27 Steps of May: Kesunyian yang Sarat Makna

27 Steps of May: Kesunyian yang Sarat Makna

246
SHARE

27 STEPS OF MAY

Sutradara: Ravi Bharwani

Produksi: Green Glow Pictures, Go Studio, 2018

Film yang berkisah soal korban perkosaan memang bukan lagi hal baru di film Indonesia. Hanya saja, yang benar-benar relevan dan mengangkat isunya secara faktual lewat bangunan cerita, aspek dan dengan tendensi baik, cuma segelintir. Dalam konteks-konteks sinematik yang beda dan sama-sama menyorot trauma, berselang hampir 40 tahun, baru 27 Steps of May mungkin yang bisa disejajarkan dengan Titian Serambut Dibelah Tujuh, film tahun 1982 karya Chaerul Umam dari penulis Asrul Sani.           

Menjadi korban pemerkosaan di pasar malam kala berusia 14 tahun dan masih berseragam sekolah, May (Raihaanun) tumbuh menjadi sosok traumatik yang menarik dirinya sendiri dari kehidupan. Ia tak mau ke luar kamar kecuali untuk makan, tidak bicara dan terjebak dalam rutinitas serta perilaku kompulsif bahkan melukai diri di rumah kecil yang ia tinggali bersama Bapak (Lukman Sardi), yang juga dilanda perasaan bersalah karena merasa gagal melindungi putrinya. Bapak lantas hidup di 2 dunia, bertahan membuat boneka saban hari bersama May namun melampiaskan amarah dan kekecewaannya lewat dunia tinju ilegal yang serba keras. Satu-satunya temannya hanyalah kurir (Verdi Solaiman) yang selalu peduli dengan Bapak. Hingga suatu ketika, dinding yang mengisolasi dua manusia ini terpecah oleh celah kecil di balik keberadaan tetangga baru mereka, pesulap (Ario Bayu) yang perlahan mulai membuat May menerima cahaya dalam hidupnya.

Dalam industri film kita yang sebagian besar diperani etnisnya, seorang Ravi Bharwani (Impian Kemarau, Jermal) memang bukan India biasa. Ia lebih dikenal sebagai sineas arthouse ketimbang pemain industrial, dan rentang May dari Jermal memang tergolong sangat panjang untuk sebuah karya. Konten yang ia angkat dalam May terlihat sekali dipikirkan sangat matang lewat skrip Rayya Makkarim (juga menulis Jermal), dan jelas bukan sesuatu yang bisa gampang dicerna penonton biasa.           

Namun bagusnya, seperti di film-film sebelumnya, Ravi memang peduli dengan fondasi dan bangunan emosinya. Menyampaikan plot sarat makna dan gagasan lebih lewat bahasa gambar, May bergulir pelan dalam kesunyian dan serba diam, minim dialog bahkan scoring dentingan piano minimalis dari Thoersi Argeswara, tapi tetap menghancurkan hati secara perlahan.

Semua dibentuk nyaris sempurna oleh eksplorasi akting Raihaanun yang luar biasa ekspresif, Lukman Sardi dalam pencapaian terbaiknya serta Verdi Solaiman yang mengisi bagiannya entah dalam konteks sentilan etnis ke peristiwa Mei 1998, tapi berfungsi baik dengan gagasan support system yang diusung Ravi terhadap subjek dan permasalahan yang ia angkat.           

Permainan metafora dan simbol dalam pemaknaan itu, dari set, artistik, wardrobe hingga teknis sinematik lain termasuk tata kamera Ipung Rachmat Syaiful yang bergerak dinamis menelusuri ruang sempit memang rumit. Ia terkadang memang tak bisa terhindar dari gambaran teatrikal dan benturan-benturan logika surealistik yang sangat arthouse juga, terutama kala simbolisme soal keajaiban hadir lewat karakter si pesulap, tapi ini menjadi menarik kala emosinya memang tergelar dengan benar dan mendalam, membuat kita sebagai pemirsanya bisa tertarik memaknai tiap detil visual yang tergambar di setiap pengadeganannya.

Walau judul 27 yang kabarnya digunakan untuk menghindari titel awalnya, May, yang sudah pernah digunakan film lain karya Viva Westi yang juga bicara soal korban perkosaan dan lebih terang-terang terkait ke peristiwa Mei 1998, sangat berpotensi memicu diskusi, 27 Steps of May berhasil membawa kita menelusuri perilaku traumatik dari problematika yang relevan terlebih sekarang. Bahwa seringkali bukan hanya subjeknya seorang yang jadi korban, tapi juga keluarga terdekatnya, menjadi lingkaran tak berujung untuk bisa membawa si penyintas benar-benar bisa melangkah ke luar dari traumanya. Ini agaknya yang ingin disampaikan Ravi lewat titik terang di pengujung lorong panjang yang memenjara karakternya sekian lama, bahwa sepanjang kita punya orang-orang yang peduli di sekitar kita, pada akhirnya semua akan baik-baik saja. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY