Tatto dan Subkultur Kaum Urban

Tatto dan Subkultur Kaum Urban

2467
SHARE

Oleh: Rian Samin

Meskipun masih dianggap tabu, di masyarakat kita tato merupakan sesuatu yang sudah sangat familiar. Bahkan bagi sebagian orang, tato amatlah lekat hubungannya dengan budaya, tak bisa dipungkiri, kini tato menjadi lifestyle kaum urban dan juga identitas personal. Selain sebagai lifestyle, tato juga menjadi simbol ekspresi dan kebebasan seseorang. Saat ini dunia tato semakin berkembang dengan semakin banyaknya jasa tato terutama di kota-kota besar, termasuk Yogyakarta.

Tato atau rajah tubuh adalah ornamentasi budaya yang syarat akan simbolisasi. Sebagai bentuk budaya, usia seni tato sudah ratusan tahun. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya rajah tubuh pada mumi di Mesir, Peru, dan Chili. Hingga zaman modern ini, seni tato juga masih didapatkan pada suku-suku di Indonesia, di antaranya Dayak Kalimantan, Mentawai Sumatera, dan Papua. Athonk Sapto Raharjo, seniman tato yang aktif sejak 1996 punya pendapat sendiri. Setelah masuknya ajaran-ajaran agama yang menabukan tato, budaya merajah tubuh ini hampir lenyap dari Indonesia. Kemudian tato hanya dapat dijumpai pada orang-orang yang berada di luar kehidupan sosial yang normal.

“Tato dianggap sebagai sub budaya yang dipakai oleh para preman, atau orang yang baru keluar dari penjara,” ujar seniman yang juga ketua Java Tatto Club ini.

Jika melihat ke belakang, pada era Orde Baru di tahun 80-an, banyak orang yang ditembak secara misterius oleh aparat negara, yang kemudian dikenal dengan istilah ‘Petrus’ (Penembak Misterius). Menurut Athonk, fenomena ini bukan hanya menjadi ‘shock therapy’ untuk masyarakat, namun juga menimbulkan kecemasan yang luar biasa bagi orang yang sebelumnya sudah memiliki tato. Sejak itulah seni tato di Indonesia bergerak secara bawah tanah dan berjuang melawan stigma dan pandangan miring yang telah ‘dibentuk’ sebelumnya.

Menurut seniman tato yang juga dikenal sebagai komikus ini, pada era tersebut tidak ada studio tato yang resmi terbuka untuk umum, kecuali di beberapa kawasan wisata untuk turis asing di Bali, Lombok, dan Yogyakarta. Lebih lanjut Athonk menjelaskan bahwa fenomena tato mulai marak di awal tahun 90an. perkembangannya juga ditandai dengan popularnya beberapa grup musik rock yang memakai tato di tubuhnya, beberapa di antaranya adalah Guns N Roses dan Red Hot Chilli Peppers.

Kedua band ini memuat gambar-gambar tato di sampul albumnya ‘Appetite For Destruction’, dan ‘Blood Sugar Sex Magik’. Perlu dicatat penjualan album kedua band ini cukup tinggi dan persebarannya di kalangan anak muda saat itu pun cukup pesat. Terutama saat vokalis Ret Hot Chilli Peppers sempat bertandang ke pedalaman Kalimantan untuk mencari budaya tato suku Dayak.

“Orang Indonesia mulai sadar ternyata budaya asli Indonesia ada seni tato yang bisa dibanggakan,” tegas Athonk.

Selanjutnya fenomena tato semakin berkembang ketika masyarakat mulai sadar dengan identitas personalnya yang berbeda antara satu dengan yang lain. Seniman tato yang pernah menempuh kuliah seni rupa di ISI Yogyakarta ini menjelaskan bahwa di era globalisasi semua suku bangsa sudah tersebar di tanah air. “Mereka inilah manusia yang tercerabut dari akar budaya aslinya, kehilangan simbol kesukuan yang menunjukan siapa, dan darimana asal mereka,” ujarnya.

Banyak yang ingin mendapatkan tato karena ingin menunjukan identitas jati diri secara personal, dan memiliki gambar yang berbeda dengan yang lain. Sejak itulah muncul istilah ‘custom’ tato yang merupakan esensi dari seni tato modern Indonesia. Kemudian orang-orang yang bertato mulai membentuk komunitas yang solid, dan pada 1997 Java Tatto Club resmi didirikan. Meski sempat mengalami banyak rintangan, dan reaksi negatif dari masyarakat, justru hal itu menurut Athonk membuat komunitas ini semakin solid. Tahun demi tahun, Java Tattoo Club menggelar acara tahunan. “Konsistensi inilah yang membantu perkembangan seni tato, dan kesadaran masyarakat untuk menerima tato sebagai aset budaya,” ungkapnya.

Lois, seorang tattooist dan shop manager di CarpeDiem TattooStudio berujar bahwa belakangan ini komunitas tato di Yogyakarta lebih semangat dan produktif. Semakin banyak seniman tato muda yang muncul, dan berani tampil di depan publik dengan karyanya. Selain menjaga kualitas estetik, perempuan bernama lengkap Lois Nur Fathiarini ini juga berharap agar masalah disiplin yang berhubungan dengan higienisitas harus lebih diperhatikan.

“Mungkin terlihat remeh, tapi seniman tato juga harus mengedukasi masyarakat tentang proses tato yang sehat, terutama tentang proses pembuatannya,” ujar seniman tato yang juga menjadi penjahit di Stroberi Hitam ini.

Pertama kali Lois berkenalan dengan dunia kolektor tato pada tahun 2005. Awalnya ia tidak menyangka kalau komunitas tato di Yogyakarta itu ternyata besar. Ia memulai debut di komunitas ini hanya sebagai kolektor. Dari belasan tato yang terdapat di tubuhnya, hanya satu orang dari luar Yogya yang karyanya ada di kulitnya. Lois mengatakan bahwa pada dasarnya semua scene tato di Indonesia haus akan kesempatan, “Yaitu kesempatan untuk memperlihatkan hasil karya, untuk diakui, saling berkenalan, dan bekerja sama,” kata perempuan yang aktif di Magic Fingers Syndicate, sebuah jejaring informasi untuk penggiat handmade ini.

Komunitas tato di Yogyakarta memang cukup solid, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya gelaran yang mempertemukan para penyuka seni tato. Belum lama ini di Oxen Free, Sosrowijayan, Yogyakarta digelar acara ‘Tattoo For Charity’. Acara ini merupakan ajang penggalangan dana untuk membantu korban kecelakaan yang dialami beberapa anggota komunitas tato. Pada acara yang digelar selama tiga hari (18-20/9) lalu sejumlah seniman tato unjuk aksi memamerkan kebolehannya.

Selain itu beberapa musisi juga tampil untuk ikut serta penggalangan dana, di antaranya Brilliant, Danu (Morning Horny), Wowok Erwe, Dendang Kampungan, Dj Metzdub, dan sebagainya. Sementara seniman lainnya melelang karya mereka yang penjualannya diberikan untuk donasi, mereka di antaranya Love Hate Love, Rubseight, El Kampretoz, Marmarherz, Metodos, dan lainnya.

Adalah Helly El Mursito selaku penggagas acara yang ia berinisiatif untuk menggelar malam penggalangan dana. “Seluruh hasil kegiatan diserahkan untuk biaya perbaikan, dan berobat beberapa korban yang mengalami kecelakaan,” ujar pria yang menjadi seniman tato sejak 2001 ini.

Sebagai seniman tato, Helly yang memiliki studio bernama Kerja Keras Kulture (KKK) ini lebih dikenal dengan gaya ‘Lettering Tattoo’. Selain menjadi seniman tato, lulusan Desain Grafis ISI Yogyakarta ini juga dikenal sebagai pembuat sampul album beberapa band, di antaranya Dubyouth, dan album terbaru Superman Is Dead ‘Sunset Di Tanah Anarki’.

Dalam lingkungan urban, orang bertato seringkali berhadapan dengan administrasi formal dengan peraturan-peraturan tertentu, meski ada juga yang fleksibel. Tak jarang mereka akhirnya menghapus tato di tubuhnya dengan alasan pekerjaan, maupun beberapa alasan lainnya. Menurut seniman tato senior, Athonk Sapto Raharjo, bagi mereka yang ingin menghapus tatonya seharusnya berpikir lebih dahulu akan segala dampak dan kemungkinan buruknya. Sebab, lanjutnya jika ada tato yang jelek, kemudian dihapus dengan cara yang tidak benar, justru akan menghasilkan bekas luka yang lebih jelek juga.

Ada beberapa cara untuk menghapus tato, di antaranya dengan cara laser, ini pun harus dengan ahlinya. Athonk juga menjelaskan bahwa menghapus tato harus dengan ahlinya, terutama dengan yang memiliki sertifikat dari dinas kesehatan sebagai penjamin. Ketua Java Tattoo ini juga menjelaskan, bagi yang bosan dengan tatonya juga bisa pakai metode cover-up, artinya tato lama diganti dengan tato yang baru. “Teknik dan cara ini lebih bagus, karena tidak meninggalkan bekas luka,” ucapnya.

Di Toxic Tatto Park, studio tato kustom yang terletak di Jl. Sukonandi II no.9 Semaki Yogyakarta ini menyediakan jasa untuk menghapus tato (tattoo removal). Selain itu di sana juga melayani konsultasi, pengerjaan tato, dan piercing. Studio milik seniman tato, Munir Kusranto, dan istrinya Ajenk ini berdiri sejak 9 Juli 2000 . Kurang lebih duabelas tahun mereka menekuni bidang ini.

Menurut Ajenk tamu yang datang untuk menghapus tato biasanya karena alasan pekerjaan, selain itu karena posisi gambar yang salah, atau gambar yang tidak bagus. Di Toxic sendiri untuk menghilangkan tato menggunakan laser, dan Ajenk sendiri yang mengeksekusinya.

“Sebelum ingin menghapus, atau membuat, kami pasti memberikan konsultasi, dan dampak terburuk jika tidak bisa melakukan perawatan sesuai yang dianjurkan,” kata lulusan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta ini.

Meski tato bisa dihapus dengan laser, namun, lanjut Ajenk, dampak terburuknya adalah terjadinya keloid, setelah tato dihapus, maka akan terjadi bekas luka yang akan menjadi koreng, “Nah biasanya orang kan nggak betah kalau korengan, gatel, risih, tinggal sabar atau tidaknya aja,” ucap Ajenk yang beberapa kali menjadi partisipan pada eksebisi tato di Australia ini.

Di antara para seniman tato, bisa dibilang Anneke adalah seniman tato wanita pertama di Yogya yang mempunyai studio sendiri. Sebelumnya, Anneke selama tiga tahun bekerja di studio Eternity Tattoo. Studio Anneke yang bernama Petrichor Tattoo tersebut terletak di Jalan Tirtodipuran no 15

Pada Maret lalu, perempuan kelahiran Bandung, 6 Juni 1985 ini berpartisipasi di event tattoo performance di Liquid Body Art, dengan tema Liquor. Di Tattoo Show, karya Anneke berhasil memenangkan kategori The Best Realist Tattoo. “Rada ngga nyangka tapi senang banget soalnya itu penghargaan pertamaku di dunia tattoo,” ujarnya.

Hal yang menyenangkan lainnya juga terjadi di Kustomfest beberapa pekan lalu, dimana Anneke berhasil memenangkan kategori The Best Black And Grey Tattoo di tato kolaborasi dengan Mamat yang juga tattooist dari Yogyakarta. Yang membuatnya lebih puas adalah desain tato kolaborasi tersebut adalah murni orisinal buatannya.

Menurut ibu dari Genta Senjakala ini hal yang perlu diperhatikan bagi seorang seniman tato adalah bisa menjaga ‘attitude’ (perilaku) ketika berada di ruang publik, jangan memberi kontribusi image negatif yang selama ini sudah melekat di profesi ini. Selain itu seniman tato juga harus membekali diri dengan edukasi yang paling mendasar soal personal hygine.

Ke depannya Anneke mengatakan ingin mencoba menjadi guest artist di studio tato di kota lain, bahkan di negara lain. Ia juga menegaskan sebaiknya dipahami bahwa tato adalah ‘body decoration’ yang seharusnya bisa mempercantik tubuh, “Bukan menghambat laju karir dan kehidupan. Jadi keputusan yang bijak sangat disarankan,” ucapnya tersenyum.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY