Sri Hanuraga Rilis CD Album “To the Universe”

Sri Hanuraga Rilis CD Album “To the Universe”

1795
SHARE

Pada tanggal 7 November 2015 nanti, bertempat di Ican Studio, jalan Erlangga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sri Hanuraga, atau yang lebih sering dipanggil Aga ini, akan mengadakan konser peluncuran CD album yang berjudul “To The Universe”. Dalam acara ini, Aga akan meluncurkan CD yang berisi 10 lagu karyanya dan teman-temannya. Dalam acara ini, rencananya Aga akan ditemani oleh beberapa pemain lain, seperti Ricad Hutapea (Flute), Kevin  Yosua (Double bass & Electric Bass) danElfa Zulham (Drums).

Di antara 10 komposisi yang ada di album ini, ada dua komposisi musik tradisional Jawa, Sowe Ora Jamu dan Gundul Pacul. Aga punya harapan agar musik tradisional Indonesia bisa jadi lagu standard musisi jazz Indonesia. Sedangkan komposisi yang lain terdiri dari lima komposisi karya Aga (Teka-teki, Ever Changing 1,2,3, Amadeus), dua karya Mattia Magatelli (To the Universe, Schoenefeld), satu karya Kristijan Krajncan (A Palm for You).

Cover album "To The Universe".
Cover album “To The Universe”.

Lagu Teka-teki dibuat secara spontan, saat berangkat menuju rekaman. Sedangkan lagu Amadeus, ilhamnya berasal dari sepenggal lagu Wolfgang Amadeus Mozart yang sekilas terdengar oleh Aga, karena itu lagu ini diberi judul Amadeus.

Ever Changing adalah judul lagu yang diusulkan oleh musisi Mian Tiara. Komposisinya kental dengan pengaruh gamelan Jawa, dan komposisi yang terbagi menjadi tiga bagian ini merupakan buah dari riset Aga terhadap musik gamelan Jawa. Disajikan tanpa lirik, komposisi Ever Changing menggambarkan proses evolusi sel kehidupan dari bentuk yang paling sederhana hingga ke bentuk lebih kompleks. Aga seperti sedang melukis dalam membuat komposisi dan aransemennya.

Sementara itu, lagu To the Universe ditulis Mattia Magatelli sebagai persembahannya kepada semesta alam. Sedangkan lagu Schoenefeld yang merupakan nama salah satu bandara di Jerman, ditulis diantara kesibukan tur Magatelli. Kristijan Krajncan yang juga penulis film score, mengomposisi lagu A Palm for You yang ia persembahkan untuk kekasihnya. Lagu ini juga dibuat untuk sebuah film.

Aga & trio bermain di acara Salihara Jazz Buzz 2013 (sumber: www.wartajazz.com, foto: Witjak)
Aga & trio bermain di acara Salihara Jazz Buzz 2013 (sumber: www.wartajazz.com, foto: Witjak)

Album yang di dalam lagunya membaurkan berbagai genre, dari musik gamelan Jawa, free jazz, swing, modern jazz, Balkan rhythm, hard bop, musik klasik, hingga rock, diberi judul To the Universe. Album ini menjadi bagian dari misi Aga mempersembahkan musik yang inspirasinya dari kekayaan semesta alam untuk menjadi bagian semesta alam dan dinikmati pencinta musik di seluruh semesta alam.

Eksplorasi Aga akan musik gamelan Jawa, dan keterlibatkan Mattia Magatelli yang berasal dari Itali, Kristijan Krajncan warganegara Slovenia, dan Rodrigo Parjo Mateos yang warganegara Spanyol, membuat musik gamelan Jawa yang indah semakin dikenal musisi dunia dan pencinta musik di seluruh dunia.

Bukan hanya Aga yang mendalami musik gamelan Jawa, untuk keperluan pembuatan album, Kristijan Krajncan (drummer) dan Matti Magatelli (bass) juga mengeksplor musik gamelan Jawa agar mereka bisa menyesuaikan instrumen yang mereka mainkan dengan pakem permainan instrumen gamelan. Tentu saja ini merupakan tantangan tersendiri bagi musisi yang dibesarkan dengan musik Barat. Kristijan Krajncan misalnya, ia harus mempelajari ketukan kendang Jawa, hingga mencari teknik memukul drums yang menghasilkan bunyi mirip kendang.

 

From Aga to the Universe

Nama Claude Debussy, Erik Satie, John Cage, Collin McPhee, Steve Reich, dan Philip Glass adalah beberapa nama komposer hebat dari Eropa dan Amerika yang dipengaruhi gamelan. Ya, betul. karya mereka dipengaruhi musik tradisional Nusantara. Bahkan beberapa komposisi dan pertunjukannya menggunakan pakem musik gamelan.

Sri HanuragaMusik gamelan yang membawa filosofi hidup orang Jawa atau Bali amat berbeda dengan musik Barat. Musik gamelan tidak mengenal klimaks, semua mengalun tanpa penonjolan permainan perseorangan. Permainan antar instrumen saling menjalin, mengiringi, dan menguatkan. Berbeda dengan musik Barat yang membuat klimaks dan anti-klimaks, dan menonjolkan permainan solo.

Aga sendiri, sebagai pemegang gelar master dari Conservatorium van Amsterdam dengan predikat summa cum laude pada tahun 2011 ini, tergugah untuk mempelajari musik gamelan yang telah begitu mempengaruhi banyak komposer hebat kelas dunia, termasuk tokoh musik minimalis. Apalagi Aga masih keturunan Surakarta, semakin besar motivasinya untuk mendalami musik gamelan Jawa.

Sebenarnya, pada tahun 2012, saat ia bergabung dengan grup The Brag Pack (Paul Rutschka, Daniel Mester, Ronald Becher, dan Sri Hanuraga) meluncurkan album Just Braggin’ (2012), Aga sudah mengaransemen musik tradisional Jawa, Ilir-ilir dan Cublak Suweng dalam konsep jazz moderen.

Pada tahun 2013, Aga sempat mengeluarkan album solo pertamanya dengan tajuk namanya sendiri, Sri Hanuraga. Namun ia semakin sadar bahwa ia belum menemukan warna musiknya sendiri. Aga terus mencari dan mengeksplorasi musik gamelan. Iapun mengambil kelas gamelan di tahun 2012-2013. Aga juga melakukan riset dan mentranskrip komposisi musik gamelan.

To the Universe album is dedicated to the universe that is ever changing.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY