Biopik Brazil “Nise – The Heart of Madness” Raih Penghargaan Tertinggi dan...

Biopik Brazil “Nise – The Heart of Madness” Raih Penghargaan Tertinggi dan Para Pemenang Di Tokyo International Film Festival Ke-28

2085
SHARE
Semua tim juri dan pemenang berfoto bersama setelah acara pemberian penghargaan pada TIFF ke-28

Oleh: Daniel Irawan

Dilangsungkan lebih sehari dari durasi festival biasanya, edisi ke-28 Tokyo International Film Festival (TIFF) yang juga merayakan 30 tahun penyelenggaraannya sejak tahun 1985 mengumumkan para pemenang dari kategori kompetisinya bersama penayangan film penutup ‘Terminal’ karya Tetsuo Shinohara pada puncak selebrasinya di tanggal 31 Oktober lalu.

Melalui proses penentuan yang alot dari para juri internasional yang dipimpin sutradara Hollywood Bryan Singer, ‘Nise – The Heart of Madness’, sebuah biopik dari Brazil karya sutradara Robert Berliner berhasil meraih penghargaan tertinggi TIFF, Tokyo Grand Prix. Singer mengaku ada sejumlah konflik yang harus mereka lewati bersama dewan juri lain yang terdiri dari Tran Anh Hung (Vietnam), Bent Hamer (Norwegia), Kazuki Omori (Jepang), Susanne Bier (Denmark) dan produser kenamaan dari film-film kung fu Jet Li (‘Once Upon a Time in China’, ‘Flying Swords of the Dragon Gate’), Nansun Shi (Hong Kong).

Seluruh tim juri dalam konferensi pers penutupan TIFF ke-28
Seluruh tim juri dalam konferensi pers penutupan TIFF ke-28. Dari kiri ke kanan: Kazuki Omori (Jepang), Susanne Bier (Denmark), Nansun Shi (Hong Kong), Bryan Singer (USA), Tran Anh Hung (Vietnam) dan Bent Hamer (Norwegia)

Kisah menyentuh tentang sosok nyata psikiater wanita Nise da Silveira (diperankan dengan memukau oleh Gloria Pires yang juga memenangkan aktris terbaik TIFF tahun ini) yang mengabdikan dirinya ke dalam sebuah perjuangan melawan dominasi konservatif terhadap terapi electroshock ke penderita schizophrenia yang banyak dianggap sebagai kekerasan fisik dengan cara uniknya – melalui lukisan, anjing dan cinta, berhasil memenangkan hati para dewan juri. Bryan Singer mengatakan bahwa tema yang diusung ‘Nise’ benar-benar terhubung dengan masa lalunya sebagai sopir bus untuk orang-orang berkebutuhan khusus saat ia masih duduk di bangku kuliah, juga atas keberadaan sepupunya yang menderita autisme.

 

Penjurian Yang Alot

Singer sempat berseteru dengan Tran Anh Hung yang lebih menjagokan film ‘Cold of Kalandar/Kalandar Soğuğu’, film Turki karya Mustafa Kara yang mengisahkan perjuangan sebuah keluarga di tengah tantangan pegunungan salju perbatasan Laut Hitam. Dengan jujur ia mengatakan bahwa meski datang dari akar film independen dalam perjalanan karirnya, Singer bisa mengerti tantangan besar yang dihadapi Kara dalam pembuatan ‘Cold of Kalandar’, namun ia juga ingin merasakan emosi serta hiburan saat menyaksikan sebuah film, dan ‘Cold of Kalandar’ boleh jadi terasa kelewat lamban dalam penyampaian pace-nya bagi banyak orang. Begitupun, ia tak menampik bahwa Mustafa Kara adalah pilihan yang tepat untuk memenangkan sutradara terbaik.

Menimpali Singer, Tran Anh Hung mengatakan bahwa meskipun ada perseteruan dalam penentuan ini, mereka bisa menyatukan visi dibalik ekspresi-ekspresi jujur terhadap apa yang mereka sukai atau tidak, dan ini harus dihargai. Bent Hamer dan Kazuki Omori menambahkan bahwa mereka paling tidak sependapat dalam menyeleksi 6 kandidat terbaik dari keseluruhan 16 peserta, sehingga yang manapun hasil akhirnya, film-film tersebut memang berhasil menyita perhatian lebih buat semuanya.

Susanne Bier ikut menyampaikan komentar mereka dalam konferensi pers yang digelar setelah pengumuman pemenang, bahwa lebih dari sekedar mencari kesempurnaan dalam film-film peserta, ada potensi masa depan dari para pembuat film-film ini yang lebih jadi fokusnya. Nansun Shi kemudian menggarisbawahi kesimpulan bahwa pengalaman pribadi bisa mempengaruhi persepsi personal seseorang, namun kita tak pernah bisa menampik bahwa kala sebuah film dibuat dengan baik, ia akan menciptakan pengalaman spesial yang benar-benar menarik pemirsanya ke sebuah dunia baru, dan itulah definisi sebenar-benarnya dari film-film pemenang kompetisi.

Para peraih Ariigato Award di TIFF ke-28. Dari kiri ke kanan: Akihiro Hino (Game Developer), Suzu Hirose (Aktris), Kirin Kiki (aktris), Lily Franky (Ilustrator, novelis dan aktor) dan Mamoru Hosoda (Sutradara animasi)
Para peraih Ariigato Award di TIFF ke-28. Dari kiri ke kanan: Akihiro Hino (Game Developer), Suzu Hirose (Aktris), Kirin Kiki (aktris), Lily Franky (Ilustrator, novelis dan aktor) dan Mamoru Hosoda (Sutradara animasi)

Bersama pernyataan resmi buat John Woo dan Yoji Yamada sebagai peraih Samurai Award ke-2 tahun ini, TIFF juga mempersembahkan piala baru bernama ‘Arigatö Award’ sebagai bentuk terimakasih secara mendalam terhadap sejumlah insan film yang memberikan peranan besar dalam industri film mereka. 5 peraih Arigatö Award perdana TIFF adalah aktris Kirin Kiki, developer game Akihiro Hino dengan filmnya ‘Yo-kai Watch’ yang meraih sukses besar, aktris Suzu Hirose yang karirnya tengah menanjak, sutradara animasi Mamoru Hosoda serta ilustrator, novelis dan aktor Lily Franky.

Inilah daftar lengkap Pemenang TIFF tahun ini dengan sedikit catatan singkat ke masing-masing film:

Japanese Cinema Splash Best Picture Award: Ken and Kazu (Hiroshi Shoji)

Ken & Kazu, karya Hiroshi Shoji yang dibintangi oleh Shinsuke Kato dan Katsuya Maiguma
Ken & Kazu, karya Hiroshi Shoji yang dibintangi oleh Shinsuke Kato dan Katsuya Maiguma

Film independen yang diangkat dari film pendek berjudul sama tahun 2011 dan menjadi nominee ‘Short Shorts Film Festival & Asia 2011, Japan Competition’ juga diputar di Festival Film Rotterdam ke-41 ini dibesut sutradara Hiroshi Shoji dengan biaya sangat murah, namun memang jadi sebuah genre berbeda dari rata-rata film terpilih dalam kategori ‘Japanese Cinema Splash’ dengan tampilan aksi realistis dan atmosfer brutal-nya. Mark Peranson, salah seorang dewan juri dalam segmen ‘Japanese Cinema Splash’, juga dikenal sebagai kepala programming Locarno Film Festival, mengatakan bahwa ‘Ken and Kazu’ sangat unggul dari kualitas akting dua pentolan utamanya, aktor Shinsuke Kato dan Katsuya Maiguma, serta tata kamera dan editing yang penuh presisi.

The Spirit of Asia Award by Japan Foundation Asia Center: A Simple Goodbye (China, Degena Yun)

A Simple Goodbye, karya sutradara Degena Yun dari China dan diproduseri oleh Zhao Yanming.
A Simple Goodbye, karya sutradara Degena Yun dari China dan diproduseri oleh Zhao Yanming.

Piala yang dipersembahkan Japan Foundation Asia Center – salah satu lembaga nirlaba Jepang yang bergerak khusus di bidang pertukaran kebudayaan, juga menjadi partner terkuat TIFF sejak tahun lalu – terhadap film-film kompetitor di segmen Asian Future dengan kriteria utama punya refleksi kultural yang kuat dimenangkan oleh ‘A Simple Goodbye’ karya sutradara Degena Yun dari China.

Tampil menerima pialanya adalah produser Zhao Yanming, yang mengatakan bahwa sebagai karya perdana Yun sekaligus prasyarat tugas akhir yang didasari kehidupan nyata serta konflik Yun dengan orangtuanya, kemenangan ‘A Simple Goodbye’ di TIFF sungguh sebuah kehormatan dan menjadi milik semua talenta-talenta muda yang berkolaborasi di dalamnya.

Best Asian Future Awards: The Island Funeral (Thailand, Pimpaka Towira)

Island Funeral, film karya Pimpaka Towira, yang menyorot pergulatan spiritual dan politik, dengan penampilan bagus dari aktris Muslim Thailand, Heen Sashitorn.
Island Funeral, film karya Pimpaka Towira, yang menyorot pergulatan spiritual dan politik, dengan penampilan bagus dari aktris Muslim Thailand, Heen Sashitorn.

Tak banyak film Thailand yang bercerita tentang kehidupan di wilayah Selatan Thailand dengan dominasi umat Muslim-nya. ‘The Island Funeral’ menyorot pergulatan spiritual dan politik di atas latar itu dengan penampilan bagus dari aktris Muslim Thailand, Heen Sashitorn. Oliver Père dari Arte France yang juga merupakan salah satu dewan juri segmen Asian Future menyampaikan pujiannya saat menyerahkan piala pada sutradara Pimpaka Towira. Mereka mengatakan bahwa ‘The Island Funeral’ punya kecantikan landscape dari sinematografinya dalam penciptaan bahasa sinematik yang unik, dan benar-benar membawa para dewan juri ke dalam atmosfer spiritual dan latar politik yang kuat. Sesuai dengan karakteristik segmen Asian Future tahun ini, dimana lebih dari separuh kompetitornya dibesut oleh wanita, kedua pemenang kategorinya juga merupakan sutradara wanita.

WOWOW Viewer’s Choice Award: Cold of Kalandar (Turkey, Mustafa Kara)

Mustafa Kara, Sutradara film "Cold of Kalandar"
Mustafa Kara, Sutradara film “Cold of Kalandar”

Salah satu kategori pemenang dari segmen kompetisi yang disponsori oleh channel WOWOW dengan 6 dewan juri yang dipilih dari pemirsanya.

The Audience Award: God Willing (Italy, Edoardo Falcone)

Salah satu adegan film komedi Italia, God Willing karya sutradara, Eduardo Falcone.
Salah satu adegan film komedi Italia, God Willing karya sutradara, Eduardo Falcone.

The Audience Award di TIFF diambil dari polling audiens, dan memang, secara filmis merupakan salah satu kompetitor yang tak melupakan faktor hiburan di balik sisi artistiknya sebagai komedi yang sangat manusiawi. Sutradara Edoardo Falcone juga menyebutkan bahwa dalam trend komedi yang beberapa tahun belakangan melanda sinema Italia dengan hanya segelintir karya yang terdengar sampai ke dunia internasional, ia mencoba membangun ‘God Willing’ dengan ironi lebih untuk membuatnya jadi komedi yang berbeda sekaligus cerdas di atas premis yang membenturkan latar medis terhadap kehidupan seorang ahli bedah dan anaknya yang masih menimba ilmu sebagai dokter.

Best Artistic Contribution: Family Film (Czech, Olmo Omerzu)

Family Film, sebuah film Cekoslowakia yang bercerita tentang hubungan anggota keluarga, karya Olmo Omerzu.
Family Film, sebuah film Cekoslowakia yang bercerita tentang hubungan anggota keluarga, karya Olmo Omerzu.

Ada visi unik yang ditampilkan sutradara Olmo Omerzu terhadap premis sekaligus ending tak biasa soal anak dan orangtua dalam entry Cekoslowakia yang juga didukung oleh banyak negara dari Perancis, Jerman, Slovenia dan Slowakia dalam produksinya ini. Sekilas, tak ada yang spesial dari tampilannya, namun detil-detil termasuk sinematografi hingga tampilan anjing-anjing yang dilatih spesial di atas struktur dramaturgi berbeda, memang pantas mendapat pengakuan lebih.

Best Actor: Roland Møller & Louis Hoffman in Land of Mine (Denmark, Martin Peter Zandvliet)

"Land Of Mine", sebuah film tentang Perang Dunia ke II, yang disutradarai dan sekaligus ditulis oleh Martin Pieter Zandvliet.
“Land Of Mine”, sebuah film tentang Perang Dunia ke II, yang disutradarai dan sekaligus ditulis oleh Martin Pieter Zandvliet.

Singer dan dewan juri kompetisi memilih sekaligus dua aktor senior dan junior dengan kompleksitas karakter yang memang menjadi penggerak utama dalam bangunan suspense kisah prajurit-prajurit muda Jerman penjinak ranjau darat di era Perang Dunia ke-2 ini. Diserahkan oleh Kazuki Omori yang menyatakan kekaguman luarbiasa terhadap interaksi akting mereka pada dutabesar Denmark untuk Jepang HE Freddy Svane, Møller dan Hoffman keduanya tampil lewat live video message menyampaikan terimakasih mereka dan mengatakan bahwa ‘Land of Mine’ merupakan sebuah film dengan pesan anti-perang yang sangat kuat.

Best Actress: Gloria Pires in Nise – The Heart of Madness (Brazil, Robert Berliner)

Gloria Pires, pemeran tokoh Nise da Silveira, seorang psikiater wanita yang mengabdikan dirinya ke dalam sebuah perjuangan melawan dominasi konservatif terhadap terapi electroshock ke penderita schizophrenia yang banyak dianggap sebagai kekerasan fisik
Gloria Pires, pemeran tokoh Nise da Silveira, seorang psikiater wanita yang mengabdikan dirinya ke dalam sebuah perjuangan melawan dominasi konservatif terhadap terapi electroshock ke penderita schizophrenia yang banyak dianggap sebagai kekerasan fisik

Menurut Susanne Bier, Gloria Pires adalah satu-satunya unsur yang mendapat suara aklamasi dari seluruh dewan juri hanya dalam 5 menit penentuannya. Aktris senior yang dikenal luas di Brazil dan diakui sutradara Robert Berliner sangat mengangkat profil ‘Nise’ untuk menjangkau pemirsa non-festival secara lebih luas ini urung hadir dalam penyerahan piala, sama-sama mendapat pujian senada dari Bier dan Berliner soal pendekatan aktingnya yang tak mencoba mendekati tokoh aslinya secara fisik namun bisa mengekspresikan motivasi perjuangan ‘Nise’ melawan terapi psikiatri konvensional di atas alasan-alasan kuat untuk kemanusiaan tanpa sekalipun jatuh ke ranah-ranah klise serta sentimentil.

Best Director: Mustafa Kara in Cold of Kalandar (Turkey)

Kiri ke kanan: Edoardo Falcone, Mustafa Kara dan Olmo Omerzu.
Kiri ke kanan: Edoardo Falcone, Mustafa Kara dan Olmo Omerzu.

Diserahkan oleh Tran Anh Hung yang memang sangat mendukung ‘Cold of Kalandar’ sebagai pilihan terbaiknya, Mustafa Kara mengatakan bahwa filmnya memang menjadi tantangan yang sangat berat dalam proses produksinya. Ada banyak isu teknis dan ketahanan luarbiasa yang terlihat dari hasilnya, seperti juga yang diakui Bryan Singer.

Special Jury Prize: All Three of Us (France, Kheiron)

All Three of Us, sebuah film orang tua dari sutradaranya, Kheiron, yang menjadi imigran Iran di Prancis. Kheiron sendiri adalah mantan komedian yang menjadi warganegara Prancis.
All Three of Us, sebuah film orang tua dari sutradaranya, Kheiron, yang menjadi imigran Iran di Prancis. Kheiron sendiri adalah mantan komedian yang menjadi warganegara Prancis.

‘All Three of Us’ merupakan salah satu entry yang mendapat review cukup heboh dari audiens dan kalangan kritikus serta jurnalis internasional yang menghadiri TIFF tahun ini. Kheiron, komedian Perancis berdarah Iran yang beralih menjadi sutradara untuk membesut tribute luarbiasa bagi keluarganya memang membangun film yang didistribusikan oleh Gaumont dengan unik. Seperti apa yang dilakukan film-film seperti ‘Life is Beautiful’ atau ‘No Man’s Land’, namun jauh lebih bernada positif di atas penyampaian harapan-harapannya, latar perkembangan politik Iran yang serba gelap serta traumatik bagi bangsa mereka disampaikan dengan nafas komedi satir yang kuat dan penuh gelak canda.

Bent Hamer yang menyerahkan piala pada Atase Audiovisual Kedutaan Perancis untuk Jepang, Nouredine Essadi, mewakili Kheiron dan sejumlah kru yang sempat hadir ke festival saat penayangan filmnya, mengatakan bahwa dibalik latar gelap dan pesimistis tadi, ‘All Three of Us’ tampil sangat hidup di atas harapan-harapan kemanusiaan dan masa depan, bukan hanya untuk negaranya, tapi juga terhadap komunitas dan Perancis sebagai sasaran eksodus mereka. Essadi juga memberikan komentar bahwa dibalik sejarah politik Iran, ‘All Three of Us’ benar-benar merefleksikan isu-isu relevan soal para pengungsi yang ada di negara-negara Eropa sekarang.

The Tokyo Grand Prix Award: Nise – The Heart of Madness (Brazil, Roberto Berliner)

Nise - The Heart of Madness, sebuah film karya sutradara Brazil, Roberto Berliner yang diperankan oleh Gloria Pires.
Nise – The Heart of Madness, sebuah film karya sutradara Brazil, Roberto Berliner yang diperankan oleh Gloria Pires.

Menolak filmnya dianggap sebagai sebuah arthouse, serta jelas juga bukan film mainstream, sutradara Robert Berliner memilih istilah medium film untuk ‘Nise’ dan menceritakan proses panjang pembuatan film yang seolah menjadi ‘labor of love’ bagi Berliner sendiri. Memakan waktu panjang selama 13 tahun dan sempat berpikir untuk menghentikan proyeknya atas dorongan sejumlah orang, untunglah akhirnya Berliner tetap memutuskan untuk jalan terus karena ‘Nise’ sungguh merupakan sosok penting dalam kemanusiaan dan juga pionir dalam riset-riset penting soal schizophrenia dengan tim yang masih aktif bekerja hingga sekarang. Ia sendiri melakukan banyak riset sehingga benar-benar terhubung secara emosional dengan sumber-sumbernya, dan ini yang diakuinya memberikan dorongan luarbiasa untuk bertahan menyelesaikan ‘Nise’.

 

Pesan Untuk Dunia

Bryan Singer yang menyerahkan penghargaan tertinggi untuk festival ini juga memberi komentarnya dengan antusias, bahwa filmmaking adalah proses untuk menciptakan sebuah dunia yang secara relevan bisa terhubung dan dipercaya pemirsanya. ‘Nise’, baginya punya semua kualitas itu lewat sentuhan kesedihan, humor serta pencapaian-pencapaian lain termasuk nilai-nilai kemenangan dalam storytelling-nya.

Robert Berliner, Sutradara peraih Grand Prix Award di TIFF Ke-28, bersama Bryan Singer (Director,USA), ketua tim juri TIFF ke-28.
Robert Berliner, Sutradara peraih Grand Prix Award di TIFF Ke-28, bersama Bryan Singer (Director,USA), ketua tim juri TIFF ke-28.

Yasushi Shiina, selaku Director General TIFF, kemudian memberikan sambutan finalnya pada seluruh audiens. Menyampaikan rasa terima kasih terhadap semua pihak yang sudah mendukung pelaksanaan Tokyo International Film Festival edisi spesial perayaan ke-30 ini dan melihat balik penyelenggaraan perdananya di tahun 1985 dimana ‘Ran’-nya Akira Kurosawa menjadi film pembuka, ia mengatakan bahwa edisi ke-28 TIFF kembali membawa segmen Japanese Classics untuk terus memperkenalkan salah satu harta karun budaya terbesar mereka, film, ke seluruh dunia.

Yasushi Shiina, General Director TIFF ke-28.
Yasushi Shiina, General Director TIFF ke-28.

Mengakhiri sambutannya, Shiina menambahkan, menuju tahun 2020 dimana Tokyo akan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Olimpiade Dunia, mereka (TIFF) akan terus mendukung dan mempromosikan pertukaran kebudayaan melalui film.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY