Wawancara Para Produser Film Guru Bangsa Tjokoraminoto Di Tokyo International Film Festival...

Wawancara Para Produser Film Guru Bangsa Tjokoraminoto Di Tokyo International Film Festival Ke-28

2146
SHARE
Dewi Umaya, Nayaka Untara dan Christine Hakim di Red Carpet Tokyo International Film Festival ke-28.

Oleh: Daniel Irawan

Bersama perkembangan segmen-segmen kompetisi dan penayangan film-film terpilihnya, film Indonesia bukan baru sekali ini menjadi sorotan di ‘Tokyo International Film Festival’ (TIFF). ‘The Mirror Never Lies’ karya sutradara wanita Kamila Andini malah berhasil membawa pulang penghargaan Toyota Earth Grand Prix dan Special Mention buat segmen Winds of Asia-Middle East di tahun 2011 yang kini beralih menjadi Asian Future.

Berikutnya, di edisi ke-25 TIFF, ada ‘Atambua 39oC’ yang menjadi salah satu entry di segmen kompetisi utama mereka. Berturut-turut, di tahun berikutnya, ada segmen spesial ‘Indonesian Express’ yang menyorot film-film karya 3 sutradara Garin Nugroho – Riri Riza dan Edwin, diikuti ‘What They Don’t Talk When They Talk About Love’-nya Mouly Surya di segmen World Focus tahun 2013 dan ‘Selamat Pagi, Malam’ Lucky Kuswandi yang berkompetisi di segmen Asian Future tahun lalu.

Tahun ini adalah giliran untuk dua film sekaligus, ‘Mencari Hilal’ karya Ismail Basbeth dan ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’, masing-masing di segmen Asian Future dan World Focus. Tampil mempresentasikan film mereka, tim produser ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’; produser Christine Hakim, Dewi Umaya serta Nayaka Untara, termasuk ikut berjalan di Red Carpet pada upacara pembukaan festivalnya. Christine Hakim juga dikenal sangat luas sineas hingga jurnalis internasional termasuk publik Jepang, bahkan pernah bermain dalam film produksi Jepang; ‘Nemuru Otoko / The Sleeping Man’ (1994).

Kinescope menyempatkan untuk mengadakan wawancara singkat tentang pencapaian film ini berikut pandangan-pandangan lain ke wajah industri film kita sekarang ini.

Para Produser film “Guru Bangsa Tjokroaminoto” di Tokyo International Film Festival ke-28. Dari kiri ke kanan: Dewi Umaya, Christine Hakim dan Nayaka Untara

‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ sangat unggul dari sisi artistik dan desain produksinya, mungkin satu yang mengembalikan kejayaan film-film epik sejarah dari sisi itu di era ’70 ke ’80-an. Seberapa sulit tantangan yang dihadapi dalam proses produksinya?

Christine Hakim: Mungkin Dewi lebih tepat untuk menjawabnya.

Dewi Umaya: Hal paling sulit dalam pembuatan ‘Tjokroaminoto’ adalah merekonstruksi elemen-elemen sejarahnya. Kami membuat riset yang cukup lengkap dan mendalam tentang kejadian-kejadian yang berlangsung bersama sejarah kehidupan beliau, termasuk penciptaan dialog, namun memindahkannya ke media visual punya tingkat kesulitan paling tinggi. Riset visual adalah yang terpenting untuk itu, karena film ini menggambarkan peristiwa yang tak hanya memuat sudut pandang, tapi juga penggambaran visual yang harus akurat berkaitan dengan situasi masa itu termasuk pengaruh kebudayaan Belanda, set hingga kostum. Apalagi sebagian besar set-nya dibangun di Yogyakarta, bukan di Surabaya yang menjadi latar belakang dalam penceritaan pusat pergerakan SI (Serikat Islam).

(Salah satu lokasi pembuatannya mengambil kawasan Kebun Pendidikan Penelitan dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM di daerah Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta di atas lahan seluas 35 hektar.)

Berapa lama waktu untuk mempersiapkan semua desain produksi yang melibatkan bangunan set hingga kostum itu?

Dewi Umaya: Riset pre-produksi ‘Tjokroaminoto’ memakan waktu sekitar 1 tahun dan kita memulai produksi set, properti dan elemen-elemen artistiknya termasuk penjahitan ulang kostum yang diperlukan selama 3 bulan setelah mendapatkan tim yang kuat, kru yang berjumlah sekitar 210 orang, di atas visi dan semangat sama.

Termasuk Pembuatan Buaya animatronik yang tampil sekilas dalam salah satu adegan, apakah ini juga punya relevansi visual terhadap filmnya?

Dewi Umaya: (Tertawa) Kita melihat kepentingan itu juga sebagai bagian dari sebuah riset visual. Bahwa keseluruhan gambaran budaya dari setting tahun yang kita angkat di film itu juga punya relevansi terhadap fauna yang ada pada masa itu.

Christine Hakim: Ada ide awal dari Garin untuk malah menampilkan harimau, tapi mewujudkannya terlalu sulit (tertawa).

Apakah Reza Rahadian merupakan kandidat pertama untuk memerankan Tjokro?

Christine Hakim: Sebenarnya tidak. Kami sempat melakukan audisi untuk mencari pemeran yang pas buat menokohkan Tjokro, namun Reza memang tampil sangat mengagumkan untuk masuk ke dalam perannya. Bukan hanya begitu cepat masuk ke dalam karakter secara fisik termasuk dengan salah satu kelebihan spesialnya dalam mengolah karakter vokal, Reza juga punya intelektualitas lebih sebagai aktor dalam menerjemahkan karakter yang akan diperankannya.

Satu lagi hal paling menarik dari ‘Tjokroaminoto’ adalah penggambaran keseluruhan filmnya yang berbeda dari banyak biopik Indonesia biasanya. ‘Tjokroaminoto’ hadir bak sebuah historical opera dengan selipan komedi bahkan adegan musikal yang menurut saya sangat unik. Siapa yang paling bertanggungjawab dengan keputusan ini?

Christine Hakim dan Dewi Umaya: Bentukan filmnya yang menyerupai opera sejarah itu sepenuhnya merupakan style Garin dalam menginterpretasikan apa yang ingin kami sampaikan dalam biopik ini. Sebagai produser kami tidak mendebat Garin dan setuju dengan interpretasinya cukup relevan dengan Surabaya sebagai latar utama penceritaan ‘Tjokro’. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya di tahun itu merupakan pusat pertemuan beberapa budaya; dan ‘Tjokro’ memang bicara soal budaya dalam perjuangannya. Ia bukanlah seorang pejuang fisik tapi punya sisi besar sebagai pejuang budaya dengan pemikiran-pemikiran dan gagasan yang masih relevan hingga sekarang, dan kami juga ingin menghindari kultus.

Selipan musikal selain bisa menghindari tipikalitas dari film sejarah yang membosankan, juga menjelaskan bahwa keluarga Tjokro secara turun temurun punya akar musikalitas dan kapabilitas dalam memainkan instrumen musik. (Nayaka yang merupakan cicit dari Tjokroaminoto dan berada di balik gagasan filmnya lewat Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto turut mengiyakan).

Pendeknya, kami punya visi yang sama dengan gaya Garin untuk menghindari kejenuhan-kejenuhan dalam sebuah biopik historis dengan penggambaran sejarah yang terlalu text book buat menciptakan ruang publik yang lebih nyata; dan bahwa ide ‘Hijrah’ sebagai kesimpulan perjuangan Tjokro benar-benar tergambar dibalik satu dialog kuncinya: “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni Tauhid”.

Selain rekor 6 piala Citra sebagai aktris legendaris di perfilman Indonesia, seorang Christine Hakim punya kredibilitas luas sebagai aktris internasional. Bukan saja ikut serta dalam banyak produksi antar negara dari Malaysia, Jepang hingga Hollywood (‘Eat, Pray, Love’), juri Cannes, meraih Best Actress di Asia Pacific International Film Festival bahkan menerima FIAPF (Federasi Produser Internasional) Award untuk Outstanding Achievement dan Lifetime Achievement Award dari Cinemanila. Seberapa penting eksposur atas keikutsertaan film kita ke festival-festival internasional terhadap perkembangan film Indonesia sekarang?

Christine Hakim: Sangat penting, terutama sebagai media untuk menghindari kesalahan persepsi bangsa luar terhadap budaya kita, diplomasi budaya, introduksi dan promosi sejarah perjuangan bangsa Indonesia termasuk media untuk berkomunikasi/memperluas networking dan ke dalamnya sendiri, mengatasi masalah terbesar industri perfilman kita yang masih terpecah atas kubu-kubu yang ada tanpa dukungan maksimal dari pemerintah.

Ini adalah ketiga kalinya Christine Hakim berkiprah sebagai produser film layar lebar (di luar dokumenter; ‘Mak Itam and Me’, 2009) setelah ‘Daun di Atas Bantal’ dan ‘Pasir Berbisik’ (co-producer). Apa yang jadi patokan untuk keikutsertaan Mbak di film-film itu?

Christine Hakim: Selain tema dan kepentingan cerita yang diangkat, tentunya, ada alasan untuk film serta budaya. Saya jelas tidak bisa menolak ketika diminta terlibat baik sebagai produser dan belakangan diminta ikut bermain dalam ‘Tjokro’ karena ini adalah film yang penting dan secara personal merupakan bentuk kecintaan saya terhadap tanah air. Film-film sejarah sangat diperlukan untuk masyarakat Indonesia agar dapat mengenal sejarahnya lebih dalam lagi, karena hanya dengan hal itu masyarakat kita dapat mencintai negaranya tanpa syarat.

Pic[k[Lock Productions masih tergolong muda dalam industri film Indonesia, tapi sejak awal memproduksi film-film dengan kualitas berbeda; juga di atas genre-genre yang beragam dari ‘Minggu Pagi di Victoria Park’, ‘Rayya: Cahaya di Atas Cahaya’, kini ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ dan berikutnya ‘Koes Bersaudara’ yang merupakan biopik grup musik legendaris Indonesia. Bagaimana visi Pic[k]Lock dalam produksi-produksinya ke depan nanti?

Dewi Umaya: Kita memang tidak ingin hanya sekedar memproduksi film, tapi memberikan sesuatu yang lebih; yang bisa menggerakkan orang-orang yang menonton lewat tema-tema yang kita angkat. Walaupun menjadi biopik tentang grup musik, ‘Koes Bersaudara’ juga bukan sebuah musikal, tapi kita lebih mengangkat drama tentang sekelompok anak-anak yang struggling dalam bermusik dibalik ikatan mereka dengan sosial, budaya sekaligus keputusan-keputusan politik dan pandangannya terhadap musik pada masa itu.

Mengenai Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, apa sebenarnya sasaran utama yang ingin dicapai dari film ini?

Nayaka Untara: Sebagai yayasan dari keluarga Tjokro yang bergerak terutama di bidang pendidikan, selain terus memperkenalkan kontribusinya yang cukup besar dalam memantik semangat pergerakan bangsa menuju kemerdekaan Indonesia ke generasi sekarang, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ dimaksudkan untuk menjadi pintu gerbang dari keluarga untuk terus memasyarakatkan gagasan-gagasan Tjokroaminoto dalam semangat pergerakan kebangsaan.

Di sela-sela diskusi tersebut, Christine juga menyatakan opininya tentang problem pendistribusian film Indonesia di negara kita yang masih sangat tidak seimbang antara jumlah produksi pertahun dengan layar sebagai kebutuhan ekshibisi buat menampung karya-karya itu. Ketimbang membatasi jumlah produksi maupun jumlah film impor, sangat perlu adanya bioskop-bioskop alternatif yang bisa menjangkau daerah-daerah yang belum tersosialisasi dengan budaya bioskop sebagai pusat hiburan tontonan mereka.

Review lengkap film ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ bisa dibaca di sini: Guru Bangsa Tjokroaminoto.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY