecil Jeab, Noi-Naa, teman-teman mereka serta memori masa kecil mereka. Saat itu, Jeab dan Noi-Naa bertetangga karna rumah mereka hanya dipisahkan oleh satu toko kelontong. Jeab dan Noi-Naa bersahabat sejak balita dan karena kesulitan mendapat teman laki-laki, Jeab-pun “terpaksa” ikut bermain permainan perempuan bersama Noi-Naa dan teman-temannya. Walau tentu saja, Jeab kerap diejek oleh sekelompok anak laki-laki Jack dan geng-nya. Kedekatan Jeab dan Noi-Naa membuat Jeab merasakan hal lain pada Noi-Naa, dan menyadari Noi-Naa adalah cinta pertamanya.

Sederhana dan apa adanya, membuat “My Girl’ terasa begitu dekat dengan penonton, terutama penonton Indonesia yang mempunya kemiripan budaya dengan Thailand. Dengan setting tahun 80-an, penonton yang merasakan masa kanak-kanak tahun 80-90an akan dibangkitkan memorinya dan diajak bernostalgia dengan masa kecilnya. “My Girl” membuat penonton tersenyum indah apalagi penonton yang mempunyai pengalaman yang sama secara personal ketika anak-anak dalam “My Girl” memainkan permainan sederhana khas anak-anak seperti lompat tali dari karet, bermain peran karakter laga dengan kostum seadanya, bermain sepak bola di lapangan tanah, bermain besepeda dengan teman-teman sore hari, main karet tiup, hingga berenang di sungai. Sebuah kegiatan yang mungkin sangat langka dilakukan anak-anak zaman sekarang yang sudah terjebak dan terhipnotis kecanggihan gadget sehingga melupakan keasyikan bermain diluar bersama teman.  Sungguh disayangkan, padahal momen kanak-kanak dengan keseruan bermain diluar adalah momen yang tak tergantikan.

Mengusung cerita mengenai cinta monyet tak membuat “My Girl” menyajikan sebuah kisah cinta berlebihan yang tak layak untuk anak-anak. Jeab tidak berlebihan hingga mengejar-ngejar cinta Noi-Naa atau sampai mengutarakan cinta kepadanya. Kisah cinta monyet dalam “My Girl” dibuat sesuai dengan karakteristik anak-anak yang polos dan lugu. Sehingga bukan menjual kisah cinta yang berlebihan antara dua insan, namun lebih mengedepankan kisah persahabatan. Sebuah pembelajaran yang baik untuk film anak (terutama di tanah air) agar lebih bijaksana menaruh unsur cinta dalam film agar anak-anak tak mencontoh dan sudah mulai cinta-cintaan pada usia dini.

Penampilan para pemeran cilik dalam “My Girl” patut diacungi jempol. Memainkan peran mereka masing-masing dengan karakter yang kuat dan tidak terlihat berlebihan. Penampilan anak-anak dalam “My Girl” terkesan natural dan seperti memainkan diri mereka sendiri. Sineas yang menggarap “My Girl”pun cukup piawai merajut cerita yang dekat dengan tokoh dengan karakter yang ada, hasilnya “My Girl” begitu natural, sederhana, membumi, dan tentu saja sangat sulit untuk tidak disukai. Selain tokoh utama  Jeab dan Noi-Naa, tokoh Jack yang diperankan Chaleumpol Tikumpornteerawong cukup menarik perhatian dengan bakat aktingnya. Wajar apabila saat ini diumurnya yang sudah cukup dewasa dia masih lalu lalang di perfilman Thailand, Salah satunya dalam film komedi romantis berjudul “ATM” yang rilis tahun 2012.

Dengan raupan pendapatan sebesar 140 juta Bath dalam penayangannya di Thailand, bisa dikatakan film ini sukses dalam segi finansial. Bagaimana dengan kualitasnya? Film ini sangat sulit untuk tidak disukai. Temanya yang sederhana dan digarap dengan sangat membumi, natural, apa adanya namun terasa istimewa membuat “My Girl” dengan mudah membekas di hati penontonnya. Perpaduan apik tema cinta monyet, persahabatan yang kental, dan problematika masa kanak-kanak yang pas dari masa perkembangan psikologisnya membuat film ini tampil tak berlebihan dan menjadi kekuatan dalam “My Girl”.  Beberapa moment yang memorial dibalut dengan komedi ringan serta balutan lagu-lagu populer Thailand tahun 80-an membuat “My Girl” semakin memikat.

Sebagai info, “My Girl” pernah rilis di Indonesia dengan judul “Cinta Pertama” pada tahun 2006. “My Girl” saat itu didubbing ke dalam bahasa Indonesia dan lagu-lagu Thailand dalam film ini diganti dengan lagu-lagu populer Indonesia tahun 80-an yang dinyanyikan oleh musisi terkenal saat itu seperti Iwan Fals, Chrisye, Hetty Koes Endang, dan Ebiet G. Ade.

1 COMMENT

  1. bisa kasi link untuk film yg sudah di dubbing ke bahasa indonesia dgn lagu laguu musisi terkenal dari indonesia..? soalnya saya cari dimana mana tidak ada yg jual filmnyaaa. mau didonlot juga tidak ada versi indonesianyaa… yg dijual hanya VCD lagu lagu nyaa…
    plisssss…. saya kepengen banget donlot film versi indonesianyaa..

LEAVE A REPLY