Wawancara Eksklusif bersama Ha Jung-Woo di Okinawa International Movie Festival Ke-8

Wawancara Eksklusif bersama Ha Jung-Woo di Okinawa International Movie Festival Ke-8

792
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Sebagai salah satu tamu spesial di OIMF ke-8, aktor/sutradara Korea Ha Jung-woo menghadiri pemutaran filmnya ‘Chronicle of a Blood Merchant’ (허삼관) dalam segmen Special Invitation (22/4). Film Korea Selatan produksi tahun 2015 ini disutradarai dan ikut ditulis oleh Jung-woo sendiri, merupakan adaptasi dari novel Cina berjudul sama karya Yu Hua di tahun 1995.

Ha Jung-Woo, saat menghadiri pemutaran filmnya ‘Chronicle of a Blood Merchant’ (허삼관) dalam segmen Special Invitation di OIMF Ke-8, 2016.
Ha Jung-Woo (kanan), saat menghadiri pemutaran filmnya ‘Chronicle of a Blood Merchant’ (허삼관) dalam segmen Special Invitation di OIMF Ke-8, 2016.

Kinescope mendapat kesempatan melakukan wawancara eksklusif setelah stage appearance Jung-woo seusai pemutarannya di Cinema Rycom, sinema baru mereka di gedung AEON Mall Kitanakagusuku yang terletak cukup jauh dari pusat kota Naha, Okinawa. Walaupun wawancara dilakukan mendekati tengah malam, Ha Jung-woo tetap menjawab pertanyaan kami dengan ramah dan mengatakan bahwa dia sudah pernah berkunjung ke Bali dan juga Timor Leste yang pernah menjadi bagian dari Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

Q: ‘Chronicle of Blood Merchant’ sudah ditayangkan di Indonesia sekitar Februari tahun lalu. Selain konflik-konflik cinta dan keluarga yang ada di dalamnya, ‘Chronicle of  a Blood Merchant’ memuat satu informasi sangat penting soal donor darah ilegal di Korea tahun 50an. Apa yang menjadi pertimbangan utama untuk memilih adaptasi novel ini sebagai film kedua yang Anda sutradarai?

A: Ketika saya membaca novel Yu Hua pertama kali, saya merasa novel ini akan sangat menarik buat difilmkan. Ada style-style filmmaking yang mungkin akan sangat mendukung terhadap penceritaannya. Jadi ya, saya memang sangat suka dengan apa yang dipaparkan Yu Hua soal keluarga di balik latar aktivitas donor darah ilegal di Cina pada masa itu, tapi saya memindahkannya ke Korea Selatan dalam kultur yang dekat. Namun begitu, yang membuat saya begitu tertarik memindahkannya ke film adalah sisi komedi gelapnya, juga karakter-karakternya dengan detil-detil karakterisasi yang menurut saya sangat menarik.

Selain itu, saya juga sudah melihat film-film yang diproduksi Ahn Dong-gyu (produser yang juga mendampingi Jung-woo selama wawancara), diantaranya ‘The Perfect Match’ (2002), ‘APT’ (2006), ‘Traces of Love’ (2006), ‘The Grand Heist’ (2012), semua adalah film-film yang baik, apalagi ia sudah mengembangkan proyek ini sejak hampir 20 tahun. Ketika Dong-gyu datang ke saya, saya dengan cepat menyetujuinya.

image (4)
Ha Jung-Woo (kedua dari kanan), saat memberikan sambutan di acara pemutaran filmnya ‘Chronicle of a Blood Merchant’ (허삼관) dalam segmen Special Invitation di OIMF Ke-8, 2016.

Q: Adakah perbedaan bagi Anda dalam memilih proyek film kala Anda berperan sebagai aktor atau sutradara?

A: Ada. Sebagai aktor, saya meletakkan fokus pada apa yang dimaui audiens. Bagaimana mereka bisa menerima filmnya dengan baik. Sebagai sutradara, sejauh ini saya sudah menyutradarai dua film, ‘Rollercoaster / ‘Fasten Your Seatbelt’ (2013) dan film ini, hal pertama yang saya pikirkan adalah cocok tidaknya kontennya terhadap gaya penyutradaraan saya.

Q: Tapi dua film karya Anda punya tone yang sangat berbeda, biarpun sama-sama punya elemen black comedy di dalamnya….

A: Ya, mungkin salah satunya ada di elemen itu.

Q: Oke, profesi saya lainnya adalah seorang dokter dan saya selalu mengagumi bagaimana film Korea memuat adegan-adegan yang berkaitan dengan hal medis secara tepat. ‘Chronicle of a Blood Merchant’ pun sangat mulus membesut adegan-adegan berlatar medisnya, bahkan sangat detil sesuai dengan set tahunnya. Apakah Anda menggunakan konsultan medis dalam membangun adegan-adegan itu?

A: Oh, terima kasih sudah memuji, tapi saya kira memang benar. Film-film kami jarang main-main dalam detil adegan. Tapi saya tidak secara resmi mempekerjakan konsultan medis di sini. Saya lebih melakukan riset mendetil dan saya rasa penting sekali buat menampilkan bagaimana aktivitas donor darah ilegal itu dijadikan sumber pencarian nafkah oleh orang-orang di tahun itu. Saya juga melakukan riset mendalam di beberapa perpustakaan untuk memindahkan set China dalam novelnya ke Korea yang memang sama-sama mengalaminya, dan baru tahu kalau hampir 20 tahun setelah tahun 50an baru ada Palang Merah yang resmi di Korsel.

Q: Indonesia punya jaringan bioskop CGV yang paling banyak mengimpor film-film Korea, dan saya rasa Anda harus tahu bahwa Anda adalah satu-satunya aktor yang semua filmnya diimpor ke Indonesia sejak ‘The Berlin File’. Audiens kami begitu menyukai film Korea dan banyak yang mengatakan kekuatannya ada dalam perspektif emosi yang kalian hadirkan. Apa visi Anda sendiri tentang hal ini, mengapa sinema Korea bisa terus berkembang makin besar di negara-negara Asia hingga mengalahkan China atau Jepang?

A: (tertawa) Terima kasih, senang sekali mengetahui hal itu. Saya kira ada passion yang besar dalam filmmaking walaupun kami tak selalu punya bujet cukup untuk membuat film. Ini juga terjadi dalam banyak industri, bukan hanya Korea. Ketika bujet sangat diperlukan untuk hasil yang baik, kita tak bisa membeli passion dengan uang. Jadi bicara sinema Korea, saya rasa kekuatan terbesarnya ada pada passion para filmmaker-nya yang selalu ingin menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Ha Jung-Woo foto bersama dengan Kontributor Kinescopemagz.com, Daniel Irawan ayng meliput langsung ke 8th Okinawa International Movie Festival OIMF) 2016 di Okinawa, Jepang.
Ha Jung-Woo foto bersama dengan Kontributor Kinescopemagz.com, Daniel Irawan ayng meliput langsung ke 8th Okinawa International Movie Festival OIMF) 2016 di Okinawa, Jepang.

Q: Peran utama wanita Anda, Ha Ji-won juga merupakan salah satu aktris Korea paling terkenal di Indonesia. Apakah ia pilihan pertama Anda untuk memerankan Heo Ok-ran (nama karakter Ji-won di filmnya) ?

A: Anda sudah menonton filmnya, jadi pasti tahu kalau karakter itu punya kesulitan dalam menampilkan karakter yang terentang selama 15 tahun dari pacar yang cantik ke seorang ibu dengan konflik besar. Ha Ji-won adalah nama pertama yang muncul ke dalam benak saya sebagai aktris dengan kualitas yang bisa melakukan itu, dan walaupun ini ide saya, semua produser juga berpikiran sama. Jadi ya, Ha Ji-won memang pilihan pertama kami.

Q: Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah juga Anda merupakan pilihan pertama untuk memerankan karakter utama dalam film ini?

A: Maaf, saya tidak bisa menjawab itu. Mungkin saya akan perlu waktu lebih untuk berpikir apakah itu benar-benar yang saya mau (tertawa).

Q: Tidak masalah (tertawa). Di antara proyek-proyek Anda dalam waktu dekat ini, yang mana yang paling menarik atau paling sulit tantangannya?

A: Mungkin Anda sudah tahu film saya dengan Park Chan-wook, ‘Agasshi (The Handmaiden)’, yang merupakan adaptasi novel ‘Fingersmith’ dari Sarah Waters akan rilis di bulan Juni selain ditayangkan di Cannes, ‘Tunnel’ rilis di Agustus, dan bulan depan saya akan mulai syuting dengan sutradara Kim Yong-hwa untuk film yang berjudul ‘With God’. Ketiga film itu punya kapasitas tantangan yang berbeda bagi saya sebagai aktor. Sulit bagi saya memilih satu karena semua juga sama menariknya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY