The Cost of Carbon: Kita Pun Bisa Berkontribusi

The Cost of Carbon: Kita Pun Bisa Berkontribusi

980
SHARE

Oleh: Wella Sherlita

Thom Yorke, vokalis dari band kenamaan asal Oxfordshire, Inggris, ‘Radiohead’, suatu kali pernah menulis sebuah artikel menarik di situs harian ‘The Guardian’, berjudul “Why I’m a Climate Optimist” atau dalam bahasa Indonesia: “Mengapa Aku Optimis akan (Perubahan) Iklim”.

Tulisan lawas itu dimuat pada tahun 2008, atau setahun setelah Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Bali, yang menghasilkan sebuah deklarasi penting untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, serta kesepakatan negara-negara maju dan berkembang untuk mengurangi emisi karbon se-rendah mungkin.

Sebagai seorang musisi, Yorke sadar betul betapa kegiatan tur band-nya sangat membutuhkan tenaga manusia, sekaligus pula menghabiskan banyak emisi karbon. Bayangkan, dalam setahun saja, misalnya, mereka harus tur ke beberapa kota dan negara, yang sudah pasti membutuhkan alat transportasi yang memadai untuk mengangkut semua barang-barang yang dibutuhkan untuk perjalan tur tersebut.

Ongkos karbon dapat dihitung mulai dari persiapan awal, seperti logistik selama perjalanan (makanan dan minuman untuk mereka sendiri plus ratusan kru lokal dan internasional), ratusan ribu bahan bakar mobil dan avtur pesawat terbang yang akan membawa mereka melintasi wilayah sejumlah kota dan negara, serta sampah-sampah yang menyertai perjalanan itu; seperti kertas dan plastik.

Jika ditotal, jumlah emisi karbon itu boleh jadi angkanya sangat fantastis, barangkali setara dengan jumlah emisi karbon dari pembakaran jutaan hektar lahan gambut untuk membuka perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Itu baru perjalanan tur dalam setahun, bagaimana jika dua tahun, tiga tahun? Lantas apa yang bisa dilakukan? Bukankah persoalan semacam ini sebetulnya dapat diatasi, tetapi bagaimana?

Dalam tulisannya itu, Yorke menyebutkan perjalanan panjang tur musik memang tidak bisa dielakkan. Tetapi penghematan energi dapat dilakukan, antara lain dengan memilih lokasi konser yang dilalui oleh transportasi umum, agar penonton tidak perlu membawa kendaraan pribadi ke lokasi konser. Pengurangan emisi dari BBM, itu intinya.

“Kejutan terbesar yang pernah saya terima bersama Radiohead adalah bahwa cara-cara orang pergi ke konser kami itu punya dampak yang besar. Jadi, kami sekarang bermain di tempat-tempat yang didukung oleh transportasi publik. Selain itu, peralatan lighting (tata lampu) kami yang baru didukung oleh generator yang super efisien, dan kami membuat perjanjian dengan  rekanan perusahaan truk untuk mengurangi emisi,” kata Yorke, yang kini semakin giat menjadi aktivis perubahan iklim.

Perubahan ini memang langkah kecil, namun arahnya tepat. Yorke tidak ingin memandang bencana akibat perubahan iklim hanya sekedar fenomena alam. “Saya optimis perilaku manusia bisa berubah,” tambahnya.

Saat ini, negara-negara maju dan berkembang masih terus ‘berdebat’ dalam diplomasi panjang mengenai pengurangan emisi. Penolakan Amerika Serikat untuk menandatangani Protokol Kyoto (perjanjian pengurangan emisi negara maju dari kegiatan industri) sangat mendominasi topik hangat ini. Penolakan Amerika Serikat itu berhadapan dengan tuntutan China dan Jepang, sementara Uni Eropa mulai menepati janjinya untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 30 persen.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sudah menyatakan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 26 persen pada tahun 2020, dan diharapkan angka itu bertambah hingga 40 persen pada 2050. Pengurangan emisi karbon mayoritas dari sektor kehutanan dan pengelolaan sampah.

‘The Climate Reality Project’, sebuah lembaga perubahan iklim yang dibentuk oleh mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, sejak lama menghimpun cara-cara dari para sukarelawan di seluruh dunia, untuk aksi pengurangan karbon ini.

Al Gore sukses memenangkan piala Oscar pada 2006 lewat dokumenter-nya “An Inconvenient Truth”, sebuah film yang mengkampanyekan dampak perubahan iklim, terutama sejak es di Kutub Utara perlahan-lahan mencair, dan bencana alam semakin sering terjadi.

Menurut Gore, sudah saatnya kita menghitung ‘ongkos karbon’ (The Cost of Carbon). Pada tanggal 24 Oktober 2013 lalu, Al Gore menyampaikan pidato singkat mengenai hal ini, dan disiarkan ke sejumlah negara, termasuk Indonesia, Australia, Pakistan, dan Amerika Serikat.

Pernahkah terpikir berapa ‘ongkos karbon’ untuk membuat satu produksi film? Mari sedikit berhitung. Katakanlah kita ingin membuat satu dokumenter pendek dengan durasi sepuluh menit. Berapa kaset film yang diperlukan, dan berapa banyak dari kaset itu yang terbuang setelah film di-edit?

Berdasarkan pengalaman pribadi, biasanya proses satu produksi film atau feature untuk televisi minimal harus menyiapkan 10 kaset untuk dokumenter yang mengambil lokasi outdoor. Lantas bagaimana dengan baterai kamera dan listrik, baik ketika proses ambil gambar hingga editing. Kemudian sampahnya, baik yang berasal dari bagian logistik maupun non logistik. Barulah kita sadar sekarang, betapa banyak dan mahalnya ‘ongkos karbon’ untuk setiap produksi dan sebagai individu.

Cara-cara yang ditempuh Thom Yorke cukup menarik. Mungkin para sineas Indonesia bisa memulai dari langkah “hemat sampah”. Mulai berhitung secara rinci, berapa kaset yang dibutuhkan agar tidak terbuang-buang percuma pada setiap produksi. Jarak tempuh lokasi pengambilan gambar, misalnya, jika dapat mengubah lokasi di kota menjadi suasana pedesaan, tentu ini menghemat ongkos BBM transportasi daripada harus ke desa yang sungguhan.

Semakin kreatif langkah penghematan karbon yang ditempuh, akan semakin bagus. Seperti yang disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden untuk bidang Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, yang penting secara individu masyarakat Indonesia sudah mengetahui dampak kerusakan lingkungan, dan bersedia untuk mengubah kebiasannya.

“Kalau pada level individu misalnya ada sampah ya pungut, di simpan. Ini memang ekstrim sih. Tetapi paling tidak ya jangan buang sampah sembarangan. Kalau keluar rumah itu matikan lampu-lampu dan AC. Lalu kalau belanja jangan dibungkus plastik. Langkah-langkah kecil ini penting dan bermakna besar untuk mengurangi karbon,” ungkap mantan Menteri Lingkungan Hidup ini.

Jadi, berapa ‘ongkos karbon’ kita, sudah siap kah untuk berhemat? Kita pun bisa berkontribusi untuk itu, kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY