Sebelum Iblis Menjemput: Seperti The Raid di Genre Aksi, Horor Tancap Gas...

Sebelum Iblis Menjemput: Seperti The Raid di Genre Aksi, Horor Tancap Gas dan Tanpa Ampun

15
SHARE

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT

Sutradara: Timo Tjahjanto

Produksi: Sky Media, Legacy Pictures, 2018

Kita mungkin tengah berada di trend terbesar genre horor dalam sejarah film Indonesia melebihi periode-periode sebelumnya. Tapi jelas belum lagi bisa dibilang golden era, karena mengurut produk yang layak dalam ledakan trend-nya meskipun rata-rata laku, yang benar-benar baik – tentu dalam konteks genrenya, hanya segelintir. Selagi Pengabdi Setan-nya Joko Anwar yang melontarkan animo itu ke kecenderungan aji mumpung PH-PH kita dan dibayangi beberapa judul yang cukup baik termasuk Kafir: Bersekutu dengan Setan namun belum bisa menandinginya, Sebelum Iblis Menjemput dari Timo Tjahjanto ini ada di level berbeda, dan ini agaknya adalah sebuah kecermatan sisi pandang dan pendekatan.

Sebagai sineas gen-x dengan bandrol genre-afficionado, yang memang secara mutlak paling diperlukan guna terciptanya sebuah produk baik di genrenya, Timo memang punya trademark dan signature jelas walau tak selalu berhasil di film-film sebelumnya. Sempat merambah action juga di Headshot, psycho-thriller di Killers setelah debut layar lebar versi panjang Rumah Dara yang bermain di ranah slasher, tanpa lupa menyebut dua segmen di omnibus internasional; L for Libido di The ABCs of Death serta kolaborasi bersama Gareth Evans di Safe Haven dari V/H/S 2, kita tahu bahwa ia, yang kini lepas dari Kimo Stamboel dalam duo Mo Brothers, memang punya distinct madness di ranah simbah-menyimbah darah.

Dari jauh-jauh hari, Sebelum Iblis Menjemput yang menjual dua diva film Indonesia, Pevita Pearce dan Chelsea Islan keluar dari zona nyaman mereka ke genre horor memang sudah mengundang perhatian. Tapi yang lebih krusial adalah menantikan seperti apa Timo memainkan kegilaannya di sentuhan supranatural yang lebih kental tanpa sepenuhnya mengandalkan blood splatter elements di tengah kekhawatiran pendekatan celah-celah plot yang saling menyenggol teritorial serupa di film-film horor lokal kita belakangan. Juga menjadi produk pertama Sky Media bikinan Screenplay Productions atas policy rumah besar mereka Emtek yang tak memungkinkannya memproduksi film horor – kabarnya, bersama Abimana Aryasatya yang duduk sebagai co-producer dan Robert Ronny dari Legacy Pictures sebagai kolaborator Screenplay biasanya, kita tahu ini bukan ada di kelas produksi sembarangan. Lagi-lagi; cukupkah itu untuk sebuah fondasi ekspektasi? Let’s see.

Sebelum Iblis Menjemput pun dimulai dengan sebuah introduksi soal Lesmana (Ray Sahetapy) sebelum berpindah dengan cepat ke empat anak yang berinteraksi dalam lingkungan disfungsional kala Lesmana yang kini bangkrut jatuh tak sadar dengan kondisi ruam kulit mengerikan di ruang rawatan RS. Alfie (Chelsea Islan), anaknya dari almarhum istri pertama (Kinaryosih) yang bersikap temperamental karena merasa tersisihkan, Maya (Pevita Pearce) dan Ruben (Samo Rafael) yang dibawa istri keduanya, mantan aktris Laksmi (Karina Suwandi) serta Nara (Hadijah Shahab), putri kecilnya bersama Laksmi. Keadaan ini lantas membawa mereka ke sebuah villa tua di tengah hutan sebagai satu-satunya jalan keluar dari kebangkrutan, di mana konflik antar keluarga ini semakin meruncing selagi rahasia masa lalu Lesmana mulai terungkap satu-persatu, menempatkan semua dalam sebuah bahaya level neraka. Bam!

Tak ada yang spesial mungkin dari skrip dan komposisi karakter yang ditulis sendiri oleh Timo walaupun kalau mau diulik sebenarnya bermain cukup berbeda di elemen interaksi karakter remaja dari produk keluarga disfungsional di balik fondasi kuat dalam detil-detil bangunan karakter (perhatikan introduksi karakter Alfie di bagian awal) serta elemen mistis pesugihan yang akrab namun bukan lagi sesuatu yang baru. Tapi yang membuatnya spesial adalah cara Timo merangkai koneksi-koneksinya lewat rangkaian yang sangat terasa dipenuhi referensi campur aduk oleh seorang geeky fanboy terhadap film-film favoritnya di genre horor dari klasik hingga gorefests.

Ada Sam Raimi’s Evil Dead berikut rendisi gila versi Fede Alvarez di sana, Lucio Fulci, George A. Romero hingga pengikut-pengikut mereka bahkan insipirasi dari horor-horor kontemporer A24 macam Hereditary atau The VVitch bercampur-baur nyaris seenaknya antara setan, cult creature a la Baphomet sampai zombie, eksplisit vs atmosferik, tapi bisa berpadu bagaikan sebuah wahana mengerikan lewat editing Teguh Raharjo yang berfungsi dalam pengaturan pacing mengarungi 110 menit rasa neraka dengan potensi sangat reaksional dari pemirsanya. Layaknya seorang genre master yang tengah bersenang-senang dengan mainan dan amunisinya, Timo membawa Sebelum Iblis Menjemput ke taraf yang belum pernah dimiliki film horor lokal kita. Persis seperti apa yang dilakukan Gareth Evans ke genre action lewat The Raid, demi semua yang diinginkan penonton kala datang ke gedung bioskop atau theme park untuk merasakan teror tanpa henti di sebuah film/wahana horor.

Timo bahkan tak segan-segan berkali-kali bermain di close up shots dari DoP Batara Goempar (Posesif) terhadap penampakan satanic creatures yang tergarap luar biasa baik lewat tata rias Novi Hariyanti berikut efek khusus lainnya, kadang sampai nyaris mengeksplor body horror dan fluid splatter bertaraf ‘sakit’ melebihi porsi jumpscares di rata-rata horor kita yang eksposur berlebihannya seringkali dilakukan secara tak tepat guna. Sementara atmosfer dari sinematografi Batara serta tata artistik Antonius Boedy tetap dengan solid menekankan feel creepy-nya di tengah tata suara Hiroyuki Izhizaka dan musik Fajar Yuskemal yang memadukan denting piano dan synth scoring a la Tubular Bells-nya Mike Oldfield plus satu theme song – juga bernuansa vintage, Hampa yang dibawakan Arti Dewi. Lebih gila lagi, ia tak main-main menyeret semua cast-nya melakukan kegilaan tak terbayangkan.

Dari Ray Sahetapy dalam salah satu penampilan terbaik yang akhirnya bisa melepaskan gaya suave-nya belakangan ini, Kinaryosih, Ruth Marini yang bakal tampil sebagai Sinto Gendeng di Wiro Sableng serta tiga pentolan terdepannya; Pevita – Chelsea dan Karina tanpa pernah terpikirkan sampai mau diacak-acak sedemikian rupa menanggalkan fisik menawan mereka aslinya. Merangkak, ngesot, terlempar, berkubang di lumpur kuburan bahkan, geez, breaking or tearing off limbs, semua digelar Timo secara no-holds-barred, tanpa restriksi apapun. Di luar uji fisik habis-habisan itu, Pevita, Chelsea dan Karina memang benar-benar terbukti bisa keluar dari zona nyaman akting mereka, namun tetap tampil dengan emosi yang kuat. Selagi Karina tampil luar biasa buas, Pevita meng-handle pergantian mood karakternya dengan bagus, Chelsea bahkan membuktikan ia bisa menjadi protagonis bad-ass di genre horor bak Alison Lohman di Drag Me to Hell. Dan bukan pula sama sekali tak punya heart, tetap ada selipan-selipan interaksi yang mengarah ke sana lewat referensi-referensi yang ada.

Lagi, dengan kerja padu departemen cast dan teknis se-gemilang ini hampir di semua sisinya, apa yang dilakukan Timo memang persisi seperti apa yang dilakukan The Raid ke genre action dan belum pernah kita saksikan di horor-horor lokal kita dari dulu hingga sekarang. Selagi pencapaian Joko Anwar di Pengabdi Setan bukanlah sesuatu yang gampang ditandingi dalam ranah horor atmosferik yang juga kental referensi, pilihan Timo di Sebelum Iblis Menjemput menyajikan sebuah rollercoaster of fear adalah pendekatan tepat dalam kelas berbeda namun jelas ada di level seimbang. Seperti tengah membuat perjanjian dengan setan, ini sebuah pengalaman sinematis sangat berbeda di genrenya yang sayangnya belum lagi bisa dinikmati dengan motion gimmicks dalam teknologi sinema yang kita miliki sekarang. Horor tancap gas dan tanpa ampun. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY