Usmar Ismail Award 2016 Bertema Penghargaan Insan Film Indonesia Sesungguhnya

Usmar Ismail Award 2016 Bertema Penghargaan Insan Film Indonesia Sesungguhnya

1470
SHARE

Menyambut Hari Film Nasional ke-66 yang jatuh pada 30 Maret 2016, Yayasan Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) menggelar Usmar Ismail Award (UIA) 2016 sebagai ajang penghargaan baru bagi insan film Tanah Air. Menurut Adisurya Abdy, Ketua Penyelenggara UIA, di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Januari silam., ada beberapa alasan yang mendasari ajang ini diantaranya adalah film Darah dan Doa karya Usmar Ismail yang menjadi tonggak film Indonesia. Hari pertama pengambilan gambar film ini dilakukan pada 30 Maret 1950 dan dijadikan Hari Film Nasional.

Kedua, Usmar Ismail merupakan sutradara film Pedjuang yang berhasil membawa film ini ditayangkan dalam Festival Film Internasional Moskow ke-2 dan menjadi film Tanah Air pertama yang diputar dalam festival internasional. “UIA akan menambah referensi ajang penghargaan insan perfilman Indonesia. Semakin banyak ajang penghargaan jadi lebih baik,” ujarnya.

sumber: koran-sindo.com
sumber: koran-sindo.com

Lebih dari itu, membandingkan dengan Festival Film Indonesia (FFI), Adisurya mengatakan bahwa FFI sekarang sebagai sebuah ajang penghargaan film yang seharusnya representatif terhadap industri sinema, justru tak lagi memiliki mekanisme yang ideal. Selain itu, menurutnya FFI itu tidak inklusif dan terbatas. Namun demikian, Adisurya mengakui bahwa ragam ajang penghargaan film yang ada akan membuat industri sinema makin semarak.

“Jujur saja, FFI sudah masuk ke koridor narsisme. Sudah ada like or dislike (konflik kepentingan), dan sebagainya. Apakah itu benar atau salah? Saya tidak mau katakan. Tapi biarpun begitu, semua festival film punya warna sendiri-sendiri, dengan ragam penilaian akan memberi kekayaan yang lebih,” ujarnya.

Dalam perhelatan perdananya ini pula, akan diadakan beberapa program UIA 2016 yang telah dimulai dengan berziarah ke makam ‘Bapak Perfilman Indonesia’ Haji Usmar Ismail di TPU Karet Bivak, Karet, Jakarta Selatan, pada Januari lalu. Adapun program lain yang menyusul adalah berupa roadshow, seminar, pameran, workshop, penjurian film, dan pemberian penghargaan.

 

Proses dan Hasil Penjurian

Adisurya Abdy, mengatakan bahwa insan film Indonesia tak perlu mendaftarkan karya-karya layar lebarnya agar bisa dinilai dalam ajang penghargaan perfilman tersebut. Dewan juri akan menilai semua film Indonesia yang sudah beredar di gedung bioskop Tanah Air. Syaratnya, film-film itu sudah tayang sejak Desember 2014 hingga Februari 2016. “Kalau misalnya festival film lain membuka pendaftaran peserta. Tetapi kami tidak. Cuma menilai film yang sudah beredar,” tuturnya.

Usmar-Ismail-Award-1-390x205

Dia juga menambahkan bahwa Usmar Ismail Award ini memang sedikit berbeda dari ajang apresiasi film lain yang ada di Tanah Air. Sebab, UIA sendiri melibatkan langsung seluruh pewarta film, sama seperti penganugrahan Golden Globe di Amerika Serikat.

“Penjurian akan dilakukan oleh para pewarta film. Golden Globe penilaiannya itu dari jurnalis juga,” kata Adisurya dalam konferensi pers di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Januari silam.

Adisurya juga menjelaskan, alasan pewarta film yang dilibatkan dalam penjurian bukan insan film adalah karena pewarta dianggap sudah berpengalaman menilai, mengkritik dan sudah menonton 70 persen film-film Indonesia. “Juga mengapa insan film tidak menilai film karena kami menghindari like dan dislike serta narsisme. Jadi kami mencoba mengembalikan kemurnian festival film,” ucapnya.

Ditambahkannya, sebelum penilaian dilakukan dewan juri yang teridiri dari pewarta film akan diberikan pembekalan dasar-dasar produksi film. Dari fotografi, sinematografi, penyutradaraan, penulisan skenario, kostum dan hal teknis lainnya. “Jadi mereka punya dasar wawasan dalam menilai. Penentuan jurinya nanti akan dimatangkan, ada pedomannya. Kami ada mekanisme. Juri juga dari seluruh provinsi di Indonesia,” katanya.

Ketua Dewan Juri UIA 2016 Teguh Imam Suryadi mengaku bahwa seluruh konsep dan kategori UIA 2016 tak berbeda jauh dengan Golden Globe. “Kategorinya per genre. Seperti Golden Globe. Misalnya untuk film bergenre komedi, drama atau horor terbaik. Tetapi sekarang belum ditentukan. Masih dibicarakan,” pungkasnya.

Untuk teknis penjuriannya sendiri UIA 2016 melibatkan wartawan dalam dua tahap. Tahap awal hingga nominasi, dilakukan oleh 15 orang juri. Kemudian tahap kedua –nominasi sampai ke pemenang dilakukan oleh 15 juri awal ditambah 6 juri lainnya yang merupakan wartawan perwakilan dari Sabang sampai Merauke.

Adapun anggota Dewan Juri terdiri dari Sihar Ramses Simatupang (Sinar Harapan), Bambang Sulistyo (Majalah Gatra), Susi Ivvaty (Kompas), Tertiani ZB Simanjuntak (The Jakarta Post), Benny Benke (Suara Merdeka), Puput Puji (Bintang.com), Shandy Gasela (Detik.com), Bobby Batara (Majalah All Film), Adrian Jonathan Pasaribu (Cinema Poetica), Herman Wijaya (Tabloid Bintang Film) dan Ami Herman (Riauinfo.com). Sementara juri dari kalangan wartawan senior, kritikus dan pengamat di antaranya Dimas Supriyanto (Pos Kota), Yan Wijaya, Wina Armada Sukardi dan Bens Leo.

Jumpa pers Usmar Ismail Award 2016 (Sumber foto: Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
Jumpa pers Usmar Ismail Award 2016 (Sumber foto: Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)

Seleksi terhadap 140an film Indonesia (periode 1 Desember 2014 hingga 29 Februari 2016) yang dilakukan Dewan Juri Usmar Ismail Awards 2016, mengerucut menjadi 7 (tujuh) judul pilihan, yaitu Guru Bangsa: Tjokroaminototo, Surat dari Praha, Dibalik 98, Mencari Hilal, A Copy of My Mind, Siti, dan Bulan di Atas Kuburan.

Demikian hasil rapat penjurian ke-3 UIA 2016 berlangsung di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/3/2016). Pada saat yang sama, 15 anggota dewan juri juga memutuskan 7 (tujuh) nominator dari setiap ke-10 (sepuluh) unsur film pilihan.  Ke-10 unsur tersebut adalah Sutradara, Pemeran Utama Pria, Pemeran Utama Wanita, Pemeran  Pendukung Pria, Pemeran Pendukung Wanita, Penata Kamera, Penata Gambar, Penata Artistik, Penata Musik, dan Penata Suara.

“Dari 10 unsur tersebut akan dikerucutkan menjadi 3 (tiga) sekaligus ditetapkan sebagai nominasi,” kata Ketua Bidang Penjurian dan Kehumasan UIA 2016, Teguh Imam Suryadi, dalam siaran pers yang diterima redaksi, Kamis (10/3/2016) pagi.

Menurut Teguh, pengumuman nominasi UIA 2016 akan disiarkan oleh stasiun Trans7 pada tanggal 18 Maret 2016. Sedangkan Malam Puncak UIA 2016 akan disiarkan langsung di televisi yang sama pada Sabtu, 2 April 2016.

Berikut ini daftar tujuh film dan unsur hasil pilihan Dewan Juri UIA 2016:

FILM

  1. Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  2. Surat dari Praha
  3. Dibalik ’98
  4. Mencari Hilal
  5. A Copy of My Mind
  6. Siti
  7. Bulan di Atas Kuburan

SUTRADARA 

  1. Garin Nugroho – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  2. Angga Dwimas Sasongko – Surat dari Praha
  3. Lukman Sardi – Dibalik 98
  4. Ismail Basbeth – Mencari Hilal
  5. Joko Anwar – A Copy of My Mind
  6. Eddie Cahyono – Siti
  7. Edo Sitanggang – Bulan di Atas Kuburan

PEMERAN UTAMA PRIA

  1. Tio Pakusadewo – Surat dari Praha
  2. Deddy Sutomo – Mencari Hilal
  3. Reza Rahadian – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  4. Tio Pakusadewo – I Am Hope
  5. Vino G Bastian – Toba Dreams
  6. Chicco Jerikho – A Copy of My Mind
  7. Reza Rahadian – Kapan Kawin?

PEMERAN UTAMA WANITA

  1. Tatjana Saphira – I Am Hope
  2. Tara Basro – A Copy of My Mind
  3. Adinia Wirasti – Kapan Kawin?
  4. Chelsea Islan – Dibalik 98
  5. Julie Estelle – Surat dari Praha
  6. Sekarsari – Siti
  7. Ine Febriyanti – Nay

PEMERAN PENDUKUNG PRIA

  1. Mathias Muchus – Toba Dreams
  2. Donny Alamsyah – Dibalik 98
  3. Tanta Ginting – 3/ Tiga
  4. Adi Kurdi – Kapan Kawin?
  5. Oka Antara – Mencari Hilal
  6. Donny Alamsyah – Bulan di Atas Kuburan
  7. Tio Pakusadewo – Bulan di Atas Kuburan

PEMERAN PENDUKUNG WANITA

  1. Christine Hakim – Pendekar Tongkat Emas
  2. Jajang C Noer – Toba Dreams
  3. Widyawati – Surat dari Praha
  4. Alessandra Usman – I Am Hope
  5. Titi Dibyo – Siti
  6. Ria Irawan – Bulan di Atas Kuburan
  7. Putri Ayudia – Guru Bangsa: Tjokroaminoto

PENATA KAMERA 

  1. Ipung R Saiful – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  2. Ivan Anwal Pane – Surat dari Praha
  3. Batara Goempar Siagian – Aach.. Aku Jatuh Cinta
  4. Donni Himawan Nasution dan Samuel Uneputty – Bulan di Atas Kuburan
  5. Satria Kurnianto – Mencari Hilal
  6. Roy Lolang – Toba Dreams
  7. Gunnar Nimpuno – Pendekar Tongkat Emas

PENATA GAMBAR

  1. Bounty Umbara – 3 (Tiga)
  2. Ahsan Andrian – Filosofi Kopi
  3. Wawan I Wibowo – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  4. Wawan I Wibowo – Mencari Hilal
  5. Arifin Cuunk – A Copy of My Mind
  6. Ahsan Andrian – Surat dari Praha
  7. Yoga Krispratama – Dibalik 98

PENATA ARTISTIK

  1. Chupy Kaisuku – Surat dari Praha
  2. Eros Eflin – Pendekar Tongkat Emas
  3. Oscart Firdaus – Toba Dreams
  4. Allan Sebastian – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  5. Djufri Tanissan – Bulan di Atas Kuburan
  6. Frans XR Paat – Dibalik 98
  7. Allan Sebastian – Aach.. Aku Jatuh Cinta

PENATA MUSIK

  1. Viky Sianipar – Bulan di Atas Kuburan
  2. Andi Rianto – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  3. Charlie Meliala – Mencari Hilal
  4. Thoersi Argeswara – Surat dari Praha
  5. Viky Sianipar – Toba Dreams
  6. Krisna Purna – Siti
  7. Erwin Gutawa – Pendekar Tongkat Emas

PENATA SUARA

  1. Khikmawan Santosa – A Copy of My Mind
  2. Satrio Budiono – Guru Bangsa: Tjokroaminoto
  3. Satrio Budiono – Surat dari Praha
  4. Mohamad Ikhsan Sungkar dan Khikmawan Santosa – Dibalik 98
  5. Satrio Budiono – Mencari Hilal
  6. Satrio Budiono – Pendekar Tongkat Emas
  7. Khikmawan Santosa  – 3 (Tiga).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY