Wawancara Eksklusif Yoko Narahashi: Belajar Dari Banyak Proses

Wawancara Eksklusif Yoko Narahashi: Belajar Dari Banyak Proses

850
SHARE

Oleh: Daniel Irawan

Di balik film-film blockbuster Hollywood dengan elemen Asia seperti ‘Babel’, ‘Memoirs of a Geisha’, ‘The Last Samurai’, ’47 Ronin’, ‘The Wolverine’, ‘Emperor’ ataupun ‘Unbroken’, tak banyak mungkin orang yang tahu bahwa ada sosok wanita Asia sebagai casting director-nya. Ia bernama Yoko Narahashi, yang juga sering disebut sebagai ‘Japan’s gatekeeper to Hollywood’.

Emperor+Premiere+Arrivals+2012+Toronto+International+qri0CAtlpJrl

Memulai karirnya sebagai salah satu asisten Steven Spielberg dalam ‘Empire of the Sun’ (1987), Yoko lantas menekuni karirnya sebagai seorang casting director di film-film Hollywood, terutama dalam merekrut bintang-bintang Asia (Jepang dan China). Beberapa aktor Jepang yang dibawanya ke Hollywood hingga jadi sebesar sekarang di perfilman internasional adalah Ken Watanabe dan Rinko Kikuchi.

Begitupun, Yoko bukan hanya sekedar casting director. Deretan namanya dalam departemen produksi cukup beragam, dari associate producer (‘Emperor’ dan ‘The Last Samurai’),  aktris, penulis skrip hingga sutradara. Filmografinya layar lebarnya hingga saat ini baru 3, ‘The Winds of God’ (1995), ‘Waiting for the Sun (2008) dan yang terbaru, ‘Hold My Hand’ (Teo tsunaide Kaerouyo’), sebuah film yang diangkat dari drama panggung karya penulis dan aktor Masayuki Imai yang juga menulis skrip film pertama Yoko dan meninggal selagi filmnya memasuki masa pre-produksi.

Mempresentasikan ‘Hold My Hand’ di Okinawa International Movie Festival ke-8 yang digelar 21 hingga 24 April lalu sebagai salah satu film dalam segmen special invitation, Yoko menyempatkan sebuah wawancara eksklusif dengan Kinescope. Ia juga berharap bahwa ‘Hold My Hand’ yang dirilis lokal di negaranya 28 Mei mendatang bisa diputar di negara-negara lain termasuk Indonesia.

Berikut Petikan wawancara Yoko Narahashi oleh Daniel Irawan:

Q: Selain sebagai sutradara, Anda juga sangat dikenal sebagai casting director di balik blockbuster Hollywood bertema Asia seperti ‘Memoirs of a Geisha’ dan ‘The Last Samurai’. Ini adalah pekerjaan yang sering tak mendapat banyak sorotan dalam pembuatan film. Mana yang sebenarnya lebih menjadi pilihan Anda dalam berkarir di film?

A: Karir saya sebagai casting director terjadi begitu saja setelah saya bekerja sebagai asisten Steven Spielberg dalam ‘Empire of the Sun’. Tapi sebenarnya passion terbesar saya adalah menyutradarai film. Saya membuat banyak film namun untuk layar lebar sejauh ini baru tiga film. Yang pertama adalah ‘The Winds of God’ (1995), dan ‘Hold My Hand’ adalah yang ketiga. Bagi saya, menemukan proyek yang benar-benar menarik minat saya untuk berada di posisi sutradara cukup sulit. Adalah Masayuki Imai yang sudah seperti sahabat dekat sejak film pertama saya yang meminta saya menyutradarai skripnya yang diangkat dari drama panggung. Saya sudah menonton versi panggungnya, menyukai ceritanya dan langsung setuju. Sayang di tengah prosesnya ia meninggal karena kanker. Saya tak pernah menyangka bahwa ini akan terjadi ke orang sekuat dan seenergetik Masayuki, namun ini juga menjadi pemicu bahwa saya harus menyelesaikan film yang juga menjadi janji saya terhadap Masayuki.

image (6)

Q: Saya dengar Masayuki juga seharusnya menjadi peran utama dalam ‘Hold My Hand’ pada awalnya. Apakah Anda sudah sempat syuting dengan Masayuki sebagai peran utama Anda?

A: Sayangnya tidak. Ia pernah datang sekali ketika kami mengambil adegan ‘cherry blossoms’ di tengah-tengah kondisi yang tidak sehat namun tetap memberi nasehat kepada aktor belia yang ikut mengisi filmnya. Selanjutnya saya tak pernah membicarakan filmnya ke dia, namun dia juga tak pernah kelihatan menyerah meskipun tak lagi bisa menyelesaikan perannya. Saya menawarkan peran ini ke Jay (Kabira) yang juga sangat dekat dan seperti saudara dengannya. Jadi film ini memang memiliki makna besar buat saya, dan dalam proses selanjutnya banyak sekali seolah keajaiban yang terjadi di tengah kebanggaan saya bahwa prosesnya menunjukkan kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama untuk seseorang yang sangat kita cintai. Tanggal rilis filmnya juga bertepatan dengan peringatan setahun meninggalnya Masayuki.

Q: Diantara banyak blockbuster Hollywood yang melibatkan Anda sebagai casting director, yang mana prosesnya yang paling menarik bagi Anda?

A: Saya rasa The Last Samurai. Saya menempuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan film itu bersama sutradara, produser dan seluruh timnya. The Last Samurai seperti film Hollywood pertama yang menggunakan banyak bintang Asia untuk membuat filmnya benar-benar terlihat akurat dari sisi sejarah walaupun punya nuansa pop. Saya juga merupakan salah satu associate producer-nya, belajar banyak dari proses-prosesnya dan saya sangat mensyukuri itu.

Q: Anda pasti tahu bahwa kebanyakan peran Asia yang ada di film-film Hollywood terkadang hanya digunakan untuk penjualan yang baik di negara-negara Asia. Pernahkah Anda mendorong produser atau sutradara Anda untuk memberikan porsi lebih banyak bagi bintang-bintang Asia yang Anda bawa ke sana?

A; Ya itu benar. Tapi dalam konteks yang bagus, setelah ‘The Last Samurai’  semakin banyak film-film Hollywood  yang mengeksplor dunia Asia. Pasarnya juga semakin berkembang. Tak pernah secara khusus, tapi sebagian peran itu kadang jadi elemen yang kuat sekali dalam filmnya.

yoko2

Q: Selain Jepang dan China, apakah Anda pernah memberikan peluang pada aktor Asia dari negara lain juga?

A: Belakangan cukup banyak, namun rata-rata memang ada di Jepang dan China. Begitupun, saya tengah terlibat dalam sebuah serial TV lintas negara-negara Asia, termasuk Malaysia – dan mungkin – Indonesia.

Q: Apakah ada pilihan lain sebelum Anda memutuskan untuk menyutradarai ‘Hold My Hand’?

A: Sebenarnya ada. Saya tengah berencana untuk membuat film berdasarkan skrip yang saya tulis. Berjudul ‘Essence’ di tengah sebuah hubungan ibu-anak. Saya pikir saya tidak sembarangan mengorbankan rencana saya untuk ajakan lain, tapi memang ketika Masayuki datang dengan skripnya, saya begitu tertarik dan tak lagi pikir panjang untuk menyetujuinya.

Q: Apakah ada tipe gangguan belajar tertentu yang Anda ingin bahas dalam ‘Hold My Hand’?

A: Tidak secara khusus, namun saya pikir memang ada suatu kemurnian dalam cerita dan aktor-aktor utamanya. Saya menulis lagu berjudul ‘Beautiful Name’ di atas ide semua anak lahir sempurna dan berbeda. Beberapa film di mana saya terlibat, seperti ‘Babel’ bahkan film pertama saya, ‘The Winds of God’, punya elemen disabilitas dan apa yang harus kita lakukan tentang itu.

Q: Pernahkah terpikir untuk membuat film (menyutradarai) di genre aksi atau fantasi seperti film-film blockbuster Hollywood ?

A: Mari serahkan itu ke Hollywood (tertawa). Itu ranahnya mereka. Jutaan dolar, jadwal syuting berbulan-bulan dan banyak lagi. Tidak,  namun punya keterkaitan tema dengan saya. Dalam menyutradarai, satu yang paling menantang saya adalah bagaimana saya membawa akting terbaik dari para aktornya di tengah keterbatasan bujet dan waktu.

Q: Selain akting dan plot yang emosional, saya pikir ada elemen kuat dari sinematografi dan komposisi musik dalam ‘Hold My Hand’. Bisakah Anda memaparkan sedikit tentang prosesnya?

A: Ah, senang sekali Anda mengatakan itu. Saya melewatkan waktu lama sekali untuk memilih scoring musik bersama ‘Face 2 Fake’, komposernya untuk detil-detil yang saya inginkan. Ada beberapa komposisi yang saya tolak dan mereka revisi sampai benar-benar mendapat hasil yang sempurna. Theme song-nya, ‘My Way’ dari Jay’ED juga sesuatu yang kami inginkan bersama Masayuki sejak awal. Kami tidak bisa menggunakan lagu yang sama dari Gypsy Kings, jadi kami seperti melakukan remake ke dalam versi Jepang tapi dengan twist Latin yang mirip. Soal sinematografi, Yuji Imai merupakan asisten kameramen sejak film pertama saya. Dia masih sangat muda waktu itu dan terus berkembang hingga sekarang. Karena memang ada elemen road trip yang menonjolkan kultur tiap titik yang mereka kunjungi, ini memang menjadi concern besar bagi saya dalam menggarap filmnya. Terima kasih sekali lagi.

image (5)

Q: Apakah Sumire dan Nanami merupakan pilihan pertama Anda untuk peran mereka masing-masing? Itu juga saya pikir jadi elemen yang sangat kuat dalam film ini.

A: Saya rasa begitu. Nanami punya screen presence persis seperti yang saya inginkan lewat audisi yang dilakukan, sementara Sumire punya keanggunan yang sangat khas dan penuh misteri lewat penampilannya.

Q: Oke, pertanyaan terakhir. Apakah ada moral yang ingin Anda sampaikan soal bullying dalam film ini?

A: Saya berharap begitu. Saya hampir membuat film tentang sebuah keluarga yang tertimpa masalah berat akibat bullying. Ada banyak poin-poin sosial di sini, tapi bicara tentang bullying, saya sangat punya perhatian terhadap keadilan. Dan satu hal lagi, saya juga tengah mengembangkan film tentang anak-anak yang mendapat perlakuan abusive. Tak jauh dari soal bullying, saya ingin membuka mata banyak orang bahwa mereka adalah orang yang benar-benar memerlukan bantuan lebih.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY