Sutradara Indonesia Menangkan Penghargaan Busan Award di Asian Project Market 2016

Sutradara Indonesia Menangkan Penghargaan Busan Award di Asian Project Market 2016

405
SHARE

Edwin, sutradara asal Indonesia memenangkan Busan Award di Asian Project Market (APM), yang berlangsung 9-11 Oktober 2016 di Busan, Korea Selatan. Edwin membawa proyek film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, yang diadaptasi dari novel ketiga karangan Eka Kurniawan. Dalam proyek film ini, Eka Kurniawan juga bertindak sebagai penulis skenarionya.

untitled-1

Palari Films membawa film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (judul internasional: Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash) ke Asian Project Market yang selama 19 tahun telah konsisten menyeleksi dan mempertemukan proyek film berkualitas kepada pendana, investor film, dan pembeli film dari berbagai negara. Tahun 2016 ini, APM memilih 27 project film dari 16 negara. Proses seleksi yang ketat menjamin kualitas artistik dan keragaman tema film-film yang dijajakan di APM. Film-film blockbuster seperti Snowpiercer karya Bong Joon-ho, maupun film-film unik seperti Stray Dogs karya Tsai Ming Liang bisa terwujud karena film-film tersebut bertemu dengan pasarnya yang tepat. Snowpiercer berjaya di Hollywood, Stray Dogs memenangkan Grand Jury Prize di Venice Film Festival.

Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah proyek kolaborasi pertama Edwin dan Eka Kurniawan.  Film terakhir Edwin, Postcards From The Zoo, adalah film Indonesia pertama yang terseleksi dan dinominasikan sebagai film panjang terbaik oleh Berlin International Film Festival (Berlinale 2012). Sementara Eka Kurniawan baru saja memenangkan OppenheimerFunds Emerging Voices 2016 Fiction Award untuk novelnya, Manusia Harimau( Man Tiger). Eka juga pernah dinominasikan untuk Man Booker Prize International dengan novel yang sama. Sebelumnya, dia juga telah memenangkan World Reader’s Award 2016 untuk novel pertamanya Cantik itu Luka (Beauty is A Wound). Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, adalah novel ketiga dan selain difilmkan, novel ini rencananya akan diterbitkan di Amerika Serikat, pertengahan tahun 2017.

700-sdrhdt2014Menurut Edwin, buku Eka Kurniawan ini sangat visual. “Bahkan beberapa bagian cerita didalamnya, terasa ada baunya. Buku ini sangat kental dengan pengetahuan, dan segenap misteri yang mempengaruhi pembentukan kebudayaan modern masyarakat kita. Seperti jutaan anak laki-laki di Jawa yang  tumbuh di era tahun 1980an,  saya sangat mengenali Ajo Kawir dan dunianya. Dunia dimana dangdut pantura mengiri rasa rindu para supir truck yang bergelut sehari-hari dengan machismo dan adrenalin”, kata sutradara kelahiran Surabaya.

Muhammad Zaidy, salah satu produser dari Palari Films, melihat potensi luar biasa dari buku ketiga Eka Kurniawan ini sebagai materi yang kuat untuk diolah menjadi film. Zaidy mengatakan bahwa dalam mengadaptasi sebuah novel ke film, bukan pekerjaan yang mudah tapi memerlukan visi yang sejalan antara sang penulis novel dan pembuat filmnya. Dirinya sendiri baru bisa yakin dengan project adaptasi film ini, setelah mempertemukan Eka Kurniawan dengan Edwin. Visi Edwin terhadap film, dan pemahamannya terhadap buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, membuat Zaidy dan tim bersemangat dan percaya bahwa project film ini harus dikerjakan.

“Kita akan membuat film yang menghibur, indah dan unik baik secara kemasan maupun isi cerita,” tutur pria kelahiran Makassar, yang baru-baru ini juga terlibat memproduksi film Athirah, dan AADC?2 tersebut.

Dengan film ini Palari Films berharap mampu membuka minat berbagai macam kalangan terhadap film Indonesia, memperluas pasar film Indonesia baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Meiske Taurisia, juga produser dari project film ini mengatakan bahwa pasar film Indonesia masih perlu terus digali. Para produser film Indonesia harus terus mengolah kreatifitas untuk menyuguhkan berbagai pilihan tontonan film Indonesia kepada masyarakat.

“Semakin banyak pilihan bentuk dan cerita pada film Indonesia, maka semakin banyak peluang kita untuk memperkaya penonton dan pasar film Indonesia,” ujar produser filmPostcards From The Zoo yang juga disutradarai oleh Edwin yang dibeli hak edarnya oleh distributor film internasional dari Perancis, Inggris, Jerman, Korea Selatan, dan Taiwan tersebut.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY