Dua Garis Biru: Gambaran Persoalan Urban Dibalik Kontroversi

Dua Garis Biru: Gambaran Persoalan Urban Dibalik Kontroversi

112
SHARE

Pada tanggal 11 Juli kemarin, Film remaja berjudul Dua Garis Biru dirilis. Film ini bercerita tentang kehidupan sepasang remaja, Bima (diperankan oleh Angga Yunanda) dan Dara (diperankan oleh Zara JKT48) yang menikmati jalinan asmara masa muda mereka. Namun, tiba-tiba masa depan mereka terancam, karena Dara hamil di luar nikah, padahal Dara memiliki impian untuk bersekolah di Korea Selatan. Karena mereka dianggap telah melanggar batas hubungan remaja, gejolak asmara muda mereka berakhir pada pernikahan dini sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Film yang digarap oleh Gina S. Noer sebagai sutradara dan penulis dalam film ini memang tidak perlu diragukan lagi. Melihat kesuksesan film-film sebelumnya seperti, Ayat-ayat Cinta (2008), Hari Untuk Amanda (2010), Posesif (2017), Kulari ke Pantai (2018), dan Keluarga Cemara (2018), film Dua Garis Biru pun digarap dengan baik, dibungkus dengan narasi yang kuat dan padat.

Film ini juga dianggap berhasil mematahkan kontroversi dan reaksi negatif orang yang menganggap film tersebut terlalu gamblang menceritakan dinamika persoalan remaja. Padahal, film tersebut diangkat dari permasalahan yang kerap terjadi di sekeliling kita, yaitu permasalahan pernikahan dini. Namun, permasalahan harus diselesaikan. Bukan lantas dibiarkan atau berlarut larut atas ego masing-masing. Film ini berhasil menggambarkan tanpa basa-basi, persoalan sosial tentang pentingnya pendidikan seks sejak usia dini. Bukan pada konteks mengajak anak-anak remaja untuk membolehkan remaja melakukan hubungan yang luas sejak dini.

Kualitas akting Zara JKT48 perlu diberikan perhatian. Zara yang memerankan Dara, tampak begitu matang dalam debutnya sebagai pemeran utama. Ekspresi dan pesan secara jujur berhasil dimainkan. Keberhasilan Zara juga berhasil diimbangi oleh Angga Yunanda sebagai pemeran utama. Angga bahkan mampu membangun dialog dalam “diam”nya, sebagaimana narasi film ini memang nggak banyak dialog, sebagai ruang agar penonton bisa mengintepretasi sendiri adegan-demi adegan dengan baik. Seperti yang dia juga berhasil lakukan dengan aktingnya dalam film Sajen (2018), Tabu: Mengusik Gerbang Iblis (2019), dan Sunyi (2019).

Bukan saja karakter tokoh utama yang dibuat kuat oleh Gina, melainkan seluruh tokoh yang terlibat di dalam frame. Tetangga-tetangga Bima dengan jelas berhasil merepresentasikan kehidupan kaum urba, yang mana dalam konteks pernikahan dini sering menjadi korban. Atau Asri Welas yang dengan humornya berhasil menggambarkan sikap kebanyakan masyarakat kita ketika mengetahui adanya kehamilan dini. Ditambah kehadiran beberapa pemain senior seperti, Cut Mini dan Arswendy Bening Swara sebagai orang tua Bima, serta Lulu Tobing dan Dwi Sasongko sebagai orang tua Dara, gambaran sikap dalam perbedaan strata sosial menghadapi sebuah masalah menjadi sempurna.

Dari sisi Sinematografi, adegan-demi adegan dalam film ini sangat membantu penonton untuk memaknai tiap adegan dengan baik. Selain itu, meski problem yang dihadapi kedua tokoh adalah persoalan serius, tidak nampak kesuraman yang berarti ditonjolkan dalam detil visual film ini. Warna-warna detil dan lembut justru terus menghiasi adegan-demi adegan. Scoring dan musik yang ada pada film ini juga menyatu dengan sederhana. Pemilihan soundtrack yang sangat kekinian juga membantu tersampaikannya pesan dengan baik ke penonton.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY