Tips & Trik Menulis Resensi Film

Tips & Trik Menulis Resensi Film

1302
SHARE
Sumber: http://kritikpenonton.wordpress.com

Menulis resensi film bagi penggemar film adalah sebuah kepuasan tersendiri. Bagaimana tidak, jika kita mengeluarkan ekspresi dan pendapat kita tentang sebuah film yang kita tonton. Memang sebetulnya menuliskan resensi sebuah film adalah sebuah ekspresi pribadi yang dituangkan untuk memberikan penilaian terhadap sebuah film. Namun lebih dari itu sebetulnya hal itu bias menjadi referensi bagi orang lain yang juga menggemari film agar bisa mendapatkan gambaran tentang film tersebut untuk menontonnya ataupun masukan bagi pembuat film.

Namun menulis resensi film bukan hal mudah. Mengapa? Karena penulis resensi film terkadang menuliskannya dengan cara dan pola yang sama dengan bagaiman mereka menulis tentang sesuatu yang mereka lakukan sehari-hari. Dibutuhkan kesadaran bahwa menulis resensi film adalah sebuah proses mengevaluasi film dan drama serta yang sejenis (termasuk buku) dan ini jauh lebih rumit walaupun lebih memberi kepuasan.

Berikut ini adalah beberapa kiat dari Mark Nichol, seorang penulis (boleh diterapkan secara tidak berurutan) yang bisa diterapkan untuk merancang resensi film (kiat ini mungkin tidak dapat diterapkan untuk ulasan mengenai jenis-jenis komposisi dari tipe lainnnya atau bahkan beberapa produk seperti piranti lunak atau gadget):

  1. Jika kondisi memungkinkan, tinjaulah film itu lebih dari sekali. Jika hanya sekali meninjau akan banyak elemen-elemen penting yang terlewatkan bahkan mungkin keseluruhan makna dari film tersebut juga terlewatkan.
  2. Ekspresikan pendapat anda mengenai film tersebut, tapi jangan mengkritik tanpa landasan. Jika anda tersinggung, kecewa atau malu, berikan alasan yang jelas bahkan walaupun anda pikir bukti-buktinya sudah jelas. Suatu resensi film yang dimaksudkan sebagai serangan pribadi terhadap seorang aktor, sutradara atau penulis skenario atau kecaman mengenai suatu genre merupakan suatu resensi yang buruk.
  3. Sesuaikan gaya resensi anda dengan pembacanya. Jika anda membuat resensi untuk publikasi tradisional, anda diharapkan berlaku cukup adil (walaupun kritik film mainstream diperbolehkan, bahkan diharapkan, untuk menyindir kemampuan membuat film yang benar-benar buruk). Bagaimanapun caranya, tetap beri alasan untuk kritik yang anda berikan dengan pengamatan yang benar yang artinya melontarkan cacian tidak sama dengan evaluasi.
  4. Hindari spoiler. Salah satu perkembangan saat ini yang sangat berbahaya dalam mengulas genre adalah dengan bodoh dan cerobohnya membocorkan poin-poin alur kunci. Menghindari hal ini merupakan pertanda profesionalisme. Perkecualian: resensi film-film yang telah dirilis sebelumnya tidak selalu harus mengikuti aturan ini. Tapi anda akan dinilai sportif bila memberi peringatan kepada pembaca untuk langsung saja membaca paragraf berikutnya jika tidak mau membaca sesuatu yang berbau spoiler. Beberapa situs sebenarnya memberi tanda di bagian spoiler sehingga tidak terlihat, kecuali pengunjung menggerakkan kursor pada bagian yang kosong tersebut untuk menyoroti bagian tersebut dalam resensi.
  5. Nilai cerita dalam film tersebut. Apakah tindakan karakter dalam film itu benar, dan apakah motifnya masuk akal? Adakah konsistensi internal mengenai cara masing-masing orang berperilaku atau apakah ada kata-kata, pemikiran atau tindakannya yang melenceng? Apakah alurnya masuk akal? Apakah jalan ceritanya logis? Apakah busur narasinya terbentuk dengan baik, dengan bentuk yang ekonomis ataukah lunak atau panjang dengan kehampaan yang membuang waktu?
  6. Beri nilai aktornya. Apakah mereka memenuhi harapan seperti yang didiktekan dalam alur dan elemen cerita lainnya? Jika tidak, apakah itu merupakan kekurangan sang actor atau mereka terhambat oleh naskah yang buruk, atau adakah sesuatu dari penampilan mereka yang membuat anda yakin bahwa sutradaranya yang salah? Apa yang dapat dilakukan oleh aktor, penulis naskah atau pembuat film supaya film tersebut menjadi lebih baik?
  7. Evaluasi elemen teknis, Bagaimana sinematografi, penyuntingan, pencahayaan, suara dan komponen lainnya mendukung atau merusak film? Apakah musiknya tepat dan diterapkan secara efektif? Anda tidak perlu mengetahui jargon dalam teknologi film untuk berbagi pikiran mengenai bagaimana elemen-elemen tersebut berkontribusi atau mengurangi nilai film tersebut secara keseluruhan.

Menulis resensi film terkadang merupakan kegiatan yang kurang dihargai. Seringkali, pembaca tidak setuju dengan anda dan banyak orang akan pergi untuk menonton film tersebut tanpa bimbingan bijak dari anda. Bagaimana menghindari rasa frustasi akibat hal tersebut? Menulis tentang film adalah sama seperti menulis tentang hal-hal lainnya, seharusnya dianggap sebagai latihan yang menyenangkan, yaitu anda melakukannya karena anda senang melakukannya. Jika orang lain di luar sana menikmati hasil dari latihan anda, tentu saja lebih baik, tapi anda tetap menjadi pembaca yang utama (dan pengkritik diri anda yang paling cerewet).

Berikut juga tips bagi yang ingin menulis resensi film. Tips berikut adalah bagaimana kita meramu tulisan yang kita buat terkait resensi sebuah film.

  • Berikan keterangan yang jelas mengenai film apa yang diulas sejak dari awal penulisan. Hal ini tidak perlu dimasukkan dalam paragraf pembuka tetapi anda harus memasukkan dalam judul. Selain itu, kita pasti ingin menyebutkan judul film dalam judul artikel, jika kita ingin orang-orang membaca resensi yang kita buat.
  • Cobalah untuk tidak secara serta-merta mengatakan apa yang kita pikirkan mengenai film tersebut untuk menimbulkan rasa penasaran pembaca karena opini kita merupakan alasan pembaca mencari resensi mengenai film tersebut.
  • Tontonlah film itu. Sederhana dan masuk akal, tapi tak perlu kaget mengetahui ada orang yang mencoba menulis resensi suatu film yang tidak pernah ditontonnya. IMDB mungkin merupakan sumber yang bagus untuk memeriksa fakta, tapi kita tetap harus melihat film itu untuk mengembangkan opini yang aktual mengenai film tersebut yang kita butuhkan untuk menulis resensi film yang baik.
  • Tips ini berhubungan dengan keselahan yang kemungkinan dibuat dalam menulis tinjauan film; jangan menggunakan frasa seperti “menurut opini saya”. Hal ini tidak merusak tetapi sangat tidak penting mengulang frasa tersebut, termasuk frasa “saya rasa/pikir”. Pembaca sudah tahu bahwa kita berpikir begini begitu atau tahu bahwa itu memang opini kita. Itulah intinya suatu resensi film.

Mengulas sebuah film adalah seni, bukan sains tapi bukan berarti kita boleh menghamburkan cat di atas kanvas bagaikan monyet melempar lumpur. Berikut adalah petunjuk Do & Don’t yang bisa diingat saat membuat sebuah resensi film.

Do pikirkan bagaimana menggaet pembaca. Mengapa film ini menarik? Adakah adegan yang dapat membuat orang membicarakannya? Seorang bintang yang masuk dalam daftar populer (atau tidak)? Ajukan pertanyaan: kita ingin pembaca terus membaca untuk mendapatkan jawabannya.

Don’t mengumbar alur cerita. Membuat ringkasan cerita adalah penting, khususnya konflik utama yang menggerakan aksi, tapi yang juga penting pastikan anda tidak menulisnya terlalu jauh. Tidak ada yang lebih menyebalkan bagi pembaca bahwa mereka tahu Alien membunuh semua orang dalam Nostromo sebelum menikahi Ripley. (Cuma becanda. Anda harus menonton film itu sendiri untuk mengetahui akhir yang sebenarnya- dan resensi anda juga harus menyiratkan demikian).

Do tanyalah secara jujur pada diri sendiri, apa yang bagus mengenai film itu dan apa yang tidak. Berlaku adil lah! Kebanyakan film memiliki maksud yang baik dan sedikit film yang bisa sempurna. Akting merupakan elemen kunci, tentunya, jangan terlalu berkubang di situ; poin-poin lain juga dapat sama pentingnya termasuk bagaimana film tersebut diambil, musiknya atau kecepatannya. ASpek apa dari cerita atau karakternya yang masuk akal atau menggugah? Apa yang tampaknya seperti dibuat-buat?

Don’t membuat-buat dalam menilai film. Tidak ada gunanya mengeluhkan bahwa Die Hard tidak menunjukkan sisi romantis Bruce Willis atau bahwa Mean Girls bukan film horor. Nilailah suatu film apa adanya: komedi berdasarkan kelucuannya, thriller berdasarkan thrill-nya, blockbuster berdasarkan busted block-nya. Suatu film keluarga mencoba untuk menghibur keluarga, walaupun anda belum tentu terhibur. Ingatlah itu saat menilai kesuksesan suatu film.

Do bersenang-senanglah! Menulislah seolah anda sedang berbincang dengan seorang teman. Jangan takut untuk melontarkan gurauan. Jangan gunakan kata-kata yang panjang kalau kata yang pendek sudah cukup. Dan kecuali jika anda benar-benar perlu, singkirkan kamus.

Don’t menjadi seseorang yang bukan diri anda. Membuat resensi, sama dengan semua penulisan, pada akhirnya bermuara pada kepercayaan. Apakah pembaca percaya anda akan jujur pada mereka? Jika demikian, anda memiliki peluang untuk menggaet mereka. Tapi jika mereka pikir anda berpura-pura untuk menjadi lebih avant garde atau konservatif atau sabar (atau apapun) melebihi diri anda yang sesungguhnya, mereka akan menggertak anda dengan cepat. Pembaca adalah sesuatu yang anda bangun dengan berjalannya waktu, jadi perlakukan mereka dengan benar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY