Sokola Rimba: Ilmu dan Amalnya

Sokola Rimba: Ilmu dan Amalnya

1744
SHARE

Oleh: Suluh Pamuji

Ada dua sasaran empuk untuk mengkritik genre biopik kita. Pertama, ia yang memfokuskan diri pada tokoh utama, namun terperosok pada heroisme yang tanpa cacat. Kedua, ia yang coba menempuh jalan lain untuk mengkonstruksi tokoh utama, namun malah obskur dan acak-kadul. Yang pertama kita bisa tempatkan Sang Pencerah. Atau biopik tentang Ahmad Dahlan yang konstruksi ketokohannya seolah serba benar dan baik. Yang kedua kita bisa tempatkan Soegija. Atau biopik yang mencoba membangun karakter dan gagasan Soegijapranata melalui tokoh dan peristiwa di sekelilingnya. Dalam ukuran tertentu, Soegija adalah percobaan yang menarik, namun belum bisa dikatakan berhasil.

Diantara dua kecenderungan itu Sokola Rimba—selanjutnya disingkat Sokola—cenderung memilih yang pertama. Namun menariknya, Sokola berhasil mengantisipasi jebakan heroisme tokoh utama: Butet Manurung. Tokoh ini diperankan dengan baik oleh Prisia Nasution. Sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, Riri Riza memilih jalur yang lebih sederhana. Alur narasi Sokola lurus-lurus saja. Riri tak rungsing memikirkan biopik dengan bentuk sinematik yang neko-neko. Ia cukup menempatkan sosok Butet sebagai manusia biasa. Bukan hero—untuk orang rimba dan masalah-masalah rimba—yang setara Rambo—yang mampu mengatasi para pembalak, devoleper dan LSM yang keblinger seorang diri.

Gagasan Butet yang memiliki signifikasi tertentu juga berhasil digarisbawahi. Plus, pemetaan relasi Butet dengan orang rimba, dengan tempatnya bekerja dls. Alhasil, Sokola menjadi biopik sederhana dengan amal dan drama yang tidak hiperbola. Sokola diangkat dari buku harian Butet Manurung dengan judul sama: Sokola Rimba. Memoir tersebut berisi catatan aktivitas Butet selama mengajar di sungai Makekal, hutan bukit Duabelas, Jambi. Aktivitasnya terbilang sederhana. Bersama beberapa kawannya, Butet mengajar membaca, menulis dan berhitung dengan sasaran didik anak-anak rimba dari masyarakat Suku Anak Dalam.

Film Sokola dibuka dengan pertanyaan: apa arti kekayaan hutan bagi orang di dalamnya—orang rimba? Pertanyaan itu terlontar dari benak Butet sebagai aktivis LSM konservasi bernama Wanaraya. Di lembaga itu, ia bekerja selama hampir tiga tahun. Yang berarti hampir tiga tahun pula ia menjadi Ibu guru bagi anak-anak rimba di hulu sungai Makekal. Hingga suatu ketika Butet jatuh pingsan di tengah hutan, karena terserang demam malaria. Untung saja, seorang anak rimba dari hilir sungai Makekal bernama Nyungsang Bungo segera menyelamatkannya. Di sinilah awalan cerita telah jelas dipaparkan. Bungo yang telah lama memperhatikan Ibu guru Butet mengajar itu rupanya ingin sekali ikut belajar. Bungo ingin bisa membaca. Khususnya, ia ingin bisa membaca surat perjanjian yang telah disetujui ketua sukunya.

Pada adegan tertentu, Bungo coba menunjukan surat itu pada Butet. Butet terperangah setelah membaca isinya. Surat itu berisi izin untuk mengeksploitasi ruang hidup Bungo beserta kelompok sukunya. Di sinilah konflik cerita mulai terbentang. Pertama, keinginan Butet untuk memperluas wilayah kerja hingga ke daerah hilir—tempat Bungo dan kelompok sukunya bermukim—yang kemudian ditolak oleh atasannya: Bahar (diperankan Rukman Rosadi). Kedua, kegigihan Butet untuk tetap mengajar sampai di daerah hilir yang kemudian juga ditentang oleh beberapa anggota suku karena dipercaya akan mengundang malapetaka. Narasi Sokola selebihnya berkontraksi diantara dua pertentangan itu. Butet yang akhirnya keluar dari Wanaraya pasca bertengkar hebat dengan Bahar di satu sisi. Kemudian di sisi lain, Bungo yang secara sembunyi-sembunyi tetap ikut belajar dan akhirnya bisa membaca. Detail-detail di antaranya selanjutnya menarik untuk dicatat.

Salah satunya adalah siasat sinematik yang mencuri perhatian saya . Yakni, ketika Riri mengintegrasikan animasi untuk adegan Bungo yang bercerita tentang ritual pengambilan madu. Lengkap dengan tata cara dan mitos-mitos yang menyertainya. Di situ Riri berhasil menghadirkan yang magis tanpa mengaduknya dengan yang realistis. Siasat ini mengamankan fokus cerita. Animasi tersebut adalah intermezo yang tak sembarangan. Kemudian kredit yang lebih umum untuk Sokola adalah perlawanannya atas perspektif aktivisme yang hierakis. Yang menempatkan orang rimba bukan sebagai objek mati. Alias sasaran program LSM yang menisbikan kebutuhan dari orang rimba itu sendiri. Sokola melawan perspektif itu dengan perspektif yang lebih emansipatif. Ia memulai dari pengenalan ojektif atas kebutuhan orang rimba di tengah eksploitasi alam yang merasuki ruang hidupnya.

Namun, nama Butet Manurung rupanya tak sepopuler Butet Kertaradjasa. Ia hanya populer dikalangan terbatas. Misalnya, aktivis pendidikan, lingkungan, pembaca memoir-nya dan sisanya: orang-orang yang sekedar dengar nama dan kiprahnya dari orang lain. Misalnya, seperti saya ini. Ketika itu, sambil menunggu film diputar, saya iseng menghitung jumlah penonton: tak sampai 20, mungkin 18. Itu sudah termasuk saya. Jumlah tersebut tentu saja tidak membahagiakan. Padahal ilmu yang terpancar dari Sokola perlu disebarluaskan dan ditempatkan sebagai kritik atas sistem pendidikan, pembangunan, perspektif lembaga swadaya dan gerakan. Ini penting. Sebab, perspektif Sokola jauh lebih berdaya ketimbang slogan mengajar yang lebih kemudian: setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. Sebuah slogan dengan spirit instan, dengan pengawet artifisial.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY