Rumah Terindah Film Festival: Ajang Pembuktian Sekaligus Awal Perjuangan

Rumah Terindah Film Festival: Ajang Pembuktian Sekaligus Awal Perjuangan

2008
SHARE
Para punggawa Rumah Terindah Film Festival berfoto bersama saat pembukaan acara.

RUMAH TERINDAH FILM FESTIVAL sukses digelar di CGV Blitz cinema, Pacific Place, Jakarta pada tanggal 27-29 November 2015 lalu. Tiga film (Skenario Tuhan, Bara di Negeri Hujan dan Helldresser) yang ditayangkan selama tiga hari berturut-turut, menuai sukses dari sisi penjualan tiket dan yang lebih penting adalah berhasil mempertemukan kritikus film dan komunitas pecinta film dalam perhelatan perdana yang diadakan oleh murid-murid asuhan Rudi Soedjarwo tersebut.

Selain itu, workshop yang diisi oleh Rudi Soedjarwo, mampu menghadirkan puluhan calon filmmaker baru untuk datang dan mendapatkan pengetahuan tentang cara membuat film tanpa budget. Workshop tersebut menjadi daya tarik tersendiri, karena diisi oleh Rudi Soedjarwo yang telah belasan tahun berkecimpung di dunia film dan juga salah satu sutradara yang menjadi simbol kebangkitan film nasional, saat film Ada Apa Dengan Cinta, dianggap meraih sukses. Materi workshop yang nyeleneh itu menjadikan ajang festival ini semakin memiliki ciri khasnya.

IMG_1499kecil
Rudi Soedjarwo menerima pertanyaan peserta, saat workshop “Filmmaking with no budget” di tengah rangkaian acara Rumah Terindah Film Festival

Pujian dan kritikan berhasil terkumpul dalam ajang festival film ini. Sebut saja film Skenario Tuhan yang diperankan dengan sangat baik oleh 41 karakter yang gress dalam filmnya. Film ini berhasil menjadi daya tarik tersendiri karena menjadi satu-satunya film di Indonesia yang diperankan oleh puluhan karakter dengan memiliki porsi cerita yang sama. Artinya tidak ada figuran dalam film ini.

skenario tuhan poster

Film Bara di Negeri Hujan sendiri mendapat komentar yang tak kalah menarik. Film yang konsep ceritanya berkutat pada persoalan pemerkosaan anak di bawah umur ini mampu menghadirkan performa wajah-wajah baru di dunia film Indonesia. Sama halnya dengan dua film lainnya.

bara di negeri hujan poster

Film yang tak kalah menarik di ajang festival film rumah terindah ini berjudul Helldresser. Film ini sempat dikabarkan tidak lulus sensor oleh lembaga terkait dikarenakan satu dan lain hal. mulai dari ceritanya yang bernuansa kekerasan dan penuh adegan darah. Namun, Helldresser memiliki daya tariknya sendiri. Sehingga, melalui komunikasi yang baik, film ini berhasil ditayangkan di festival. Menurut Rudi Soedjarwo, hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk putus asa, karena berarti film yang kita produksi tidak dipandang sebelah mata oleh para profesional.

helldresser poster

Pusdiklat Rumah Terindah memang baru pertama kali membuat ajang film seperti ini. Namun, festival ini bisa bersaing dengan festival lainnya jika dilihat dari perolehan jumlah penonton yang berhasil terkumpul dan antusiasme publik yang hadir ke acara ini, hanya dalam waktu tiga hari.

Rudi Soedjarwo dan panitia Rumah Terindah Film Festival saat pembukaan acara
Rudi Soedjarwo dan panitia Rumah Terindah Film Festival saat pembukaan acara

Rencana selanjutnya, Rumah Terindah yang diprakarsai oleh Rudi Soedjarwo belum akan berhenti untuk terus menayangkan film-film yang diproduksi. Tentunya dengan konsep, kemampuan dan performa yang jauh lebih baik. Rudi Soedjarwo berhasil membuktikan bahwa semua anak didiknya bisa ikut bersaing di industri film nasional melalui tiga film tersebut.

Kita tunggu festival film Rumah Terindah berikutnya, BRAVO!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY