Turah: Kisah Perjuangan Hidup Dari Pusat Republik Yang Terpinggirkan

Turah: Kisah Perjuangan Hidup Dari Pusat Republik Yang Terpinggirkan

128
SHARE

TURAH, sebuah film nasional bergenre drama yang diproduksi oleh Rumah Produksi Fourcolours Films dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah yang sukses memproduseri film Siti meraih juara sebagai Film Terbaik pada FFI 2015 dan Wicaksono Wisnu Legowo yang dipercaya sebagai sutradara juga penulis skenario film ini.

Wicaksono Wisnu, sineas muda asal Tegal, tertarik untuk mengangkat ke layar lebar kisah hidup para warga di Kampung Tirang. Film Turah menggambarkan problema sosial masyarakat setempat, yang merupakan potret realita kehidupan yang terjadi di sebuah kampung di pesisir utara, dekat dengan Pelabuhan Tegalsari, Kota Tegal. Perkampungan yang termasuk wilayah miskin serta terpencil, dengan listrik yang menyala hanya pada malam hari dan mengalami kesulitan akses pada air bersih.

Humas Fourcolours Films, Narina Saraswati menerangkan bahwa film Turah dikerjakan dalam waktu kurang lebih satu minggu. Pembuatan film ini juga melibatkan para seniman Tegal, seperti Yono Daryono, Ubaidillah dan Slamet Ambari. “Film ini menceritakan kerasnya persaingan hidup yang menyisakan orang-orang kalah di Kampung Tirang. Mereka dijangkiti pesimisme dan diliputi perasaan takut,” ungkapnya.

Yono Daryono berperan sebagai Darso, seorang juragan kaya yang telah memberi lingkungan sekitarnya ‘kehidupan’. Pakel (Rudi Iteng), seorang sarjana penjilat di lingkaran Darso yang pintar membuat warga kampung makin bermental kerdil sehingga dengan mudah diperdaya untuk terus mengeruk keuntungan. Tokoh Turah (Ubaidillah) dan Jadag (Slamet Ambari) merupakan tokoh yang berusaha melawan rasa takut. Mereka ingin meloloskan diri sekuat tenaga dari situasi di Kampung Tirang, agar tidak lagi jadi manusia kalah.

Kisahnya berlatar belakang di pesisir pantai utara, dekat dengan Pelabuhan Tegalsari Kota Tegal, dimana ada sebuah perkampungan yang berdiri di atas tanah timbul. Kampung tersebut dikelilingi oleh air laut dan termasuk wilayah kategori miskin serta terpencil. Listrik menyala hanya pada malam hari serta tidak ada air bersih. Oleh masyarakat sekitar, kampung itu dikenal sebagai Kampung Tirang. Kondisi tersebut menginspirasi sutradara muda Tegal, Wicaksono Wisnu Legowo, untuk mengangkat kisah hidup para warga di Kampung Tirang melalui film layar lebar dengan lakon Turah. Proses produksi film itu dilaksanakan di Kampung Tirang, dengan menggandeng para aktor teater, wartawan, dan masyarakat sekitar

Hadirnya optimisme, keberanian dan harapan untuk dapat terlepas dari penderitaan kehidupan, hadir di dalam diri Turah dan juga Jadag. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, mendorong mereka untuk menghadirkan keberanian dan juga meloloskan diri dari skenario yang sangat licik. Hal ini menggambarkan usaha dan daya perjuangan mereka berdua serta orang-orang di Kampung Tirang dalam menghadapi hidup yang keras.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY