Bumi Manusia: Penyederhanaan yang Tak Kehilangan Esensi

Bumi Manusia: Penyederhanaan yang Tak Kehilangan Esensi

87
SHARE
© 2019 Falcon Pictures

BUMI MANUSIA
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produksi: Falcon Pictures, 2019

Sudah terlalu panjang rasanya rentang yang ditempuh Bumi Manusia – novel fenomenal karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1980, untuk akhirnya bisa diadaptasi ke layar lebar. Di balik soal-soal represi politik dan pelarangan hingga akhirnya bisa diedarkan kembali, tercatat, sineas seperti Garin Nugroho, Riri Riza sampai nama Oliver Stone ada di balik rencana adaptasi layar lebar yang tak kunjung terwujud. Buat sebagian besar orang, Bumi Manusia yang merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru ini mungkin punya pencapaian sama dengan Max Havelaar, karya sastra Multatuli (1860) yang juga disebut-sebut dalam novelnya sebagai karya yang dikagumi Minke (karakter utama Bumi Manusia) hingga ia menggunakan nama pena mirip dalam tulisan-tulisannya. Adaptasi layar lebar Max Havelaar yang merupakan produksi bersama Belanda – Indonesia tahun 1976 pun sempat tertahan di Badan Sensor Film selama 10 tahun saat itu.
Sama seperti Max Havelaar walaupun beda waktu, Bumi Manusia juga merupakan novel sastra yang berdiri di atas pandangan-pandangan soal nasib buruk rakyat Indonesia selama penjajahan Belanda. Penindasan, perbudakan yang akhirnya memicu keberanian bagi tokoh-tokohnya untuk berjuang, sambil diselipi romansa sebagai salah satu unsur penggeraknya. Kalau dalam Max Havelaar ada Saijah dan Adinda, dalam Bumi Manusia – ada Minke dan Annelies (diperankan Iqbaal Ramadhan dan Mawar Eva De Jongh – dikredit sebagai Mawar De Jongh), lelaki pribumi dan perempuan indo Belanda yang nasibnya terombang-ambing oleh penindasan dan paham-paham politik hingga perbenturan hukum Belanda dan Islam masa itu.
Hanung Bramantyo, sineas yang akhirnya berhasil mengadaptasinya ke layar lebar lewat skrip besutan Salman Aristo memang memilih fokusnya ke arah roman dalam tujuan memperkenalkan karya ini ke generasi sekarang. Walau begitu, bukan berarti visi-visi Pramoedya soal penindasan dan kolonialisme itu tak ikut muncul sebagai latar yang juga tergambar dengan kuat di balik tata serta desain produksi mewah yang mengiringi filmnya. Plot soal kisah cinta Minke dan Annelies di pergelutan tanah kolonial awal abad ke-20 itu pun membawa serta karakter ibu Annelies, Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), sosok yang dikagumi Minke akan pemikirannya di balik stigma akan status gundik Belanda yang diemban Ontosoroh. Sebagai putra keluarga bupati (Donny Damara & Ayu Laksmi) yang mendapat kesempatan langka bersekolah di HBS, Minke pun mulai mencoba melawan keangkuhan hukum kolonial dan tekanan-tekanan lain yang sewaktu-waktu bisa merenggut paksa Annelies dari sisinya.
Benar adanya memang bahwa desain produksi kolosalnya masih sedikit menyisakan ketidakakuratan historis di sisi tata artistik oleh Allan Sebastian dan tata kostum dari Retno Ratih Damayanti meski tak sampai mengganggu penceritaan. Begitu pula estetika ala Hanung di film-film bernada historis yang cenderung tipikal dan agak bombastis juga bertabur cameo (ada Chew Kin Wah, Kelly Tandiono, Christian Sugiono hingga Dewi Irawan di sini), namun paling tidak, penceritaannya bersama skrip Salman sebenarnya sudah cukup mencakup ragam permasalahan yang dihadirkan Pramoedya dalam sumber aslinya.
Walau fokus utamanya ada pada romansa Minke dan Annelies, yang dibawakan Iqbaal dan Mawar secara cukup baik meski masih berbaur inkonsistensi baik dalam gestur, ekspresi dan lafal-lafal Belanda, mereka tak lupa menyorot inti terpenting Bumi Manusia dalam esensi-esensi edukasi, perang opini lewat media, hingga perbenturan hukum kolonial/Belanda dan Islam yang memang sampai sekarang masih kerap dipelajari serta jadi patokan di pandangan-pandangan atau adopsi ke sistem hukum kita. Bahwa lebih dari gambaran penuh protes sosial soal penindasan sebagai latar belakang kondisi bumi pertiwi, atau romansa sebagai bumbu – walaupun keduanya sama-sama membentuk motivasi dan reaksi sebab-akibat dalam keseluruhan pengisahannya, Bumi Manusia sebenarnya merujuk pada sebuah paham di mana edukasi menjadi sangat penting dalam sebuah perlawanan, sekaligus untuk hidup dan mencintai di masa-masa paling sulit sekalipun. Di sini pula, bagian plot soal asal Minke, nama asli dan latar posisi keluarganya menjadi sangat relevan terhadap batasan-batasan kelas sosial masa itu untuk mengenyam pendidikan layak.
Sayangnya, memang perdebatan soal hukum yang sebenarnya menjadi sangat penting dan membutuhkan durasi lebih lama untuk pemahaman esensialnya sedikit tenggelam oleh fokus romansa, apalagi proses peradilan di bagian-bagian akhir yang seharusnya lebih penting dari soal pengungkapan pembunuhan yang lewat hanya sekelebat dalam filmnya. Begitupun, lewat skrip Salman, untungnya Hanung memberi porsi layak buat esensi mentor – protege antara Nyai Ontosoroh dan Minke. Lewat pengadeganan soal kembali ke HBS, penanaman emosi soal ini harusnya bisa tampil lebih walaupun yang tampil di film sudah cukup baik. Tapi memang Sha Ine Febriyanti-lah yang bertransformasi paling baik memerankan Nyai Ontosoroh dengan segala elegansi di balik stigma sosoknya, juga sepenggal latar belakang pahit yang ia alami. Bahwa kita, sebagai penontonnya, bisa diyakinkan bahwa ia bukanlah seorang Nyai biasa dalam esensi-esensi soal edukasi dan pembelajaran tadi.
Selain Ine, yang tampil gemilang dalam departemen cast-nya adalah Donny Damara dalam kemunculan singkatnya, lalu Ayu Laksmi yang mampu memberi penekanan emosi di adegan-adegannya bersama Iqbaal. Mawar bermain kuat sekali terutama dalam interaksinya terhadap Ine dan Iqbaal di titik klimaks yang cukup menggetarkan. Di porsi pendukung, masih ada aktor muda Jerome Kurnia, Giorgino Abraham dan Bryan Domani yang tampil cukup baik, juga Siti Fauziyah dalam porsi komikal cukup diingat dan Hans de Kraker sebagai pelukis asal Perancis Jean Marais tanpa ada pemeran-pemeran asing yang bermain dengan bahasa Indonesia dialek Belanda berlebihan seperti biasa di film-film bergenre sama. Tapi yang paling berhasil menyita perhatian selain Ine tentulah Whani Darmawan sebagai centeng Madura garang, Darsam yang menjadi pelayan setia keluarga Ontosoroh. Tokoh teater yang sudah malang-melintang dan muncul terakhir dalam Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin ini sekaligus membuat Darsam menjadi gambaran dan karakterisasi kontradiktif dalam perjuangan melawan penindasan yang hadir secara fisik di tengah esensi soal edukasi menjadi pijakan utama yang dibawa Pramoedya.
Sementara di departemen teknis lainnya, tata kamera Ipung Rachmat Syaiful – seperti biasanya, tampil menonjol bersama penyuntingan akhir dari Sentot Sahid (bersama Reynaldi Christanto) dalam menjaga laju penceritaan dari durasi sedikit melebihi 3 jam (dengan pembuka lagu Indonesia Raya sebelum film dimulai). Begitu juga, tata suara dari Satrio Budiono dan alm. Khikmawan Santosa. Tata musik dari Andhika Triyadi hadir cukup megah walau secara relatif mungkin dihadirkan hampir sepanjang durasinya. Ada juga lagu nasional saduran himne kuno luar, Ibu Pertiwi, yang dibawakan trio oleh Iwan Fals, Once Mekel dan Fiersa Besari sebagai lagu temanya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan-kekurangan kecil yang masih bisa dimaafkan itu, Bumi Manusia sungguh bukan sebuah adaptasi yang gagal. Seperti produk-produk adaptasi yang lain, ia bisa jadi menyederhanakan sumber aslinya terutama bagi pembaca novelnya, serta tak bisa tidak, harus memilih fokusnya sebagai komoditas audio-visual yang layak dijual. Tapi paling tidak, eskalasi emosinya yang membutuhkan waktu tanpa juga membuat kita jemu menunggu hampir tiga jam, pada akhirnya bisa benar-benar meledak di pengujungnya. Dan ada satu hal paling krusial yang tetap terjaga dengan cukup baik. Dalam hal ini, Bumi Manusia, untungnya tak pernah kehilangan esensi utamanya sebagai sebuah adaptasi yang lama ditunggu. Bagi sebagian orang, ia adalah sebuah roman. Bagi sebagian yang lain, bisa jadi soal protes sosial atau keberanian melawan penindasan. Namun esensi sebenarnya yang tergambar dari karakter-karakternya adalah soal belajar, bahwa edukasi bukan hanya berguna buat mengobarkan perlawanan terhadap penindasan dan mendobrak strata atau stigma sosial, tapi juga membuat manusia belajar untuk hidup dan mencintai dalam kondisi seburuk apapun. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY