“Sembojan”, Jejak Kegundahan Tigapagi Yang Berlanjut

“Sembojan”, Jejak Kegundahan Tigapagi Yang Berlanjut

1077
SHARE

Oleh: Ida Ayu Made Paramita Sarasvati

Garpu dan pisau berbahan emas murni, berdenting ramai. Uap dan aroma asam anggur, merebak ke seluruh ruangan berkerai beludru. Nyanyian suka-cita pada pesta dan jamuan makan malam yang dihadiri oleh The Royal Society pada era 1660-an, menjadi simbol atas perayaan kemajuan sains modern. Di sinilah awal benda-benda inovatif dan teknologi hasil penemuan dari eksperimen berbasis empiris dipertunjukkan. Perayaan ini menuai buaian dan pujaan dengan caranya yang begitu aristokratis. Kaum-kaum eksperimental kelas atas yang memproduksi fakta dan menguji keabsahan suatu ilmu pengetahuan, seakan ‘memagari’ sebuah peran penting pada tatanan masyarakat.

Lagi-lagi terlintas kekhawatiran Marx dalam renungannya di siang bolong, bahwa hal-hal saintifik adalah produk kaum borjuis yang susah dicerna oleh kaum proletariat. Proses eksperimen telah di-coup-d’etat oleh sains yang hanya bisa diulik oleh kaum ‘berada’. Lalu bagaimana hak eksperimental dalam seni, sahabat karibnya sendiri? Istilah ‘adikarya’ dibaptis sebagai wujud ketuk palu untuk mengadili hal itu.

Melirik sedikit apa yang tertera dalam pemikiran realisme sosialis, antara karya seni dan kenyataan sebenarnya memiliki hubungan yang dialektis. Dari satu pihak, kenyataan tercermin dalam karya seni, sehingga karya seni dianggap dapat menyajikan suatu tafsiran yang tepat mengenai hubungan-hubungan kausal, khususnya yang terdapat di dalam masyarakat.
Rupanya hal ini tak lekang ingin kelompok musik Tigapagi coba terus luruskan. Dalam hal ini, mereka hampir tidak sampai hati membiarkan karya seni, khususnya musik, lantas diklaim sebagai bentuk tidak sempurna dari ilmu pengetahuan yang fungsinya terhenti pada sebatas hiburan semata tanpa menggubris sifat ke-adikaryaan-nya. Hal tersebut kemudian makin disadari oleh mereka melalui gejala-gejala permintaan pasar yang dewasa ini kian mengalami stagnansi.

Sejak keluncuran album pertama, Roekmana’s Repertoire, kematangan dan keseriusan trio ini dalam menggarap materi memang patut diapresiasi. Pembenihan proses eksperimental mulai dilakukan, terbukti dari kepiawaian mereka mengasosiasikan pola-pola fraktal dalam rangkaian model permainan gitar pentatonis khas Pasundan ke dalam ranah yang lebih kontemporer. Adapun keproaktifan petikan gitar yang cenderung impulsif, dapat setidaknya melindungi para pendengar dari gagasan-gagasan lagu yang sebenarnya pilu dan bernuansa kelam.

Namun bukan perkara mudah ketika upaya eksperimen ini harus dilanjutkan demi mengutarakan lebih dari sekadar nuansa dan gagasan, namun juga kenyataan. Pasca genap dua tahun berhasil ‘mempermainkan’ mimesis publik melalui hikayat sang Roekmana,  lantas seperti tidak kapok telah menjebak ego massal ke dalam lanskap merahnya dan bermukim di sana, kali ini Tigapagi tak sama sekali beritikad menyelamatkan kita dari marabahaya tersebut.

Melalui sebuah Entitas Pendek (EP) bertajuk “Sembojan,” Tigapagi malah semakin nyata dalam mengkritisi keadaan dengan menanamkan proses eksperimen garapan yang jauh lebih empiris demi keberlanjutan faedah karya. Secara garis besar EP bertajuk “Sembojan” ini merepresentasikan isu fundamental kemasyarakatan yakni kekuatan hidup bersama. Dalam durasi  10 menit 1 detik, pendengar jangan sama sekali berharap akan ditimang-timang melalui proporsi-proporsi syahdu serta kalimat-kalimat yang hanya menjanjikan jagat keremangan. Untuk menghindari gagalnya pemaknaan dan penyampaian maksud, kian terlihat kegamblangan mereka dalam meramu kait-demi-kait liriknya dengan gaya bahasa yang lebih realis.

Eko Sakti Oktavianto (Guitar, bass), Prima Dian Febrianto (Guitar), Sigit Agung Pramudita (Guitar, voice/humming).
Eko Sakti Oktavianto (Guitar, bass), Prima Dian Febrianto (Guitar), Sigit Agung Pramudita (Guitar, voice/humming).

Adapun formulasi tiga buah gitar akustik, vokal dan trio alat gesek yang semakin matang ditekuni oleh Eko Sakti, Prima Dian, Sigit Pramudita, dibantu oleh, Muhammad Rizki Nurhuda, Achmad Kurnia, dan Aji Bhakti Nugraha, menuju penjelajahan harmoni yang lebih dalam pasca Roekmana’s Repertoire. Secara teknis materi EP ini ‘dibidani’ oleh Tesla Manaf dalam proses kelahirannya, serta ‘dibajui’ secara visual oleh seorang komikus berbakat, Evans Poton.

Masih mengusung konsep ketersambungan antar lagu, Entitas Pendek ini terbagi ke dalam tiga sub-bagian lagu (step/movement).  Pada menit awal (00:00) sampai menit ke tiga lewat dua puluh detik (03:20), pendengar akan dibawa langsung tenggelam dalam gubahan instrumental yang profan. Dalam Sembojan Bagian 1 ini, perkawinan gitar dan sayat-sayat strings section sukses menjadi mukadimah untuk merayakan ego pendengar yang mulai masuk ke dalam ruang tegangan antara penghayatan dan pemikiran.

Pada menit berikutnya sampai menit ke enam lewat dua puluh tiga detik (06:23), vokal Sigit Pramudita mulai berkumandang melantunkan Sembojan Bagian 2.  Terdengar sangat jelas syair demi syairnya mencolok khas kesusastraan angkatan ’45 yang sarat dengan unsur-unsur pembelaan kaum. Liriknya yang begitu eskapis kurang lebih berhasil mengantarkan kita pada identifikasi-identifikasi yang sebagian besar isunya adalah kemanusiaan.

Pada rentang menit selanjutnya sampai pada menit terakhir (10:01), nuansa sukacita namun kelam makin tajam tercipta. Dalam keseluruhan rangkaian lagu dalam EP ini, Sembojan Bagian 3 berperan dalam mempertegas maksud dan tujuan dari gagasan utama. Alur semangat serta lirik-lirik yang tak lepas dari upaya penggalangan kekuatan, kebersatuan dan kebersamaan yang patriotik juga semakin kental pada bagian ini. Upaya teliti mendengar serta penyimakan makna yang lebih dalam sangat dibutuhkan dalam melahap habis fragmen-demi-fragmennya.

Dengan dilepaskannya Entitas Pendek (EP) bertajuk “Sembojan” ini, diharapkan dapat mulai tumbuh pemahaman yang lebih responsif terhadap musik sebagai sarana penyambung lidah rakyat lebih dari sekadar konsep hiburan saja. Kebersikukuhan Tigapagi yang sama sekali jauh dari maksud jumawa, bisa jadi sebuah kultur-kritik demi berkembangnya daya apresiasi dan rasionalisasi terhadap musik dan karya seni lainnya.

Seperti yang dapat dinukil dari Cala Ibi, “Jika semua adalah metafora, bagaimana dengan yang nyata, yang tengah kau rasa?” (Cala Ibi, 169), sehingga janganlah sampai  si “Sembojan” ini hanya sekedar menjadi teriakan cita-cita muluk tanpa membangkitkan kesadaran pendengar (masyarakat) akan tanggung jawabnya sebagai manusia untuk keadilan sosial dan keseimbangan tatanan. Akhir kata namun belum akhir cerita, semoga EP ini dapat senantiasa menjadi himne yang dapat menciptakan gagasan dan makna, bukan untuk sekedar menampilkannya, melainkan untuk menangguhkannya. Karena rasa haus itu nyata, maka haus itu ingin minum. Haus itu bukan dahaga yang merindukan segara.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY