Bioskop Tak Bisa Terganti, Namun Harus Bisa Beradaptasi dengan OTT

Bioskop Tak Bisa Terganti, Namun Harus Bisa Beradaptasi dengan OTT

169
SHARE
Image: Dok. FFWI XI


JAKARTA, 20 Agustus 2021 – Platform streaming dan over the top (OTT) menjadi alternatif utama penayangan film Indonesia di masa pandemi COVID-19. Pembatasan sosial dan ditutupnya bioskop membuat rumah produksi harus kreatif membuat perubahan.

Untuk mengulas tema tersebut, Panitia Festival Film Wartawan (FFWI) menggelar Webinar Zoom FFWI seri I bertajuk “Peluang Mengembangkan Ekosistem Perfilman Indonesia Di Era Pandemi” pada Jumat, 20 Agustus. Webinar yang diikuti wartawan, sineas, dan komunitas film se-Indonesia ini menghadirkan pembicara Judith J Dipodiputro – CEO Perum PFN, Lesley Simpson- Country Head We TV & IFlix Indonesia dan Manoj Punjabi – CEO MD Corp.

Dibuka oleh sambutan dari Ahmad Mahendra – Dit.PMMB KemendikbudRistek RI, yang diwakili Edy Suwardi selaku Kapokja Apresiasi dan Literasi Film, juga sambutan Ketua Panitia FFWI, Wina Armada Sukardi yang mengingatkan peran penting wartawan dalam perkembangan industri film Indonesia, berturut-turut Manoj, Lesley dan Judith mengisi sesi mereka masing-masing.

“Saya sudah melihat dua tiga tahun lalu bahwa OTT itu akan menjadi masa depan hiburan. Karena itu saya sudah siapkan tim OTT. Waktu pandemi datang, OTT menjadi pilihan untuk survive,” papar Manoj Punjabi. 
OTT, lanjutnya, bisa mengambil posisi tengah antara film dan sinetron. Pekerja sinetron dan film biasanya tidak bisa disatukan. Namun, dengan adanya OTT mereka bisa berkerja sama secara hybrid untuk membuat produk serial. 

“Kualitas tayangan untuk OTT itu di atas sinetron dan di bawah film. Dengan promosi yang baik, brand besar, pemain berkualitas, kita bisa ajak penonton untuk mau membayar dan berlangganan di OTT,” terangnya. 
Kemauan dan kecepatan beradaptasi adalah kunci keberhasilan menghadapi pandemi. Ini terbukti dengan bangkitnya MD Corporation meraih untung di paruh pertama 2021. 

“Bukan saya pro OTT, tapi menurut saya OTT itu lebih dari peluang alternatif. OTT masih bisa berkembang lebih besar, melebihi TV. Dan ini yang saya tunggu,” kata Manoj Punjabi.

Untuk bioskop, Manoj menegaskan kembali bahwa bioskop tidak akan bisa digantikan oleh OTT. “Bioskop tidak bisa digantikan oleh OTT. Karena orang ke bioskop itu bukan sekedar menonton, tapi ingin memperoleh pengalaman lain yang tidak akan bisa didapatkan dengan mudah oleh OTT. Kami juga mempersiapkan film berkualitas untuk menyemarakkan bioskop ketika dibuka nanti,” jelasnya.  

Lesley Simpson dari  WeTV segendang sepenarian dengan paparan Manoj akan momentum yang bersamaan di era pandemi. Memasuki pasar Indonesia pada tahun 2019, WeTV memiliki waktu yang tepat. 
“Impian WeTV sesuai visi misi ingin mengantar film Indonesia ke dunia tidak hanya penonton Indonesia. WeTV ingin industri perfilman nasional dibangkitkan dulu melalui oppurtunity OTT dari webseries ke film saat bioskop masih tutup. Jadi senang sekali bisa bekerjasama dengan PH-PH lainnya, ” paparnya lugas.

Menurut Judith J Dipodiputro, film Indonesia pasti bisa bertahan dari badai COVID-19. Apalagi sumber pembiayaan semakin beragam saat ini. 
“PFN menjadi katalis pertumbuhan industri perfilman dan industri konten Indonesia termasuk sentra pembiayaan industri film dengan banyak kerjasama seperti Telkom Group untuk start up. Saya garis bawahi film yang dibiayai PFN itu harus punya nilai sosial bagi Indonesia dan saat ini masih berproses,” ucap Judith.

Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut bisa berkunjung ke official Site www.festivalfilmwartawan.com dan akun medsos IG @festivalfilmindonesia serta twitter @fesfilmwartawan (dan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY