Temu Komunitas Film Indonesia 2016 Dihadiri 95 Komunitas Dari 14 Provinsi

Temu Komunitas Film Indonesia 2016 Dihadiri 95 Komunitas Dari 14 Provinsi

1374
SHARE

Temu Komunitas Film Indonesia 2016 (TKFI 2016) dilaksanakan pada 25-27 Maret 2016 di Villa Kayu Palem, Baturraden, Jawa Tengah. Selama tiga hari di kaki Gunung Slamet yang asri nan sejuk, lebih dari tiga ratus pegiat komunitas film di Indonesia berbagi, berdiskusi, dan bersenang-senang bersama melalui serangkaian kegiatan—mulai dari kelas, forum diskusi, forum pendanaan, layar tancap, lomba karaoke, hingga presentasi tentang perfilman Indonesia hari ini.

TKFI 2016 bertujuan untuk mendedah perkembangan terbaru di lingkup komunitas film, memperbaharui data jaringan, berbagi pengetahuan, serta membangun jaringan antarkomunitas. “Akan hadir 350 orang peserta yang mewakili 95 komunitas film dari 33 kota – 14 Provinsi di Indonesia. Ditambah teman-teman komunitas film yang hadir meramaikan acara, kami mengelola 400 orang lebih selama tiga hari penyelenggaraan acara,” ujar Nanki Nirmanto selalu Direktur operasional TKFI 2016.

Pertemuan akbar ini diselenggarakan oleh sebuah jaringan kerja bersama, yang terdiri dari CLC Purbalingga, Jaringan Kerja Film Banyumas, Cinema Poetica, Serunya, boemboe, dan Viddsee. Pada penyelenggaraan kali ini, CLC Purbalingga bertanggungjawab sebagai pengelola pertemuan, sebagai bentuk apresiasi atas capaian komunitas film Purbalingga dan Banyumas Raya di tingkat nasional.

TKFI 2016 turut bermitra dengan Pusat Pengembangan Film Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Kemendikbud, sebagai upaya untuk mengkoordinasikan kerja-kerja komunitas film dengan rencana pengembangan perfilman Indonesia ke depannya. “Kemitraan yang dibangun bersama Pusbang Film Kemendikbud adalah usaha untuk mensinergikan kerja-kerja yang selama ini terfragmentasi antara sektor komunitas dan pemerintah. Tidak hanya itu, segera setelah TKFI 2016 terselenggara, kami bersama Pusbang Film akan mengadakan presentasi publik, melibatkan pelaku dari sektor industri film untuk membedah kemitraankemitraan strategis yang bisa dibangun”, ungkap Adrian Jonathan, salah satu penyelenggara.

Ada dua program yang menjadi sentra kegiatan TKFI 2016. Pertama, kelaskelas tematik sebagai ruang berbagi untuk para pegiat komunitas film. Ada enam topik yang ditawarkan, meliputi penulisan proposal kegiatan, pengelolaan pemutaran dan festival film, pengelolaan teknis pemutaran film, apresiasi dan kritik film, distribusi dan teknologi, serta penulisan skenario. Kelas-kelas ini tidak memungut biaya keikutsertaan, dan akan dipandu oleh narasumber-narasumber dari dunia perfilman Indonesia. Pendaftaran untuk kelas-kelas ini terbuka dari 5 Februari hingga 5 Maret 2016. Total pendaftar untuk kelas-kelas Temu Komunitas Film Indonesia adalah 345 orang dari 95 komunitas, kelompok, dan lembaga yang tersebar di 33 kota atau 14 provinsi.

Kedua, Forum Pendanaan Inisiatif Komunitas. Tidak seperti forum pendanaan pada umumnya, forum ini hanya menerima pengajuan proposal kegiatan perfilman non produksi, seperti: pemutaran, kajian, diskusi, pendidikan, penelitian, pengarsipan, pengembangan, dan kegiatan-kegiatan terkait. Di tengah

jumlah komunitas film yang berkembang pesat, pegiatan perfilman non produksi belum tergarap semarak kegiatan produksi di tengah jumlah komunitas film yang berkembang pesat. Itulah alasan utama TKFI 2016 berfokus pada kegiatan non produksi. Forum Pendanaan Inisiatif Komunitas akan memilih dua proposal kegiatan, dan masing-masing akan mendapat dukungan senilai Rp. 5.000.000,-

(lima juta rupiah).

Sama seperti kelas, pendaftaran untuk forum pendanaan terbuka dari 5 Februari hingga 5 Maret 2016. Panitia Temu Komunitas Film Indonesia 2016 menerima 18 proposal kegiatan yang masing-masing memiliki keunikannya tersendiri. Proposal-proposal yang masuk berasal dari 17 komunitas film dan satu perorangan. Dari 18 proposal, tim seleksi Forum Pendanaan menentukan lima komunitas film untuk mengikuti tahap presentasi akhir proposal masing-masing di Forum Pendanaan, yaitu Ruang Film Bandung, Komunitas Gubuak Kopi Solok (Sumatera Barat), Komunitas Kedung (Kebumen), Kine Klub UMM (Malang), dan Liarliar Films (Solo).

Tentunya, di luar peserta kelas dan forum pendanaan, Temu Komunitas Film Indonesia membuka pintu selebar-lebarnya bagi kawan-kawan semua yang berminat hadir. Temu Komunitas Film Indonesia 2016 terbuka bagi kelompok maupun komunitas film se-nusantara. Juga bagi individu-individu yang berminat dan aktif berkegiatan melalui film.

temu-komunitas-film-indonesia-_160307111933-748

Kendala Kegiatan

Agenda besar seperti TKFI 2016 ini bukanlah kegiatan tanpa kendala, karena ternyata tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat.

Minimnya dukungan pemerintah kabupaten (pemkab) Banyumas untuk memfasilitasi agenda nasional yang kali kedua diselenggarakan tersebut terjadi sejak beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut sangat disayangkan panitia lokal yang sudah menemui pihak pemkab untuk meminta dukungan fasilitas.

“Awalnya, kami minta bantuan ke pemkab untuk difasilitasi tempat. Kita berharap balai diklat, tetapi ternyata melempem. Nggak ada respon positif,” kata Nanki lagi.

 

Profil Lembaga Penyelenggara

CLC Purbalingga

CLC Purbalingga berdiri pada 4 Maret 2006. Fokus kegiatan CLC Purbalingga meliputi lokakarya, produksi, pemutaran, perpustakaan, distribusi, dan festival film.

Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB)

JKFB adalah asosiasi komunitas film di Banyumas Raya (Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara, dan Cilacap) yang berdiri sejak 2007 dan saat ini berdomisili di Purbalingga. JKFB merupakan lembaga fasilitator dan mediator dalam mengembangkan dan memajukan kegiatan perfilman di Banyumas Raya.

Cinema Poetica

Cinema Poetica adalah kolektif kritikus, jurnalis, peneliti, dan pegiat film. Dirintis pada 14 Oktober 2010, Cinema Poetica berfokus pada produksi dan distribusi pengetahuan sinema bagi publik, sebagai tanggapan terhadap minimnya literatur tentang film di Indonesia, serta minimnya kajian tentang sinema Indonesia pada umumnya.

Boemboe

Didirikan pada 2003, Boemboe adalah organisasi berbasis online yang fokus pada promosi/distribusi film pendek Indonesia, membangun jaringan kerja antar pembuat film, komunitas film, kine klub, festival film lokal dan pada saat bersamaan membangun hubungan yang baik dengan kegiatan film pendek di luar Indonesia.

Serunya

Sebuah perusahaan film yang sejak 2007 telah melahirkan sejumlah penulis skenario film bioskop maupun televisi melalui kegiatan pelatihan, juga menjadi agen/manajer untuk sejumlah penulis skenario profesional. Pada 2014, serunya mendapat nominasi Apresiasi Film Indonesia untuk kategori institusi pendidikan.

Viddsee

Viddsee adalah sebuah multiplatform online yang mengumpulkan dan memilih film pendek Asia terbaik untuk ditampilkan di platform kami. Viddsee memiliki basis audiens internasional yang luas, mempromosikan film pendek Asia terbaik ke seluruh jaringan film pendek, festival, film market, dan banyak lainnya.

1 COMMENT

  1. http://youtu.be/ZAG4olY6cT0

    Just info,
    Kompetisi yg diadakan UNPAD, S. Yurizdiana mewakili UGM. Nonton ya, kemudian kasih LIKE utk karya tsb.
    👇
    Halo! Kami dari tim Psynematic Production UGM telah membuat film pendek berjudul :

    *”DAWN FOR THE DOWN”*

    dalam rangka mengikuti Psyferia Short Movie Competition dari UNPAD.

    Kami sangat berterimakasih atas kesediaan anda untuk menonton dan memberikan LIKE pada film pendek kami bila berkenan.

    Berikut adalah tautan untuk menonton film kami: http://bit.ly/DawnForTheDown

    Kami juga mengharapkan kritik, saran, dan tanggapan dari anda yang akan sangat membantu kami untuk proses evaluasi.
    Terima kasih.

    Wasalam,
    Psynematic Team UGM
    (Arif Budi K., K. Dzaki R., Nabila P. W., R. D. Marvianto, Rasyid Harry, dan *S. Yurizdiana*)

LEAVE A REPLY