Teguh Karya: Perfeksionis Yang Teguh

Teguh Karya: Perfeksionis Yang Teguh

1805
SHARE

Salah satu sutradara film serta penulis naskah terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia adalah, Teguh Karya. Pria kelahiran Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937 ini sebelum terjun menjadi sutradara hebat, memulai karirnya sebagai pemain sandiwara dan pemain film dengan nama Steve Lim Tjoan Hok. Beliau pernah mengenyam pendidikan di ASDRAFI Yogyakarta (1954-1955), ATNI (1957-1961), dan East West Centre University of Hawaii (1963).

Pada awal tahun 1960-an, Teguh Karya pernah mendapatkan pendidikan sekaligus praktek pembuatan film dari Perusahaan Film Negara (PFN). Pada tahun 1968 dia mendirikan bengkel teater, Teater Populer. Dari Teater Populer inilah lahir aktor dan aktris handal yang sering menghiasi film-film Indonesia, seperti Slamet Rahardjo, Tuti Indra Malaon, Niniek L. Karim, Christine Hakim, Hengky Solaiman, Dewi Matindas, Titi Qadarsih, Alex Komang.

Teater Populer yang didirikan dan dipimpinnya itu, tak terhitung berapa kali sudah tampil mementaskan naskah-naskah dari pengarang besar seperti Alice Gerstenberg, Norman Barash, Nikolai Gogol dan lain-lain. Setiap kali tampil pada masa itu, sambutan penonton sangat luar biasa. Seni peran teater garapan Teguh sangat komunikatif. Kekuatannya bukan saja pada kempuan akting aktor-aktris panggung yang terlibat, tetapi juga kemampuan penyutradaraan, penataan set panggung, manajemen pertunjukan, dan lain-lain.

Maka, pada masa itu, setiap kali Teater Populer tampil di berbagai tempat seperti antara lain Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta dan lain-lain, orang-orang sudah siap menanti. Teguh bukan saja berperan sebagai sutradara, tetapi dia memposisikan diri sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas semuanya, tentu dengan pendekatan pembinaan sesuai yang dimiliki. Dan pendekatan itu selalu memberikan kekaguman serta kebanggaan bagi murid-muridnya.

Simaklah apa kata Slamet Rahardjo, salah seorang muridnya yang tumbuh dan dibesarkan lewat Teater Populer:

“Teguh Karya adalah ‘suhu’. Dia menjadi semacam sentrum magnit yang gelombang getarannya sanggup membuat para anggota kelompok terus-menerus merasa ‘demam berkesenian’. Terus-menerus merasa harus menggali agar kekurangan bisa dilengkapi. Terus menerus ‘hanya’ memikirkan teater dan seni. Dia adalah guru, sahabat, dan sekaligus juga bapak. Pada Teguh, para anak didiknya tidak hanya belajar teater dan kesenian saja, tetapi sekaligus juga belajar tentang kehidupan agar bisa tetap berdiri meski kesulitan datang bertubi-tubi.”

Bahkan Asrul Sani saat melihat kegiatan dan hasil karya teater Teguh Karya, memberikan pendapat,

“Semenjak semula bagi Teguh Karya, teater adalah sesuatu yang serius”.

Ber-teater hingga bertahun-tahun bersama anak didiknya, tak pernah membuat Teguh merasa lelah. Bahkan kerasnya “pertarungan” Teguh ini sempat mendapat sorotan dari media massa. Media massa menganggap Teguh Karya terlalu keras pada pendiriannya untuk setia pada teater. Sementara itu, “bekerja” sebagai orang teater masih belum memungkinkan untuk memberikan penghidupan yang layak. Menanggapi hal ini, saat itu, Teguh Karya menjawab:

“Semuanya harus dicari, dibentuk, dan dipelihara. Semuanya membutuhkan kerja keras. Tetapi jangan juga salah, semakin kita dekat dan bisa membuka pintu teater maka sesungguhnya semakin susah. Karena itulah kita terpanggil untuk tetap berada di dalamnya.”

Keakraban Teguh Karya bersama kelompoknya pada teater, menjadikannya begitu kental dengan dunia kesenian. Hingga sampai pada suatu masa, ketika Teguh menganggap bahwa teater memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan idenya, maka lalu dipilihlah film sebagai media baru. Baru pada 1971 dia benar-benar aktif di film dengan membuat Wajah Seorang Laki-laki. Film yang cerita dan skenarionya ditulis Teguh sendiri itu, walaupun kurang mendapat sambutan penonton namun para kritikus dan sejumlah media menilai dan menyambut sebagai sesuatu yang positif. Keberadaan film Teguh ini bahkan dikatakan sebagai film unikum yang patut dipuji. Dalam film Wajah Seorang Laki-laki yang pemainnya adalah rata-rata mereka yang biasa bermain pada teaternya sebelum-sebelumnya seperti Slamet Rahardjo, Tuti Indra Malaon, dan lain-lain.

Secara bisnis film pertama Teguh ini gagal. Secara artistik pun kurang mendapat tempat di Festival Film Indonesia (FFI) 1972. Namun, apa yang menjadi kelebihan dalam film ini banyak dibicarakan oleh para kritikus dan media masa. Bahkan juga dianggap memiliki kecenderungan gaya yang berbeda dibandingkan dengan karya-karya sutradara lainnya pada masa itu. Teguh dianggap berpotensi untuk melahirkan film-film berkualitas setelah film pertamanya itu. Selesai itu, Teguh terus membuat film, namun sesekali tetap memproduksi dan menyutradarai pertunjukan teater bersama Teater Populer-nya. Film-film yang lahir dari tangannya senantiasa meraih penghargaan dari berbagai festival baik dalam maupun luar negeri.

Tahun-tahun berikutnya, benar saja, Teguh tampil memberi warna baru dalam sejarah perfilman nasional. Pengaruh latar belakang sebagai orang teater yang sangat dekat dengan kesenian, apalagi sebelumnya sangat dikenal dengan detailnya baik terkait dengan penanganan akting para pemain, setting atau property, komposisi, dramatisasi, irama dan lain sebagainya, sangat terasa. Hal-hal inilah yang menjadikan karya-karya film Teguh bukan hanya sekedar beda dengan kecenderungan karya-karya film sutradara lain, tetapi juga memiliki makna dan nilai yang sangat berarti bagi masyarakat penontonnya. Hampir semua film-film Teguh Karya, akhirnya, setelah Wajah Seorang Laki-laki (1971) sampai dengan karyanya yang terakhir Pacar Ketinggalan Kereta (1989), sukses meraih penghargaan di berbagai festival baik dalam mapun luar negeri.

Bergelut di bidang seni, Teguh Karya dikenal sebagai orang yang perfeksionis. Selain mengarahkan akting para pemainnya, Teguh Karya juga menangani detail set panggung, make up, kostum serta manajemen pertunjukan secara menyeluruh. Sikap itu pula yang dia bawa ketika mulai menyutradarai film.  Film “November 1828” (1979) merupakan salah satu contoh dari betapa detailnya Teguh Karya dalam menggarap film-filmnya. Film ini menceritakan tentang sebuah kelompok penduduk desa di Jawa yang memberontak melawan pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Film ini mengandung tema loyalitas dan pengkhianatan dan erat hubungannya dengan sejarah Indonesia. Film ini dibintangi antara lain oleh Slamet Rahardjo, Rachmat Hidayat dan Yenny Rachman. Di film “November 1828”, Teguh Karya tidak hanya berperan sebagai sutradara, tapi ia juga merupakan penulis skenario film ini.

Namun umur manusia memang tidak dapat ditebak, sudah waktunya bagi Teguh untuk memenuhi panggilan Sang Khalik. Pada tahun 1998, Teguh Karya terserang stroke dan meninggal dunia 3 tahun kemudian, tepatnya tanggal 11 Desember 2001, di RS Mintoharjo, Jakarta. Dunia perfilman Indonesia sangat berkabung atas kepergiannya. Atas ke’teguh’annya dalam ber’karya’, dia mendapatkan penghargaan Usmar Ismail dari Dewan Film Nasional pada tahun 1991.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY