Sagarmatha: Head of The Sky

Sagarmatha: Head of The Sky

1296
SHARE

Oleh: Novita Rini

Sagarmatha, yang dalam  bahasa sansekerta berarti “Dahi Langit” merupakan sebuah film yang ber-genre road movie. Dari poster dan sinopsis film ini, menggambarkan tentang pegunungan dan persahabatan. Yang terbayang oleh saya, film ini mungkin akan semenarik film 5CM yang mengangkat tema yang sama, yaitu Gunung dan Sahabat. Bahkan dalam pemikiran saya, film ini akan jauh lebih menarik karena bertempat di Pegunungan Himalaya yang notabene lebih tinggi dari Gunung Semeru-nya 5 CM.

Film yang menceritakan tentang Shila (Nadine Chandrawinata) dan Kirana (Ranggani Puspandya), dua sahabat yang memiliki impian untuk bisa menaklukkan Puncak tertinggi dari Pegunungan Himalaya, yang dalam bahasa Nepal disebut Sagarmatha. Mereka bersahabat sejak masa kuliah. Meski sama-sama tergabung dalam organisasi Pecinta Alam, namun keduanya memiliki minat yang berbeda. Shila yang lebih tertarik untuk menulis, sedangkan Kirana lebih asyik bersama dunia fotografinya. Keduanya pun melakukan perjalanan menuju Nepal untuk mewujudkan impian mereka mendaki Puncak tertinggi di dunia.

Dalam perjalanan tersebut banyak kendala yang harus mereka hadapi, dan dalam perjalanan itu pula terungkap perbedaan cara mereka memandang hidup ini. Hingga kemudian perpisahanlah yang mereka pilih, keduanya memutuskan untuk berjalan masing-masing dengan keyakinan bahwa manusia pada akhirnya semua akan sendirian.

Pemilihan judul film ini rasanya sudah tepat jika dikaitkan dengan ide dari film ini. Sagarmatha atau Head of the Sky, merupakan perlambang tingginya mimpi dan cita-cita yang ingin diraih oleh dua gadis yang bersahabat dalam film yang berdurasi 98 menit ini.

Dalam memproduksi film ini, sang sutradara (Emil Heradi)  ternyata hanya menggunakan satu buah kamera type DSLR 5D. Tanpa lighting, boomer dan murni hanya 1 kamera untuk keseluruhan pengambilan gambar. Sehingga bisa dimaklumi jika di beberapa scene ada beberapa gambar yang kurang fokus, guncang dan suram. Tapi ternyata dengan keterbatasan tersebut juga bisa menghasilkan beberapa view yang indah dari pegunungan Himalaya, sehingga menampilkan sinematografis yang mampu memuaskan mata penonton untuk ikut bertualang dalam perjalanan dua sahabat tersebut.

Namun sayangnya, sinematografis yang indah tersebut tak didukung dengan skenario yang menarik, yang mampu mengajak penontonnya untuk tak hanya memuaskan mata dengan pemandangan indah, namun juga bisa membuat penonton tak merasa bosan dengan alur cerita di dalamnya. Konsep dan ide cerita yang menarik ternyata kurang bisa digarap dengan baik oleh penulis skenario dan sutradara film Sagarmatha ini. Perpindahan alur maju  mundur yang meloncat tak terarah, memberi kebingungan pada penonton. Misal di satu adegan saat Shila dan Kirana berada di stasiun kereta dan tiba-tiba mendadak proses adegan berlangsung mundur. Kemudian saat Shila dan Kirana mendadak ada di gunung yang berada di Indonesia, padahal sebelumnya adegan mereka sedang mendaki menyusuri pegunungan Himalaya, apalagi adegan tersebut mengalami pengulangan berulangkali.  Mungkin maksud si pembuat cerita ingin mengajak penonton berpikir kemana arah petualangan ini akan berakhir, namun karena penggarapan yang kurang baik serta adanya beberapa scene yang rasa-rasanyanya tak perlu ada, membuat penonton merasa bosan menyaksikan film ini. Ditambah akting dari dua tokoh utama film ini pun terasa begitu hambar tanpa greget.

Meski view yang disajikan menarik, namun jika tak didukung dengan alur cerita yang menarik, rasanya tak salah jika penonton terus menerus melirik jam untuk menantikan film ini cepat usai. Andai scene yang tak perlu, semisal adegan memotret obyek-obyek tak penting berulang kali yang dilakukan Kirana dan adegan wawancara dengan beberapa turis diganti dengan menambahkan pendalaman cerita petualangan atau konflik, misalnya salah satu tokoh mengalami hypothermia saat melakukan pendakian di pegunungan Himalaya dan bagaimana cara mereka mengatasinya. Atau bisa juga diganti dengan menjelaskan konflik-konflik pribadi yang dialami masing-masing tokoh dengan keluarga atau pasangan mereka, yang mungkin bisa membuat penonton tidak merasa jenuh mengikuti loncatan kisah yang garing.

Namun, dengan segala kekurangan yang ada di film ini, patut diacungi jempol untuk semangat Indie dari film ini. Begitupun untuk D.O.P. nya, tak mudah untuk bisa mendapatkan beberapa view indah dengan keterbatasan alat. Semoga lain waktu, bisa tercipta Road Movie yang menarik secara keseluruhan, alur cerita hingga gambar yang disajikan. Dukung terus film karya anak bangsa dengan menjadi penonton yang makin cerdas memilih tontonan yang tak hanya menghibur, namun juga memiliki nilai kehidupan di film tersebut.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY