‘The Asian Three-Fold Mirror Project’: Visi Tiga Sutradara Asia Refleksi Hubungan Bilateral

‘The Asian Three-Fold Mirror Project’: Visi Tiga Sutradara Asia Refleksi Hubungan Bilateral

404
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Edisi ke-29 Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) tahun ini meningkatkan lagi kerjasama mereka dengan The Japan Foundation Asia Center ke level baru dengan kolaborasi keduanya di proyek film yang mereka namakan ‘The Asian Three-Fold Mirror Project’. Tahapan pertama proyek film ini akan terus berlanjut hingga Olimpiade Tokyo 2020.

Diisi oleh tiga sutradara Asia; Brillante Ma Mendoza dari Filipina, Isao Yukisada dari Jepang dan Sotho Kulikar dari Kamboja; yang sebelumnya sudah merayakan kemenangannya di TIFF edisi ke-27 lewat ‘The Last Reel’, ‘Reflections’ merupakan sebuah omnibus dengan tema kehidupan bersama di Asia dengan Jepang sebagai benang merah penceritaannya.

Brillante Ma Mendoza (kiri), sutradara asal Filipina.
Brillante Ma Mendoza (kiri), sutradara asal Filipina. (sumber foto: tiff-jp.net)

Dalam konferensi pers menjelang penayangan perdana filmnya di TIFF tahun ini, Mendoza, Yukisada dan Kulikar hadir bersama masing-masing dua aktor dalam segmen mereka. Membahas proses dan tantangan yang mereka lalui dalam proyek kolaborasi ini, konferensi pers itu dihadiri oleh ratusan jurnalis dari seluruh dunia yang ikut berpartisipasi meliput TIFF.

Programmer TIFF, Kenji Ishizaka, mengatakan bahwa ada banyak kriteria dalam memilih ketiganya sebagai pengisi proyek kolaborasi pertama. Selain sineas yang sudah pernah mendapat penghargaan di banyak festival dunia termasuk TIFF, visi mereka memandang Asia dari karya-karyanya juga menjadi satu pertimbangan. Setelah terpilih, barulah ketiganya merancang ide apa yang ingin mereka angkat  mengenai akar sosiokultur masing-masing yang terhubung dengan keberadaan Jepang sebagai koneksi omnibus itu, dengan tujuan menciptakan pengertian serta empati mendalam terhadap identitas bangsa Asia melalui sinema sebagai medium utamanya.

Membahas ‘Shinuma/Dead Horse’, segmen yang dibesutnya, Brillante Ma Mendoza mengaku mendapatkan penemuan baru lewat proyek ini. Segmen yang berkisah tentang seorang pekerja ilegal (diperankan aktor veteran Filipina Lou Veloso) yang dideportasi dari Jepang dan harus kembali ke kampung halaman di balik trauma-trauma masa lalunya, membawa Mendoza mengenal dan mengekplorasi alam baru di tengah set penuh salju Hokkaido yang sangat menantang.

Proses ini juga diakui aktor veteran Filipina Lou Veloso yang harus melawan dinginnya temperatur Hokkaido hingga mengalami ‘swollen foot’. Berbeda dengan film-film dia sebelumnya bersama Mendoza, walau sudah mengetahui gaya penyutradaraan Mendoza yang hampir tak pernah berpegang pada skrip dan melulu hanya menyuruh aktornya melakukan apa yang ia mau tanpa membahas cerita secara keseluruhan, berinteraksi dengan kuda-kuda Hokkaido yang dirasanya berukuran sangat besar juga merupakan sebuah tantangan lain.

Sementara Yukisada dengan segmen berjudul ‘Pigeon’ yang ber-setting di Malaysia, selain harus berinteraksi dengan aktor-aktor Malaysia, ia juga merasakan bahwa proses syuting di Malaysia sungguh berbeda dengan di negaranya.  Berbeda dengan Jepang yang diakuinya sangat penuh tekanan, proses interaksi dengan kru di Malaysia jauh lebih terasa santai.

Sharifah Amani, aktris Malaysia yang bermain di ‘Pigeon’ bersama aktor kawakan Jepang Masahiko Tsugawa ikut berkomentar menceritakan kesulitannya berinteraksi dengan Masahiko yang mendalami perannya dengan ‘method acting’ yang belum pernah dirasakan Sharifah sebelumnya. Ia bahkan sempat menangis karena profesionalisme Masahiko.

Sharifah Amani, aktris Malaysia yang ikut bermain di film ‘Pigeon’.
Sharifah Amani, aktris Malaysia yang ikut bermain di film ‘Pigeon’. (Sumber foto: tiff-jp.net)

Masahiko Tsugawa kemudian menimpali hal ini, bahwa apa yang dilakukannya dalam mendalami peran seorang mantan serdadu Jepang yang memilih menetap di Malaysia dengan tiga orang pengurus rumahtangga (salah satunya juga diperankan komedian Malaysia Sherry Al-Hadad) memang mengharuskannya bersikap dingin pada lawan mainnya, walaupun di akhir syuting ia secara pribadi meminta maaf pada Sharifah. Masahiko mengatakan bahwa industri film negaranya terkadang tidak dipandang sebagai bagian dari industri Asia, karena itu sangat perlu untuk memahami masing-masing kultur di luar ekonomi dan budaya, dan semakin banyaknya kolaborasi akan selalu menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Segmen terakhir yang berjudul ‘Beyond the Bridge’ dibesut oleh sutradara wanita Kamboja Sotho Kulikar yang juga ikut bermain sebagai salah satu aktris utamanya. Segmen bertema kisah cinta berlatar jembatan persahabatan Kamboja-Jepang ini membawanya melalui riset terhadap latar benturan dua budaya dalam sejarah masing-masing negara. Ia menjelaskan bahwa ada kesulitan saat harus syuting di Jepang dalam segmen yang menjembatani tiga dekade 60-an, 70-an dan 90-an ini.

tiff-reflections-sotho
Sotho Kulikar, sutradara sekaligus aktris asal Kamboja (kiri), Masaya Kato (tengah) aktor asal Jepang dan Chumvan Sodhachivy (kanan) aktris asal Kamboja yang juga seorang penari. (Sumber foto: tiff-jp.net)

Dua aktor selain Sotho Kulikar dalam ‘Beyond the Bridge’, aktor senior Masaya Kato dan aktris kamboja Chumvan Sodhachivy yang sebelumnya berprofesi sebagai penari ikut memberikan komentarnya atas proses pembuatan segmen ini. Bagi Masaya Kato,  interaksi humanis dalam segmennya, dan ‘Reflections’ secara keseluruhan, adalah hal terpenting  dalam proses pembuatannya dan menempatkannya dalam sebuah pengalaman baru berinteraksi dengan aktor Asia dari negara berbeda.

Ditutup oleh komentar Isao Yukisada yang mengatakan bahwa mereka mengharapkan ‘Reflections’ akan lebih banyak lagi memicu kolaborasi antara Jepang dengan negara Asia lain bersama talenta-talentanya yang beragam dalam menciptakan sebuah film dengan standar global dan memperkenalkan budaya masing-masing ke depan mata audiens dunia. ‘The Asian Three-Fold Mirror Project’ edisi pertama ini paling tidak sudah memberikan landasan untuk kolaborasi berikutnya di edisi-edisi TIFF mendatang.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY