Turino Djunaedy: Tokoh Film Nasional Multitalenta

Turino Djunaedy: Tokoh Film Nasional Multitalenta

1545
SHARE

Mungkin sekarang ini, banyak orang  tak lagi mengenal nama Turino Djunaedy, seorang tokoh sinema Indonesia yang multitalenta. Peraih penghargaan Lifetime Achievement Award dalam Festival Film Asia Pasifik di Jakarta ini pada 2001 dan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI Megawati Soekarnoputri pada tahun 2004 ini, menggeluti hampir semua profesi di bidang perfilman, mulai dari aktor, penulis skenario, sutradara, hingga produser saking cintanya dia pada dunia film. Dia termasuk salah satu orang yang pada awalnya mempelopori distribusi film-film Indonesia ke banyak wilayah Nusantara. Almarhum H. Misbach Yusa Biran pernah mengatakan bahwa Turino bersama tokoh lain seperti Usmar Ismail, adalah perintis industri film nasional setelah era kemerdekaan.

Tokoh ini terlahir dengan nama Teuku Djuned ini lahir di Padang Tiji, Aceh pada tanggal 6 Juni 1927. Turino pernah mengecap pendidikan menengah atas, Kursus Radio Telegraphist di Medan (1943) serta Kursus Cinematografi dan produksi film di Tokyo (1964). Sebelum masuk ke dunia film ia sebenarnya telah bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada masa Perang Kemerdekaan dari 1946 sampai 1951.

Namun dalam perjalanannya, dia justru masuk ke dalam dunia film, diawali dengan mengedarkan film-film Mesir di Sumatera. Ketertertarikannya pada film Indonesia ketika untuk pertama kalinya menonton film Indonesia Menanti Kasih, yang di bintangi A. Hamid Arief, tahun 1949. Dan saat sedang mencoba mencari film-film Indonesia di Jakarta, dia malah ditawari untuk bermain film oleh PT Golden Arrow (Panah Mas) dalam film Meratap Hati (1950) sebagai penampilan perdananya bermain film. Kemudian berlanjut pada film Seruni Layu tahun 1951 dan Si Mientje tahun 1952. Saat bermain dalam Sri Asih (1954) di mana ia juga merangkap sebagai Sutradara, ia bertemu dengan Mimi Mariana antara tahun 1955-1958, yang kemudian menjadi istrinya.

Pada saat Turino masih menjadi pengedar film, dia memiliki perusahaan dagang GAF yang didirikannya pada awal 1950-an yang lalu diubah menjadi perusahaan pembuat film. Produksi film pertamanya yaitu film Pulang tahun 1952. Lalu berturut-turut film Rentjong dan Surat tahun 1953, film Sri Asih tahun 1954 dan film Kopral Djono tahun 1954.

Pada tanggal 13 Desember 1959, dia mendirikan PT Sarinande Films, sebagai bentuk implementasi dari keinginan awalnya, yaitu distribusi dan berdagang film dan film Iseng adalah produksi pertamanya yang mengorbitkan nama Alwi dan Oslan Hussein tahun 1959. Sarinande telah memproduksi lebih dari 40 judul film sampai tahun 1980. Turino juga membimbing Pembantu Sutradara seperti Has Manan, Bay Isbahi dan Arizal. Salah satu filmnya yang paling terkenal adalah Film Bernafas dalam Lumpur (1970 dan 1991)

Pada masa film masih dalam format hitam-putih, ia telah membuat 17 judul film dan ketika memasuki masa film berwarna, dia membuat film dengan judul Jakarta, Hongkong dan Macau (1968). Lalu dia juga membuat film yang bisa dianggap mencetak box-office pada masa tahun 1970-an, yaitu film Bernafas Dalam Lumpur (1970).

Selain aktif di perusahaan yang didirikannya sebagai Direktur, Produser, Sutradara dan Penulis Skenario, ia juga aktif di berbagai organisasi perfilman. Seperti ikut mendirikan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) dan berperan penting dalam mendirikan yayasan nasional Festival Film Indonesia, yang mengorganisir pelaksanaan FFI mulai dari tahun 1973. Dia juga pernah aktif di Taman Iskandar Muda, sebuah organisasi masyarakat Aceh di Jakarta dan menjadi ketua Yayasan Prambanan (Apotik dan Klinik).

Pada tanggal 8 Maret 2008, tokoh paripurna perfilman Indonesia ini, meninggal dunia pada usia 80 tahun di RS Setia Mitra, Jakarta. Beliau memang diketahui sudah lama menderita sakit karena stroke. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor. Slamet Rahardjo, Aktor dan Sutradara senior pernah mengatakan bahwa Turino memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam dunia perfilman Indonesia dalam menciptakan peraturan dan pembinaan dalam dunia film. Slamet Rahardjo juga pernah mengatakan bahwa Turino adalah seorang produser film yang pertama kali memberikannya kesempatan bermain film, yaitu film besutan Teguh Karya yang berjudul Wajah Seorang Laki-Laki. Turino Djunaedy atau Tengku Djuned, adalah salah seorang arsitek dalam bangunan perfilman Indonesia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY