Sebelum Pagi Terulang Kembali: Gambaran Idealisme Antiklimaks

Sebelum Pagi Terulang Kembali: Gambaran Idealisme Antiklimaks

1798
SHARE

Oleh: Reiza Patters

Satu lagi film Indonesia sarat pesan dan bobot edukasi yang baik, tayang di bioskop Mei 2014 yang lalu. Film yang berisikan pesan dan gambaran tentang sebuah keluarga sederhana dengan kepala keluarga seorang pejabat pemerintah yang lurus dan tidak mengenal suap dan didampingi oleh seorang istri yang berprofesi sebagai dosen filsafat yang juga sangat idealis dan mencintai pekerjaannya mengajar. Anak-anak mereka yang sudah dewasa, yang memiliki karakter yang berbeda-beda dan persoalan hidup yang berbeda-beda pula.

Sebelum Pagi Terulang Kembali menceritakan tentang Yan (Alex Komang) seorang pejabat pemerintah yang lurus, telah menikah dengan Ratna (Nungki Kusumastuti), seorang dosen filsafat. Kehidupan mereka diwarnai dengan kondisi ketiga anak mereka yang berbeda-beda: Firman (Teuku Rifnu Wikana), anak tertua, baru saja bercerai dengan istrinya dan masih menganggur. Satria (Fauzi Baadila), anak kedua, adalah kontraktor dengan ambisi besar untuk bisnisnya. Dian (Adinia Wirasti), anak terakhir, baru saja bertunangan dengan Hasan (Ibnu Jamil), anggota DPR yang haus kekuasaan. Kehidupan mereka mulai terguncang saat Satria dibujuk Hasan untuk meminta “jatah” proyek pembangunan pelabuhan dari ayahnya. Proyek tersebut berhasil dimenangkan Satria, yang harus dibayar dengan jatuhnya reputasi Yan sebagai pejabat yang lurus, dan ambruknya ibu Yan, nenek Soen (Maria Oentoe) di rumah sakit. Keluarga ini harus tertatih-tatih membangun kembali keutuhan dan kedekatan mereka di saat uang dan kekuasaan mulai menggerogoti kehidupan mereka dan harus dibayar dengan ditangkapnya Firman dan Satria oleh aparat hukum karena menyuap birokrasi.

Film yang disutradari oleh Lasja Susatyo ini memberikan gambaran tentang sebuah konflik drama keluarga yang terkait dengan perilaku kontradiktif, antara kejujuran dan korupsi. Dalam film ini juga bisa ditemukan sebuah gambaran tentang bagaimana orang tua yang idealis dengan profesi dan memiliki integritas tinggi, justru terlihat gagal dalam menularkan idealisme tersebut kepada anak-anaknya. Idealisme yang disimpan sendiri, dan orang tua yang seolah takut untuk memaksakan nilai-nilai baik tersebut kepada anak-anaknya. Terlihat agak lucu di saat sang Ibu dan ayah yang berintegritas dan idealis itu bingung dan saling menyuruh untuk mengatakan dan memberitahukan kebenaran kepada anak-anaknya yang justru sudah dewasa.

Film ini juga memberikan gambaran sebuah tipe keluarga yang sangat demokratis dan terbuka, akan pilihan hidup dan nilai-nilai. Ini bisa terlihat dari banyak adegan yang menceritakan tentang itu, khususnya di saat Firman merayu dan menggoda Nisa, istri Jaka supir ayahnya, yang juga bekerja untuk keluarga itu. Rayuan dan godaan Firman terlihat digambarkan sangat vulgar dan anehnya digambarkan langsung di depan anggota keluarga yang lain, tanpa malu-malu dan perilaku permisif ditunjukkan dalam adegan-adegan tersebut. Walau ada keberatan, namun tidak ada yang berani untuk mengatakan keberatannya tersebut. Agak absurd memang, namun entah ini merupakan sebuah kritik atas situasi yang dirasa perlu atau memang kemalasan untuk memikirkan detil adegan.

Lalu, ada juga gambaran kritis tentang perilaku anggota legislatif yang sudah menikah namun menikah lagi dengan perempuan lain. Namun eksekusi detil plot ceritanya agak absurd, Hasan akan menikahi istri kedua dengan megadakan pesta dan menyebar 2000 undangan kepada publik, sedangkan keluarga istri kedua tidak mengetahui fakta bahwa Hasan sudah memiliki istri dan anak dari pernikahan pertamanya.

Gambaran kritisnya bukan hanya tentang itu saja, namun juga tentang gaya hidup gemerlap anggora legislatif, proses pengaturan proyek-proyek pembangunan dan penyuapan birokrasi. Yang menarik, ada adegan di akhir-akhir yang memberikan gambaran tentang bagaimana istri pertama Hasan yang memprotes perilaku Hasan dan mengatakan bahwa dia dan keluarganya sudah “habis banyak” untuk menjadikan Hasan menjadi anggota legislatif. Adegan singkat yang sebetulnya memiliki makna sangat dalam, entah ini juga hasil riset atas fakta atau asumsi fiksi, namun cukup menarik perhatian.

Alur penceritaan film ini dari awal memberikan alur drama yang cukup baik hingga akhir. Namun memang sangat terasa anti klimaks di bagian penceritaan akhir. Cerita terasa sangat terburu-buru ditutup dengan Firman yang tertangkap sebagai kurir pengantar uang suap, satria yang sempat membakar semua dokumen proyek yang dia miliki sebelum akhirnya tertangkap, anggota DPR (Joko Anwar) yang juga ditangkap KPK, Hasan yang melarikan diri, seolah ingin memberikan penyimpulan atas cerita drama yang agak panjang di awal. Ini terasa anti klimaks dan seolah kehabisan ide untuk memberikan gambaran lebih detil tentang bagaimana keluarga itu mengahadapi krisis situasi tersebut.

Dalam hal penyuntingan adegan, yang menarik perhatian adalah adanya pengulangan adegan di bagian akhir film, yaitu adegan si nenek yang terlihat dari belakang sebelum dia akhirnya diceritakan meninggal, dengan mata kalung yang berada di belakang berbentuk salib. Entah apa maksudnya pengulangan adegan tersebut, namun sebetulnya tidak perlu. Seolah ingin ada penegasan bahwa keluarga tersebut adalah keluarga terbuka dan kemungkinan memeluk agama yang berbeda. Hal ini terlihat dari pengulangan adegan itu dan di saat adegan menerima tamu-tamu yang hadir menyatakan belasungkawa, di mana Yan mengenakan kemeja putih dan peci, Dian mengenakan selendang. Entah apakah ini maksudnya atau bukan, namun pengulagan adegan itu adalah sebuah bentuk penegasan yang tidak perlu.

Terlepas dari semua itu, film ini tetap memiliki pesan kuat tentang gambaran sebuah keluarga intelektual, orang tua yang memiliki integritas dan idealisme atas profesi dan nilai yang yakini, namun digambarkan gagal menularkan hal tersebut pada keluarganya (kecuali Dian, sebagai anak terkecil). Penggambaran tentang hancurnya sebuah keluarga atas perilaku korupsi tidak terlalu nampak di sini, karena sejak awal digambarkan bahwa keluarga ini terbiasa dengan hidupnya masing-masing, dengan penggambaran interaksi sosial di dalam keluarga ini yang sangat kurang. Namun usaha menggambarkan perilaku dan motif tentang korupsi, bisa diacungi jempol karena sepertinya supervisi KPK memang mamu berikan gambaran yang detil. Namun begitu, kesan saya setelah menonton adalah film ini secara keseluruhan merupakan gambaran tentang idealisme yang anti klimaks.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY