The White Crow: Tokyo Review (2018)

The White Crow: Tokyo Review (2018)

11
SHARE
©2019 BRITISH BROADCASTING CORPORATION & MAGNOLIA MAE FILMS

THE WHITE CROW: BIOPIK RUDOLF NUREYEV DENGAN PENDEKATAN ESTETIK TAK BIASA

Sutradara; Ralph Fiennes

Produksi: BBC Films, HanWay Films, Metalwork Pictures, Lonely Dragon, Magnolia Mae Films, Montebello Productions, Work in Progress, Globus Films, Sony Pictures Classics, 2018

Tak semua orang sekarang di luar Eropa yang mungkin mengenal nama Rudolf Nureyev, pebalet terkenal Rusia yang melakukan desersi, membelot dari negaranya meminta suaka ke Paris di tahun 1961. Kisah mirip yang juga diilhami dari kisah nyata aktornya, juga seorang pebalet asal Rusia – Mikhail Baryshnikov, sebelumnya sudah pernah kita lihat dalam White Nights (1985) karya Taylor Hackford. Namun berbeda dengan White Nights yang lebih diarahkan ke fiksi, ada autentisitas yang melingkupi The White Crow sebagai sebuah biopik dengan pendekatan artistik yang memulai langkahnya mengarungi sejumlah festival internasional sejak ditayangkan pertama kali Agustus lalu.

Di tengahnya, tentu nama Ralph Fiennes yang paling menarik perhatian. Meski dikenal lewat peran-peran blockbuster; sebagai M baru di James Bond dan Voldemort di Harry Potter sejak kiprah prestisiusnya di Schindler’s List, Fiennes bukanlah sineas sembarangan. Punya latar panggung dan Shakespearean translator yang kental dari Royal National Theater, aktor Inggris ini terlihat sangat ambisius dalam debut penyutradaraannya di adaptasi Shakespeare, Coriolanus (2011) dan The Invisible Woman (2013) yang diangkat dari karya Charles Dickens, nafas film-film ini lebih dekat ke tone arthouse ketimbang komersil. The White Crow yang juga diproduseri Fiennes atas kecintaannya pada sumber buku Rudolf Nureyev: The Life karya Julie Kavanagh, juga secara ambisius, bahkan lebih, dibangun dengan estetika filmis berbeda.

Dibuka dari kisah kelahiran Nureyev (dewasanya diperankan pebalet yang sama-sama kelahiran Ukraina – Oleg Ivenko dalam debut aktingnya) di sebuah kereta api Siberia tahun 1938, The White Crow bergulir dengan narasi back and forth ke setup konfliknya di Paris 1961 di mana Nureyev yang bergabung dengan Kirov Ballet bertolak untuk sebuah pertunjukan di balik situasi perang dingin yang masih bergejolak. Sejak remaja, Rudi, panggilannya – memang sudah dicap pembangkang oleh kelompoknya yang diawasi langsung oleh pemerintah. Tinggal bersama mentornya, Alexander Pushkin (diperankan Ralph Fiennes) diperlakukan ‘lebih’ oleh istri Pushkin. Di bawah pengawasan ketat agen-agen KGB pendamping rombongan, ia menjalin hubungan dengan penari Perancis Pierre Lacotte (Raphaël Perronaz) dan sosialita Clara Saint (Adèle Exarchopoulos) hingga gejolak dirinya merambah kebebasan tak lagi bisa dibendung kala ia memberontak menolak dipulangkan secara paksa ke Rusia di usia 23 tahun; di bandara Le Bourget, Paris.

Skrip yang ditulis David Hare, nominee Oscar dari The Hours dan The Reader dengan struktur maju-mundur terasa sangat bersinergi dengan pendekatan-pendekatan kreatif Fiennes membesut The White Crow sebagai sebuah biopik non-konvensional walau masih sangat naratif untuk bisa diikuti. Dengan karakter Nureyev sebagai sentralnya, dari luar ia tetap terlihat sebagai biopik, tapi core pengisahannya sebenarnya lebih berupa sebuah coming of age story dari seorang pebalet muda dengan gejolak-gejolak internal yang terkadang terasa lebih teatrikal ketimbang sinematis. Seringkali bergerak perlahan namun subtil, The White Crow memang sebenar-benarnya merupakan film tipikal yang dengan mudah diambil perusahaan seperti Sony Pictures Classics dalam kelas arthouse distributor untuk didistribusikan secara terbatas, walau jelas berarti berkualitas.

Tapi Fiennes memang tak sekalipun main-main memuat keperluan mutlak dalam tampilan autentisitasnya. Terlihat bak seorang sineas yang memiliki antusiasme lebih dalam budaya Rusia, selagi tiap letupan emosinya terasa sangat ditahan, dari set ke dialog, Fiennes dan Hare tak lantas meng-Inggris-Rusia-Perancis-kan semua lewat penggunaan dialek namun secara akurat memuat bahasa asli masing-masing. Dan dalam gambaran profesi karakter-karakternya sebagai latar terkuat penceritaannya, adegan-adegan balet-nya juga terasa dance-heavy serta sangat realistis tanpa memanipulasi satu pun sekuens itu untuk tampil meledak-ledak. Semua bergerak perlahan bak sebuah lakon panggung yang tertata luar biasa baik.

Walau tetap tak bisa menghindar dari tampilan agen-agen pemerintah Rusia yang cenderung komikal dalam membangun eskalasi konfliknya, MVP dalam The White Crow mutlak menjadi milik Oleg Ivenko yang mereka dapatkan lewat casting namun dengan cepat meyakinkan Fiennes atas sosok yang ia cari. Bukan hanya memiliki kemiripan fisik dengan Nureyev muda sekaligus abilitas lebih sebagai seorang solois ballet, Ivenko berhasil menokohkan Nureyev dengan on-screen persona sangat kuat. Gestur dan sorot matanya berhasil menuangkan ambience misterius ke sosok Nureyev; juga gejolak terpendam yang terbaca oleh kita bisa meledak sewaktu-waktu sejak awal, tanpa terlihat berlebihan menuju klimaks di bandara yang dieksekusi sesuai kapasitas dan eksistensinya dalam kemasan yang lebih ‘nyeni’ ketimbang komersil.

Dukungan yang bagus juga datang dari sejumlah pemeran pendukungnya seperti Adèle Exarchopoulos (Blue is the Warmest Color) dengan tampilan Paris ‘60an elegannya hingga Fiennes sendiri, yang kualitas keaktorannya sudah jelas harus diakui tak pernah main-main. Ia berhasil membuat kita percaya bahwa meski karakter Pushkin boleh kerap terlihat halus, lembut bahkan gemulai saat mengajar, tapi punya ketegasan sebagai mentor yang meyakinkan bagi Nureyev. Dari sisi teknis, scoring dari Ilan Eshkeri tampil menonjol bersama sinematografi Mike Eley dalam merekam adegan-adegan balet dan setting lintas negara yang juga tertata lewat desain produksi serba autentik. Sebuah biopik dengan pendekatan estetik sangat tak biasa, juga kaya. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY