Tokyo Review – Ryuichi Sakamoto: Coda, Sebuah Kontemplasi kehidupan Dan Usaha Mendengar...

Tokyo Review – Ryuichi Sakamoto: Coda, Sebuah Kontemplasi kehidupan Dan Usaha Mendengar Dunia

49
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Tak hanya sebagai musisi, pianis dan komposer peraih award, Ryuichi Sakamoto dikenal juga sebagai penulis, aktor dan aktivis lingungan. Memulai karirnya di trio musik elektronik YMO (Yellow Magic Orchestra), Sakamoto akhirnya bersolo karir di tahun 1978 dengan album fusion elektronik Thousand Knives. Setelah itu ia merambah diversifikasi genre musik eksperimentalnya dari elektronik, klasik bahkan techno dan hip hop.

Ryuichi Sakamoto (sumber foto: filmpressplus.com)

Dalam dunia film, Sakamoto sudah memenangkan Oscar, BAFTA, Grammy dan dua Golden Globe. Kiprah pertamanya di bidang musik film, di mana Sakamoto juga menjadi aktor bersama musisi David Bowie, Tom Conti dan aktor Jepang Takeshi Kitano adalah di drama berlatar perang Merry Christmas, Mr. Lawrence (1983). Musik tema yang terkenal dari film itu diadopsi dalam singel Forbidden Colours yang menjadi hit internasional. Setelah itu, komposisi Sakamoto yang sangat dikenal adalah dalam The Last Emperor (1987), yang membuahkannya Oscar bersama David Byrne dan Cong Su, The Sheltering Sky (1990, juga dari sutradara Bernardo Bertolucci), Little Buddha (1993), Snake Eyes (1998), Femme Fatale (2002) dan The Revenant (2015).

Coda yang disutradarai Stephen Nomura Schible, sebelumnya dikenal sebagai co-producer di film Sofia Coppola, Lost in Translation dan sutradara dokumenter musik Eric Clapton: Session for Robert J (2004), membawa kita menelusuri perjalanan serta proses kreatif karya-karya Sakamoto tapi tak hanya dalam hal bermusik, juga peranannya sebagai aktivis ikonik melawan nuklir di Jepang. Namun di atas semua, Coda sebenarnya berkisah soal kembalinya Sakamoto dalam membuat karya masterpiece lewat album terakhirnya di tahun 2017, async, di tengah perjuangannya melawan kanker tenggorokan stadium 3 yang terdiagnosis di tahun 2014.

Ryuichi Sakamoto (sumber foto: @tiff 2017-jp)

Memotret Sakamoto baik sebagai auteur musik dan manusia biasa yang tengah bergelut dengan penyakitnya, hal terbaik dalam Coda adalah Schible tak sekalipun membuat pendekatan klise yang banyak kita jumpai dalam dokumenter musik. Coda bukanlah sebuah kisah perjalanan karir maupun penelusuran kehidupan Sakamoto dari muda hingga sekarang, namun lebih ke penggalan proses karirnya beberapa tahun terakhir yang sangat personal serta menginspirasi.

Dimulai dari adegan saat Sakamoto berada di sebuah sekolah yang hancur akibat gempa dan tsunami 2011, di mana ia menemukan baby grand piano dan mencoba mengulik suaranya, Coda bahkan bergerak ke proses-proses detil cara Sakamoto mendengar dunia. Ia mencari suara alam hingga ke situs arctic di Danau Turkana, Kenya untuk merekam suara bongkahan es bahkan ‘memancing suara’ lewat mikrofon dan alat perekam yang dicelupkannya ke danau es.

Stephen Nomura Schible, Sutradara CODA (kiri) bersama Ryuichi Sakamoto (kanan) (Sumber foto: youtube)

Bersama proses-proses pembuatan musik itu, Schible juga mengobservasi aktivitas Sakamoto sebagai aktivis anti-nuklir lewat adegannya mengunjungi zona radioaktif di Fukushima hingga berada di tengah demonstrasi besar. Ada kesedihan yang berganti dengan semangat hidup dalam menghadapi diagnosis kanker, pengobatan juga detil-detil diet sehat yang membuatnya bisa tetap hidup dan berkarya, semua tersampaikan dengan sangat jujur dengan estetika filmis tak biasa yang tak selalu bisa kita jumpai di film-film dokumenter musik, berikut juga percikan karya seni lain dari lukisan Warhol hingga puisi Arseny Tarkovsky yang muncul dalam Coda.

Menangkap eksplorasi intim ini, DoP Neo Sora dan veteran Tom Richmond bergerak dengan cemerlang menangkap sisi-sisi ruang sempit studio bawah tanah Sakamoto di New York hingga shot-shot panoramik dari perjalanan Sakamoto mengarungi alam untuk menemukan suara. Penyuntingan dari Hisayo Kushida juga dengan cermat menjaga pace-nya sepanjang 100 menit, sementara komposisi musik Sakamoto menjadi latar padu seolah sebuah soundtrack kehidupan yang pada akhirnya menunjukkan bahwa kita tak tengah mengikuti perjalanan seorang artis hebat, tapi lebih ke sisi humanis seorang musisi biasa yang mencoba mengalahkan krisis kehidupannya dengan sebuah transformasi terhadap ekspresi musikal.

Sumber foto: @Live_Viewing_jp twitter account

Seringkali senyap tapi dibalut dengan harmoni yang tepat, melankolis namun juga dipenuhi semangat kehidupan, seperti salah satu sekuens terbaiknya kala Sakamoto memainkan musik tema Merry Christmas, Mr. Lawrence di sebuah situs bekas evakuasi Tsunami di sebuah kuil di Jepang, Coda adalah sebuah dokumenter musik yang sangat tak biasa soal kontemplasi kehidupan. Seperti karya-karya musik Sakamoto, gaungnya juga akan tinggal lama setelah Coda berakhir.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY