Sorotan Khusus Untuk Sutradara Shunji Iwai di Tokyo International Film Festival Ke-29

Sorotan Khusus Untuk Sutradara Shunji Iwai di Tokyo International Film Festival Ke-29

493
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Dalam merepresentasikan perkembangan sinema Jepang, Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) beberapa tahun terakhir menggelar segmen ‘Japan Now’. Tahun ini, dalam sub kategori baru yang mereka namakan ‘Youth Section’, TIFF akan menyorot film yang dengan tema-tema remaja dalam line up-nya. Dan seperti biasanya sebagai highlight, ada satu sutradara yang terpilih untuk menayangkan sejumlah karya-karyanya dalam sub segmen ‘Director in Focus’.

Cuplikan adegan film Bride for Rip Van Winkle, karya Shunji Iwai.
Cuplikan adegan film Bride for Rip Van Winkle, karya Shunji Iwai.

Dibuka oleh President Director TIFF, Yasushi Shiina, dalam konferensi pers yang digelar awal Oktober ini, programming advisor TIFF Kohei Ando mempublikasikan pilihan mereka pada sutradara Shunji Iwai. Ando mengatakan bahwa dalam memilih karya-karya Iwai, yang mereka nilai memiliki style tersendiri yang dikenal publik dan kritikus Jepang dengan sebutan ‘Iwai Aesthetics’, sulit untuk memilih filmografinya yang terbaik, namun begitu, dayatarik internasional merupakan satu faktor yang dijadikan sebagai patokan bersama karya terbarunya ‘A Bride for Rip Van Winkle’.

Salah satu film Shunji Iwai yang paling dikenal secara luas adalah ‘All About Lily Chou-Chou’ yang dibintangi Hayato Ichihara, Shugo Oshinari dan Ayumi Ito. Film yang merupakan adaptasi novel internet karyanya sendiri itu mengisahkan kehidupan dua orang remaja dan kegemaran mereka atas musik band Jepang fiktif awal 2000-an dengan penyanyi bernama Lily Chou-Chou (aslinya merupakan kolaborasi Iwai bersama penyanyi Salyu dan produser Takeshi Kobayashi yang sudah bekerjasama dengannya di ‘Swallowtail Butterfly’). ‘All About Lily Chou-Chou’ juga mencetak prestasi di segmen Panorama – Berlinale tahun 2002 untuk Iwai, berikut menggondol Best Music dan Special Jury Awards dalam Shanghai International Film Festival di tahun yang sama.

tiff16-your-name
Cuplikan film animasi Your Name, karya Makoto Shinkai.

Selain film-film itu, karya Shunji Iwai yang akan ditayangkan di TIFF tahun ini adalah film pendek ‘Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom?’ diikuti oleh ‘Love Letter’ yang merupakan debut feature-nya, berlanjut ke ‘Swallowtall Butterfly’ dan ‘Vampire’. Tampil bersama Iwai, dalam konferensi pers itu juga hadir sutradara-sutradara muda Jepang yang ikut menayangkan karya mereka dalam segmen yang sama, Makoto Shinkai dari ‘Your Name.’ yang banyak mendapat sorotan internasional hingga ke pemirsa anime lokal kita, Kiyoshi Kurosawa yang membawa film terbarunya ‘Daguerrotype’ serta Koji Fukada dengan ‘Harmonium’.

tiff16-shin-godzilla
Cuplikan film Shin Godzilla (Godzilla Resurgence) karya sutradara Hideaki Anno & Shinji Higuchi.

Selain film-film Iwai dalam highlight ‘Director in Focus’, segmen ‘Japan Now’ TIFF ke-29 juga akan diisi oleh penayangan film-film lain dari sutradara muda Jepang yang dianggap mewakili wajah sinema mereka sekarang. Ada ‘Too Young to Die’ (Kankuro Kudo), ‘Your Name.’ (Makoto Shinkai), ‘Daguerrotype’ (Kiyoshi Kurosawa), ‘Her Love Boils Bathwater’ (Ryota Nakano), ‘Night’s Tightrope’ (Yukiko Mishima), ‘Happy Hour *[An]’ (Ryusuke Hamaguchi), ‘Somebody’s Xylophone’ (Yoichi Higashi), ‘Harmonium’ (Koji Fukada), ‘Rage’ (Lee Sang-li), ‘The Projects’ (Junji Sakamoto) dan satu yang juga sangat ditunggu oleh pemirsa kita,  film ke-31 dalam franchise Godzilla sekaligus ke-29 yang diproduksi oleh PH asalnya – Toho Pictures, ‘.

tiff16-shunji-iwai-2
Shunji Iwai (tengah) di TIFF ke- 29.

Berikut adalah sesi Q&A singkat yang dilangsungkan bersama konferensi pers-nya.

Q: Apakah Anda memiliki rencana untuk bekerjasama dengan China?

A: Sebelumnya di beberapa karya saya, saya sudah melakukan co-production dengan rumah produksi China serta ikut berpartisipasi dalam beberapa film mereka sebagai penasehat. Saya merasa bahwa China merupakan pasar industri film yang sangat berkembang belakangan ini, terutama terhadap film-film dengan citarasa arthouse yang mulai bisa diterima oleh kalangan muda mereka.

Q: Apakah juga ada rencana untuk menerobos pasar Rusia?

A: Saya rasa banyak sekali film-film Rusia yang berkualitas. Filmmaker mereka memiliki skala Dostoyevskian dalam film-film dari sineas mudanya. Belum ada rencana sejauh ini, tapi bila saya mendapat kesempatan, saya merasa seperti bisa mengikuti langkah Akira Kurosawa dalam sejarah panjang sinema mereka lewat ‘Dersu Uzala’.

Q: Anda juga memproduksi dan menyutradarai film animasi yang terkenal, ‘Hana dan Alice’ serta sekuelnya. Apakah Anda bakal terus memproduksi film-film animasi?

A: Animasi adalah kegemaran saya secara personal. Pemirsa Eropa yang tahun ini bisa menonton salah satu film animasi saya, ‘The Case of Hana and Alice’ malah menganggap saya sebagai sutradara animasi dan saya tidak keberatan dengan itu. Ada kebahagiaan yang saya rasakan saat membuat film animasi.

Q: Sebagai sutradara dengan film-film yang bervariasi, apakah ada perbedaan yang Anda rasakan saat film Anda ditayangkan di festival atau dirilis reguler secara komersil?

A: Pastinya. Sebagai sutradara, saya selalu menganggap bisa menikmati film saya bersama fans dan kritikus adalah sebuah kesempatan besar. Begitupun, saya sadar akan tendensi berbeda dalam film-film saya sebagai konsumsi festival dan tontonan komersil. Percaya atau tidak, saya merasakan tekanan lebih besar saat film saya dirilis secara komersil, sementara film-film yang ditayangkan di festival selalu membuat saya merasa lebih rileks.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY