Teater Miss Tijjih: Yang Megah Yang Tergerus Zaman

Teater Miss Tijjih: Yang Megah Yang Tergerus Zaman

1669
SHARE
Lokasi pemukiman seniman kelompok teater Miss Tjitjih

Begitu banyak kelompok-kelompok teater yang ada di wilayah Jakarta, sebut saja kelompok Teater Koma yang namanya sudah tidak asing lagi bagi pencinta teater tanah air. Namun dari sekian banyak kelompok teater yang ada di jakarta, sedikit yang mampu bertahan dari gerusan perkembangan dunia seni akting yang semakin modern. Adalah kelompok Teater Miss Tjitjih, kelompok teater yang sudah puluhan tahun berdiri dan sampai detik ini masih eksis dalam menampilkan seni teater tradisional.

Jika kita berkendara menuju daerah Jakarta pusat tepatnya dari atau ke arah sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Cempaka Putih, kita akan melewati bangunan Hotel Grand Cempaka  disamping hotel  terdapat sebuah gang kecil. Dari gapura gang kecil tersebut kita akan melihat tulisan “Teater Miss Tjitjih”.  Dari gang menuju gedung pertunjukan teater Miss Tjitjih jarak sekitar 10-15 meter, gedung berdiri kokoh di samping kiri jalan. Gedung Teater Miss Tjitjih saat ini sudah mengalami renovasi sehingga kita bisa melihat begitu kukuhnya gedung pertunjukan teater ini, sebelumnya di kisaran tahun 1997, gedung teater Miss Tjitjih di lokasi yang sama pernah mengalami kebakaran hebat sehingga menghanguskan seluruh area gedung. Musibah ini juga yang mengakibatkan banyak kalangan menganggap kelompok teater Miss Tjitjih telah usai.

Banyak orang yang berkecimpung dalam dunia teater, sebut misalnya Jakob Sumardjo, selalu mengatakan bahwa grup teater yang dibintangi Miss Tjitjih ini sebagai salah satu tonggak teater modern di tanah air. Grup ini pastilah “megah” dan selalu meriah pada masanya. Kemegahannya kini masih tersisa pada gedungnya, yang nampak angkuh bertembok beton. Ruang pertunjukannya cukup besar, tak kalah dengan ruang bioskop kelas mewah. Luas panggungnya mencapai 15 x 8 meter.

“Sudah sepi. Kalau dulu rame. Bangku bisa penuh. Sekarang mah, ada yang nonton kayak begini, sudah syukur,” kata Rohidin, lelaki berusia 47 tahun dengan logat Sunda yang cukup kental. Sudah 18 tahun ia ikut mengelola gedung teater Miss Tjitjih.

Dari beberapa literatur sejarah terungkap bahwa eksistensi Miss Tjitjih sudah ada sejak puluhan tahun lamanya. Di tahun 1928 saat pergolakan kemerdekaan mewarnai negeri ini, kelompok sandiwara Miss Tjitjih sudah ada dan menghibur masyarakat dengan cerita-cerita tradisional khas masyarakat Sunda.

Kelompok sandiwara Miss Tjitjih tidak bisa dilepaskan dari sosok perempuan bernama Nyi Tjitjih. Nama Miss Tjitjih memang terukir dalam sejarah seni pertunjukan di Nusantara. Perempuan ini lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 1908. Usia 15 tahun, ia sudah berkesenian, dan dikenal dengan panggilan Nyi Tjitjih. Nyi Tjitjih kemudian pernah tergabung dalam pementasan teater yang terkenal di zamannya bernama Opera Valencia, milik seorang keturunan Arab yang belakangan akhirnya menjadi suaminya. Setelah menikah, barulah nama perkumpulan kesenian mereka pun diganti menjadi Miss Tjitjih Tonell Gezelschap pada 1928.

Kedekatan dengan asal daerah, yaitu Jawa Barat, membuat kelompok teater Miss Tjitjih menampilkan banyak cerita mengenai budaya Sunda dan sedikit disisipkan dengan cerita-cerita Jakarta. Ini yang membuat keunikan tersendiri dari teater Miss Tjitjih dengan kelompok teater lainnya. Cerita-cerita tradisional masyarakat Jawa Barat menjadi keunggulan utama teater Miss Tjitjih dalam membawakan pementasan cerita sandiwara. Hal ini memang menjadi misi utama berdirinya kelompok sandiwara Miss Tjitjih yaitu melestarikan seni budaya tanah kelahiran, tanah Jawa Barat.

Di era modern saat ini, teater tradisional memang sedikit terlupakan oleh banyak orang, terutama generasi muda. Kelompok teater Miss Tjitjih yang juga berasal dari seni tradisional pun terlupakan dengan begitu banyaknya alternatif hiburan, seperti TV, Bioskop, Konser Musik dan lain-lain. Ini bisa kita lihat dari jarangnya pementasan Miss Tjitjih. Selain dikarenakan kurangnya dana untuk pengembangan teater ini, namun juga sulitnya mencari penonton dan generasi muda baru untuk bermain di kelompok teater ini.

“Sulit untuk mencari penonton sekarang, udah banyak sinetron-sinetron di TV, film-film di Bioskop, orang jadi malas untuk menonton teater yang menceritakan cerita-cerita tradisional,”  tutur Imas Darsih generasi kedua dari kelompok teater Miss Tjitjih yang juga saat ini berperan sebagai sutradara.

Ini menjadi ironi untuk perkembangan dunia seni khususnya seni teater. Keberlangsungan kelompok teater menjadi sangat mengkhawatirkan jika hal ini terus terjadi. Namun asa untuk tetap bertahan masih ada di dalam diri para pemain kelompok teater Miss Tjitjih ini. Mereka menunjukkan semangat juangnya dengan terus melakukan pementasan walau sudah tidak sesering saat mereka baru muncul.

Dengan harga tiket sebesar Rp.10.000 sebenarnya masih dapat terjangkau oleh masyarakat kebanyakan. Namun lagi-lagi, arus modernisasi yang begitu banyak menampilkan hiburan instan, membuat generasi muda lebih memilih untuk menikmati hiburan instan tersebut dibandingkan menonton pertunjukan teater dengan cerita-cerita tradisional.

“Sekarang manajemen sudah kami perbaiki. Ke depannya, kami ingin Teater Miss Tjitjih bisa kembali eksis seperti awal berdiri. Kami akan terus tampil dan akan kami usahakan tiap bulannya nanti kami terus mentas,” tutur Dadang Badoet, asisten sutradara kelompok teater Miss Tjitjih.

Komunitas teater Miss Tjitjih kini masih bertahan walau seni tradisi sedang digusur jaman. Para awak panggung tetap bermain dengan profesional. Mereka tak kecil hati, walau jumlah penonton yang hanya hitungan jari. Pilihan ada di tangan kita sebagai generasi muda, apakah kita mau untuk menikmati cerita-cerita tradisional di Kota Jakarta dengan segala macam kemajuannya atau kita nyaman dengan hiburan-hiburan modern yang sekarang begitu menjamur di Jakarta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY