Stela Band: Berjuang Menembus Pasar ASEAN

Stela Band: Berjuang Menembus Pasar ASEAN

2339
SHARE

Nama Stela diambil dari bahasa Yunani yang artinya Bintang. Bintang menurut mereka memiliki arti yg mendalam dan ini yang menginspirasi mereka untuk terus berkarya di tengah kondisi industri musik yang sedang kesulitan. Buat mereka, Bintang akan selalu bersinar dan selalu berada diatas, dalam kondisi apapun, segelap dan semendung apapun.

Mereka memulai berjuang untuk mencoba masuk ke industri musik dengan membentuk STELA di sebuah Studio Musik di bilangan tangerang selatan, BLUE studio. Dengan alat-alat yang sederhana, mereka mencoba memulai karir di bidang musik. Dengan genre musik yang variatif, pop melayu,  pop rock dan pop popular, mereka mencoba menembus pasar musik Indonesia dengan membuat rekaman sendiri dan mengedarkan sendiri. Mereka juga terus bergerak dan berjuang dari panggung ke panggung untuk memperkenalkan diri serta lagu-lagu mereka sendiri sambil membawakan lagu-lagu cover yang telah lebih dulu popular.

Secara bertahap, band yang digawangi oleh Tita (vocal), Aswin batara (Guitar), Agung (bass) dan Ardi Gendoy (drum), mereka menciptakan karya-karya lagu yang sederhana, dan seiring waktu dan dukungan dari berbagai pihak, mereka mampu membuat rekaman dan menggandakan lagu-lagu mereka dengan kemampuan mereka yang sederhana.

Dalam perkembangannya, mereka juga terus mendapatkan saran serta kritik yang membangun untuk selalu lebih baik lagi dalam berkarya dan menciptakan lagu. Dan tak lepas daripada itu, kemampuan teknik bermusik mereka juga terus dikembangkan.

Setelah berjuang sendirian, Stela Band mendapat kepercayaan dari salah satu label musik dari Malaysia, yaitu Billion Charisma Music yang memboyong mereka untuk berkiprah di Malaysia. Dengan beberapa kali tur panggung yang mereka lakukan, wawancara di beberapa radio dan majalah terkenal di Malaysia, single-single Stela Band, seperti No Chemistry, Cuma Kamu, Manusia Langka, dll, mereka menjadi cukup dikenal oleh penikmat musik di Malaysia. Namun begitu, bisnis musik di Indonesia maupun di Malaysia, cenderung memiliki kesamaan bahwa karya-karya musik tidak langsung membuahkan hasil bagi para pencipta dan praktisinya, namun memang harus mengalami proses panjang karena di era digital saat ini, penjualan lagu dan musik tidak lagi menjadi proses penjualan yang langsung, melainkan bentuk bisnis yang mengandalkan gimmick dan pengembangan bentuk produk.

Sekilas, perjalanan karir mereka yang sebetulnya cukup panjang dalam berjuang menembus industri musik Indonesia. Dan perjuangan musik Indie di Indonesia memang cukup mengkhawatirkan di tengah industri musik yang memang sedang dilanda kesulitan dalam memasarkan hasil karya mereka. Hal ini tidak hanya menerpa band-band Indie, namun juga sebetulnya menerpa juga band-band yang sudah memiliki nama besar. Kebanyakan mereka justru tidak lagi mampu menjual penggandaan dari album mereka, namun lebih banyak menggantungkan diri dari acara-acara panggung, di luar penjualan hasil karya mereka.

Untuk itu, jangan biarkan industri musik Indonesia berjuang sendirian. Pemerintah, para praktisi, pemodal dan pengusaha serta para penikmat seni musik di Indonesia harus terus menghargai dan memberikan penghargaan terhadap hasil karya mereka, agar mereka bisa terus bertahan dan terus memperkaya seni musik di Indonesia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY