Cahaya Dari Timur: Catatan Optimisme Dari Konflik Kemanusiaan

Cahaya Dari Timur: Catatan Optimisme Dari Konflik Kemanusiaan

2923
SHARE

Oleh: Reiza Patters

Maluku. Kata itu bukan Cuma nama tempat. Kata itu ajar katong samua darimana katong berasal. Par apa katong bajuang. KARENA BETA MALUKU! Bukan Tulehu, bukan Paso. Bukan Islam, bukan Kristen.” – Sani Tawainella

Konflik sosial, apapun sebabnya, bagaimanapun bentuknya, siapapun pelakunya, selalu akan menimbulkan bekas dan pertanyaan sesudahnya. Siapapun manusianya, pastilh tidak ingin terjebak dalam situasi dan kondisi seperti itu, bahwa nyawa dan masa depan selalu menjadi pertaruhannya. Di balik itu, selalu saja ada manusia-manusia berani yang mau memikirkan dan berbuat sesuatu untuk bisa keluar dari situasi tersebut. Hebatnya lagi, mereka mau mengorbankan banyak hal untuk bisa mewujudkan keinginannya untuk terlepas dari jebakan konflik dan mengajak banyak orang untuk itu dengan melakukan hal yang inspiratif.

Ini terjadi dalam kenyataannya, bagaimana seorang Sani Tawainella, seorang mantan pemain sepak bola yang gagal menjadi pemain profesional dan akhirnya hanya berprofesi sebagai tukang ojek di Kota Ambon, mampu melakukan banyak hal yang inspiratif untuk anak-anak muda di daerahnya agar tidak terjebak dan larut dalam suasana dan situasi konflik Ambon pada awal tahun 2000-an lalu.

Kisah ini secara tidak sengaja ditemukan oleh sutradara muda, Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda, 2010) yang berperan sebagai produser eksekutif, produser, sutradara, penulis naskah dan pemilik Production House (PH) dalam produksi film ini, pada tahun 2007. Saat itu, dirinya sedang berada di kota Ambon untuk keperluan syuting iklan sebuah produk. “Sebagai seorang pembuat film, saat itu saya merasa telah menemukan sebuah materi film yang sangat kuat. Tapi sebagai manusia, saya merasa mendapatkan pengalaman yang telah mengubah hidup saya sendiri,” jelasnya saat ditemui secara pribadi.

Penulisan naskah film ini berlangsung sejak tahun 2008. Setelah “Hari Untuk Amanda” rilis pada tahun 2010, barulah film ini diproduksi secara total. Judul film ini, “Cahaya Dari Timur” diberikan oleh Andi Bachtiar Yusuf yang juga menjadi salah satu orang yang diajak berdiskusi secara intens di awal-awal penggarapan cerita ini. Lalu ide cerita ini juga dipaparkan kepada Glenn Fredly, seorang musisi berdarah Maluku, yang juga bersama-sama dengan Angga menggagas gerakan Voice From The East. Saat itu, setelah mendengar dan membaca tentang ide cerita ini, Glenn langsung bersemangat dan menyatakan untuk terlibat dalam produksi ide cerita tersebut. Dan akhirnya, Glenn bertindak sebagai produser bersama dengan Angga dalam produksi film ini.

Kendala terbesar saat di awal adalah investor. Hal ini diakui sendiri oleh Angga. Ide cerita yang lugas, yang menggambarkan tentang konflik sosial memang memerlukan sebuah keyakinan dan argumentasi yang kuat untuk meyakinkan investor agar mau menginvestasikan pada film ini. Dan proses ini berjalan hingga 3 tahun lamanya, hingga akhirnya film ini bisa diproduksi.

“Investor film ini tidak satu, ada beberapa. Ada Pak Gita Wirawan, Arifin Panigoro dan beberapa investor yang lain. Jadi memang ini film patungan. Karena tidak ada orang banyak yang mau menyoba untuk membangun film dengan profil film seperti ini,” jelas Angga ketika ditanya tentang hal tersebut.

Kemudian yang menarik adalah dalam film ini, Angga melibatkan hampir 90% cast orang lokal dalam produksinya dan dilakukan open casting di sana. Untuk karakter-karakter utama, tetap menggunakan aktor dan aktris berpengalaman, seperti Chiko Jericho sebagai Sani Tawainella, Jajang C. Noer sebagai Mama Alvin, Shafira Umm sebagai Haspa Umarella istri Sani, Ridho Slank, Glenn Fredly dan lainnya. Khusus untuk Chico Jericho, sebagai film layar lebarnya yang pertama, dirinya memang mendapatkan perlakukan khusus untuk memerankan film ini. Dia sampai tinggal di rumah keluarga Sani yang asli di Tulehu selama 2 minggu, merasakan kehidupan sehari-hari di sana dan mempelajari logat dan bahasa Tulehu dan Maluku.

“Ini bisa mengasah saya dan belajar keluar dari comfort zone. Saya sejak awal ingin sekali bermain film dan mendapatkan kesempatan di filmnya Angga. Ini tantangan buat saya karena harus ‘kawin’ dengan kebudayaan Sani. Lalu juga menjadi orang Maluku itu juga sangat menantang. Bahasa Ambon itu asing buat saya, jadi saya harus berlatih keras untuk itu,” terang Chico saat interview langsung dirinya beberapa waktu lalu.

Angga, sebagai pemilik PH Visinema Pictures, juga menjelaskan bahwa Cahaya Dari Timur adalah sebuah rangkaian seri film yang mengangkat  kisah-kisah  inspiratif  dari Timur  Indonesia, di mana Cahaya Dari Timur: BETA MALUKU adalah sebagai  film pertama dari rangkaian tersebut. “Kami berusaha menggambarkan secara lugas tentang konflik di Maluku, yang kami pikir memang perlu untuk diketahui publik Indonesia sebagai pelajaran. Dan pada akhirnya kami berharap bahwa kita sebagai sebuah peradaban bisa meminimalisir dan menghindari konflik sosial karena hanya membawa kehancuran dan penderitaan bagi kita semua,” tegasnya.

Film Beta Maluku merupakan kisah nyata dari kehidupan seorang Sani Tawainella (diperankan oleh Chicco Jerikho) yang merupakan mantan pemain sepak bola yang berasal dari desa Tulehu, Ambon. Sani Tawainella sempat mewakili Indonesia pada Piala Pelajar Asia tahun 1996 di Brunai Darussalam namun kemudian ia gagal menjadi pemain professional setelah sebelumnya juga gagal dalam seleksi PSSI    Baretti. Akhirnya Sani Tawainella memutuskan untuk mundur dari dunia sepak bola dan kembali ke  Tulehu bersama dengan istrinya dan kemudian menjadi Seorang tukang ojek.

Awal tahun 2000‐an, kerusuhan di Maluku pun terjadi dan membuat semua kegiatan menjadi tidak menentu bagi seluruh warga Maluku. Dalam suasana yang tidak menentu, Sani Tawainella memutuskan untuk mengumpulkan anak‐anak di Tulehu untuk berlatih sepakbola dengan tujuan utama menghindarkan anak‐anak tersebut dari konflik. Sani percaya bahwa sepakbola dapat memberikan pengaruh yang positif bagi kehidupan anak‐anak tersebut serta dapat menjadi ingatan baik untuk anak-anak sebagaimana pengalaman masa kecilnya.

Selain teknik bermain sepakbola, Sani juga menanamkan nilai‐nilai hidup saling bersaudara dan saling mengasihi. Terutama, Sani juga selalu memberikan motivasi agar anak didiknya mempunyai semangat    tinggi untuk terus maju. Sani selalu meneriakan kata‐kata “Motivasi Tinggi!” dan anak-anak didiknya diminta untuk membalas dengan teriakan “Tinggikan!” yang penuh semangat. Semangat dan dedikasi Sani membuahkan hasil karena akhirnya Sani dipilih menjadi kepala pelatih dan dapat membawa kesebelasan Maluku menjadi juara pada kompetisi nasional Under 15, di tahun 2006.

Kisah Sani Tawainella menjadi inspiratif karena Tim Maluku yang dikomandaninya melibatkan dua komunitas besar di Maluku yang sebelumnya bertikai. Konflik-konflik yang awalnya terjadi dalam tim karena perbedaan yang ada, dihadapi oleh Sani dengan mengobarkan semangat untuk hidup lebih baik   setelah tragedi konflik berdarah yang menimpa kehidupan mereka di masa sebelumnya. Sani menekankan bahwa sepak bola untuk anak-anak didiknya bukan hanya persoalan menang atau kalah, tapi lebih banyak tentang persaudaraan dan perdamaian dalam menjalani kehidupan.

Film Cahaya dari Timur Beta Maluku hampir seluruhnya menggunakan bahasa melayu Ambon dan keseluruhan karakter anak‐anak didik Sani, diperankan oleh anak‐anak asli Maluku. Kisah ini sendiri ditulis oleh penulis skenario muda asal Maluku yang juga menjadi saksi hidup masa‐masa konflik Maluku, yaitu M. Irfan Ramli, bersama Swatika Nohara, penulis skenario film Hari Ini Pasti Menang yang mendapatkan penghargaan di ajang Piala Maya 2013 lalu. Beberapa musisi legendaris Maluku juga berkolaborasi dengan beberapa musisi muda Indonesia dan bersama‐sama mengerjakan soundtrack dari film ini.

Dengan banyaknya nilai positif mengenai kesadaran akan identitas, persatuan serta perdamaian, film mendapatkan dukungan dari Ancora Foundation yang didirikan oleh Gita Wirjawan dan PT. Sebuku lron Lateritic Ores (SILO). Film Cahaya Dari Timur: BETA MALUKU ini dijadwalkan rilis di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada bulan Juni 2014 dan juga akan didistribusikan di bioskop-bioskop internasional, salah satunya di Belanda.

Sebagai sebuah rekaman dari kehidupan seseorang, keluarganya dan masyarakat di sekelilingnya, film ini terlihat ingin memberikan sebuah catatan optimis tentang perilaku aspiratif dan bermanfaat bagi orang banyak, di tengah konflik sosial yang diliputi keputusasaan, kemarahan dan kebencian satu sama lain pada yang terlibat. Bahwa dalam sebuah konflik sosial di dalam masyarakat, selalu ada manusia atau individu-individu yang sebetulnya lebih memilih menghindar dan meredam kemarahan dan keputusasaan dengan melakukan hal-hal yang lebih berguna untuk dirinya sendiri dan banyak orang, dan pada akhirnya menjadi aspirasi bagi orang banyak. Itulah gambaran dari film ini, sebuah catatan optimisme di tengah keputusasaan akibat konflik sosial.

Proses produksi film Beta Maluku sendiri membutuhkan tidak kurang dari 40 hari syuting. Dimulai pada tanggal 17 Desember 2013 di Jakarta dan kemudian berpindah lokasi ke Tulehu, Maluku pada tanggal 7 Januari hingga 2 Februari 2014. Film ini serentak pada tanggal 19 Juni 2014 dan berhasil meraih predikat Film Terbaik pada Festival Film Indonesia 2014 dan menempatkan Chicco Jericho sebagai Pemeran Pria Terbaik FFI 2014. Walaupun perolehan penonton film ini hanya 129.166 pada 2014 lalu, tetap saja kualitas film ini sebetulnya berada di atas rata-rata film yang rilis berbarengan. Dan memang, kita masih memiliki persoalan pada selera menonton film dan kemampuan untuk memberikan apresiasi terhadap film-film nasional yang berkualitas.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY