Sorotan Spesial Untuk Film Indonesia di Tokyo Film Festival Ke-29

Sorotan Spesial Untuk Film Indonesia di Tokyo Film Festival Ke-29

607
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Setelah melansir berita tentang fokus di segmen spesial Crosscut Asia tahun ini terhadap film Indonesia, Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) pekan lalu mengumumkan line up lengkap dalam edisi ke-3 segmen hasil kerjasama TIFF bersama the Japan Foundation Asia Center. Tahun ini agaknya akan menjadi selebrasi buat film Indonesia dengan keseluruhan 11 film kita yang akan hadir dalam festivalnya.

11 film itu tak sepenuhnya berisi karya-karya independen atau arthouse yang biasanya menjadi pilihan programmer festival sejenis, namun pemilihannya berdasar pada keragaman dalam refleksi Indonesia sebagai negara toleran Islam dengan sineas yang juga datang dari asal yang sangat beragam. Ada nama-nama yang selama ini cukup dikenal dalam skup festival-festival berkelas dunia, namun uniknya, TIFF tak lupa memberikan penghargaan khusus pada Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail.

m_after_the_curfew
Film Lewat Djam Malam hasil restorasi (sumber foto: image.net)

Ditayangkan dalam versi restorasi digital seperti yang dirilis ulang di bioskop-bioskop Indonesia tahun 2012 silam, ‘Lewat Djam Malam’ (After the Curfew) merupakan salah satu film yang mengisi segmen Crosscut Asia yang mereka bandrol dengan sub judul Colorful Indonesia setelah tahun-tahun sebelumnya berfokus ke Thailand dengan judul Thai Fascinating dan Filipina di tahun kemarin dengan judul The Heat of Phillipine Cinema.

‘Lewat Djam Malam’ yang merupakan salah satu pencapaian terbaik Usmar Ismail sekaligus bernilai klasik dalam relevansinya hingga sekarang  akan ditayangkan bersama 10 film lain dari genre dan latarbelakang yang beragam. Dari film layar lebar komersil hingga indie arthouse, sebagiannya akan ditayangkan sebagai Japan Premire hingga World Premiere. Faktor keragaman itu juga diarahkan untuk mengangkat beberapa karya sutradara wanita kita dari nama-nama Nia Dinata, Mouly Surya dan Kamila Andini.

Dari sutradara Teddy Soeriaatmadja akan hadir 3 film dalam ‘Trilogy Keintiman’: ‘Lovely Man’ (2011), yang membuahkan Piala Citra dari FFI 2012 untuk Donny Damara atas transformasinya menjadi waria PSK, serta ‘Something in the Way’ (2013) dan ‘About a Woman’ (2014). Membenturkan eksistensi ke-Islaman karakternya dengan batasan-batasan tabu secara sosial dalam masyarakat kita, tak seperti ‘Lovely Man’, dua judul terakhir tak dirilis sebagai konsumsi bioskop nasional atas potensi kontennya yang kelewat sensitif.

m_lovely_man
                                                  Film My Lovely Man (sumber foto: image.net)

Keunikan lain juga ada dalam hadirnya karya Mouly Surya dari skenario besutan Joko Anwar ‘Fiksi’, yang memenangkan film terbaik FFI 2008. Tak seperti festival lain yang memilih film-film baru atau tak terlalu jauh rentang tahunnya, karya debut layar lebar sutradara Mouly Surya yang dirilis sudah cukup lama – di tahun 2008 ini bukan hanya perlu mendapat sorotan karena menyuarakan feminisme dari tema gelapnya, namun juga prestasi Mouly dalam karya terbarunya, ‘Marlina the Murderer in Four Acts’, yang baru-baru ini dipresentasikan dalam sesi Cinefondation L’Atelier di Cannes Film Festival.

m_fiction
                                                              Film Fiksi. (sumber foto: image.net)

Diversifikasi gender tadi juga hadir bersama nafas karya Usmar Ismail dalam ‘Ini Kisah Tiga Dara’ (Three Sassy Sisters) karya sutradara wanita Nia Dinata. Mengusung liberalisme feminis, film yang dibintangi Shanty Paredes, Tara Basro dan pendatang baru Tatyana Akman plus Titiek Puspa ini merupakan interpretasi ulang dari film aslinya, ‘Tiga Dara’ karya Usmar yang baru dirilis bersama versi restorasinya.

m_three_sassy_sisters
         Film Ini Kisah Tiga Dara, karya Nia Dinata (Sumber foto: Kalyana Shira FIlms/SA Films)

Selain film-film itu masih ada ‘Filosofi Kopi’ karya Angga Dwimas Sasongko yang merupakan adaptasi bebas dari cerpen karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Meletakkan fokus kulturalnya terhadap produk kopi Indonesia yang terkenal, film rilisan tahun 2015 ini juga menampilkan pengenalan terhadap salah satu keunikan Indonesia di atas sebuah kisah persahabatan dua orang pengusaha gerai kopi.

Film Filosofi Kopi karya Angga Dwimas Sasongko (sumber foto: image.net)
                        Film Filosofi Kopi karya Angga Dwimas Sasongko (sumber foto: image.net)

Kemudian ada kultur unik Makassar dari sutradara Riri Riza dalam ‘Athirah’ / ‘Emma’ (Mother). Berbeda dengan biopik tokoh biasanya yang dibalut bombastisme sinematik, ‘Athirah’ yang mengangkat sosok ibu Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla juga mengusung spirit feminisme bersama kultur Makassar yang kental dan masalah-masalah ke-Islaman.

Film Athirah
                                                Film Athirah (sumber foto: Miles Films)

Dua film pendek yang berdurasi di bawah 60 menit, ‘Following Diana’ karya Kamila Andini (‘The Mirror Never Lies’). serta ‘Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband’ karya Edwin (‘Babi Buta Yang Ingin Terbang’, ‘Postcards from the Zoo’) juga ikut ditayangkan atas prestasi yang sudah mereka raih, berikut trend indie-arthouse lokal yang masih terus konsisten membawa pengenalan sineas-sineas di ranahnya ke mata pemirsa internasional.

                                Film Following Diana karya Kamila Andini (sumber foto: image.net)
m_someones_wife_in_the_boat_of_someones_husband
                 Film Someones Wife In The Boat Of Someones Husband (sumber foto: image.net)

Sementara satu film yang mengisi slot World Premiere adalah ‘Cado-Cado: Doctor 101’ (Catatan Dodol Calon Dokter) karya Ifa Isfansyah yang merupakan adaptasi novel komedi karya Ferdiriva Hamzah. Mengangkat tema yang masih jarang ada di film kita, tentang dunia pendidikan para calon dokter, film ini baru akan dirilis di akhir bulan Oktober mendatang.

m_cado_cado
        Film Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) karya Ifa Ifansyah (sumber foto: image.net)

Terakhir, ada juga Salawaku, film karya Pritagita Arianegara yang juga masuk di segmen kompetisi Asian Future dalam slot World Premiere. Film drama Indonesia yang bergenre road movie in, berlatar belakang Maluku, tepatnya Pulau Seram Bagian Barat dan merupakan film tentang pencarian. Disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Dan diibintangi oleh Karina Salim, Raihaanun, JFlow Matulessy, Shafira Umm, Elko Kastanya. Film ini juga menghadirkan keindahan alam Indonesia bagian Timur.

salawaku-2-960x540
      Film Salawaku yang berlatar Kabupaten Seram, Maluku (sumber foto: pritagitaarianegara.com)

Bersama rilis line up lengkap Crosscut Asia: Colorful Indonesia, TIFF juga mengumumkan dua karya sutradara muda Jepang yang akan bersaing dalam segmen kompetisi utama festivalnya tahun ini. Dua film itu adalah ‘Japanese Girls Never Die’ karya Daigo Matsui, alumnus segmen ‘Japanese Cinema Splash’ dari TIFF 2014 dan ‘Snow Woman’ karya Kiki Sugino. Meski belum dikenal luas di sini, Kiki Sugino yang memulai debutnya sebagai seorang aktris dan produser pernah membuat film ‘Taksu’ (‘Yokuda’) (2014) bersama sutradara indie Sidi Saleh sebagai sinematografer dengan lokasi di Bali.

Kiki Sugino, Aktris sekaligus Produser film (sumber foto: eigapedia.com)
                           Kiki Sugino, Aktris, Sutradara sekaligus Produser film (sumber foto: eigapedia.com)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY