Tradisi Sinema Tanpa Industri Sinema

Tradisi Sinema Tanpa Industri Sinema

1402
SHARE
Bioskop Permata di Yogyakarta

Oleh: Daniel Rudi Haryanto

Setiap bepergian ke daerah-daerah di Indonesia untuk membuat film dokumenter, ada kebiasaan saya untuk bertanya kepada penduduk setempat tentang beberapa hal. Pertama adalah gedung bioskop, kedua adalah film apa yang mereka ingat dan ketiga adalah di mana keberadaan warung kopi.

Ada satu pengalaman membuat dokumenter di Halmahera Utara pada tahun 2003. Di kota kecamatan Tobelo (Sebelum pemekaran seperti sekarang) terdapat sebuah gedung bioskop yang masih memutar film Indonesia. Saya lupa judulnya, tetapi saya ingat pada papan pengumuman gedung bioskop tertempel selembar poster kecil film Indonesia. Pada selembar poster itu terdapat gambar seorang perempuan bergaun merah dengan paha dan dada yang terbuka.

Kehadiran saya ke Tobelo waktu itu adalah untuk mengerjakan sebuah riset di bawah naungan UNDP. Topik riset adalah seputar dampak konflik yang terjadi di Tobelo, Galela dan Tobelo Selatan. Dari pengalaman menemukan gedung bioskop di Tobelo itu saya menemukan distribusi film produksi orang Indonesia sampai di wilayah yang sangat jauh dari Jakarta.

Pada kesempatan lainnya, pada tahun 2012 di Serdang Bedagai, Sumatra Utara. Saya hadir di wilayah itu juga untuk mengerjakan sebuah film dokumenter. Saat mampir di warung kopi di pasar Serdang Bedagai, saya mendapati cerita tentang gedung di seberang warung kopi. Menurut beberapa orang tua yang saya temui di warung kopi itu, gedung itu dulunya adalah sebuah gedung bioskop. Nama gedung bioskop itu adalah Admiral?

Orang-orang tua di warung kopi itu kemudian membicarakan film yang pernah mereka tonton. Jaka Sembung dan Si Buta dari Goa Hantu adalah dua tokoh yang mereka ingat. Tentu ini menjadi menarik , karena film yang menceritakan keberadaan dua tokoh tersebut masih membekas dalam ingatan orang-orang tua di warung kopi. Padahal, film tersebut merupakan film yang diproduksi pada tahun 1981 dan 1970.

Dalam kesempatan berbincang itu saya menyampaikan pertanyaan, film apa lagi yang mereka ingat? Mereka tidak ingat lagi film apa, sebab tidak ada lagi film Indonesia yang hadir di bioskop tersebut, sejak 1990 an bioskop mulai jarang memutar film dan pada akhirnya tutup, bangkrut.

INDRA DAN PERMATA

Bioskop Indra dan Bioskop Permata terdapat di Jogjakarta. Bioskop Permata terdapat di kawasan Malioboro, sedangan bioskop Indra ada di sekitar wilayah Pakualaman. Keduanya berada di pusat perekonomian Yogyakarta.

Saat saya menyambangi bioskop Indra, saya bertemu dengan Pak Sugeng. Ia adalah proyeksionis yang telah puluhan tahun bekerja mengoperasikan projector film.

Malam itu saya memperhatikan kegiatan pemutaran film di gedung bioskop Indra. Penonton datang sejak sore. Mereka menunggu jadwal pemutaran dengan duduk-duduk di teras gedung bioskop sambil merokok, minum kopi atau menceritakan film-film yang pernah mereka tonton. Dari beberapa orang yang saya ajak ngobrol, saya tahu mereka datang dari beberapa wilayah, ada dari Bantul, ada dari Patuk. Kedua wilayah itu jauh dari pusat kota. Mereka datang bersepeda ontel.

Saat ruang tiket dibuka, mereka satu-satu berdiri antri dan membeli tiket. Harga tiket tidak terlalu mahal. Sekitar 5 ribu rupiah. Seorang teman pak Sugeng bertugas mencatut tiket. Penonton masuk satu-satu. Menariknya, di tahun 2008 itu saya masih mendapati pemandangan yang khas gedung bioskop tanpa AC.

Di ruang sinema, dalam suasana gelap, masih dapat ditemukan cipratan korek api, seorang, dua orang, tiga orang pada tempat duduk yang berbeda mulai merokok di dalam ruangan. Mirip dengan pemandangan yang seringkali terdapat di film-film Eropa era 60 an yang masih hitam putih. Film yang diputar malam itu adalah film dari Hongkong, aktornya Andi Lau, judulnya saya sudah lupa.

Di Halmahera, Serdang Bedagai dan Yogyakarta saya menyaksikan masyarakat menggemari sinema. Mereka datang ke gedung bioskop, sebagian datang dari tempat yang jauh. Mereka membeli tiket, menonton dan pulang dengan membawa cerita dan kemudian merindukan film baru. Saya menyebutnya sebagai tradisi penonton sinema.

Dari Aceh Sumatra hingga Papua, masyarakat Indonesia telah memiliki tradisi menonton film, baik di gedung bioskop atau di tanah lapang pada acara layar tancap. Mereka mengenal Jaka Sembung dan Si Buta Dari Goa Hantu. Mereka juga mengenal Superman, Agen 007 James Bond atau pendekar-pendekar Cina dan Pahlawan-pahlawan film Laga India berikut penari dan penyanyinya. Masyarakat kita mengenal tokoh-tokoh film Jepang dan Korea, juga sebagian tokoh-tokoh film Eropa.

Akan tetapi, tradisi sinema di masyakat penonton Indonesia belum mampu terpenuhi oleh film yang diproduksi sendiri oleh orang Indonesia. Hari ini televisi padat oleh tayangan sinetron dan Film Televisi (FTV) akan tetapi bisnis bioskop lokal untuk film buatan orang-orang Indonesia bangkrut, Bioskop 21 dan XXI dapat bertahan dan mengembangkan usaha dari film-film Holywood.

Pada kenyataannya budaya sinema terjadi di Indonesia, akan tetapi belum mampu melahirkan sebuah industri, yang dimaksudkan adalah sebuah sistem produksi, distribusi dan eksibisi film Indonesia yang mampu berkelanjutan. Dalam hal ini setiap elemen bisnis perfilman terlibat di dalamnya.

Jalan menuju industri film di Indonesia nampaknya masih jauh, bukan karena masyarakat penonton, tetapi karena kesadaran berindustri para pegiat produksi perfilman di Indonesia sendiri belum mampu mengatasi tantangannya sendiri. Quo vadis tradisi sinema di masyarakat yang tanpa sistem industri ini?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY