Ikut Aku Ke Neraka, Film Horror Yang Gagal Bercerita

Ikut Aku Ke Neraka, Film Horror Yang Gagal Bercerita

112
SHARE

Film Ikut Aku Ke Neraka, film garapan Azhar Kinoi (Kafir: Bersekutu dengan Setan) ini didukung oleh Cut Mini dan Teuku Rifnu Wikana beserta aktris dan aktor muda seperti Clara Bernadeth dan Rendy Kjaernett hingga Sara Wijayanto.

Film ini bercerita tentang sepasang suami istri, yaitu Rama (Rendy) dan Lita (Clara) yang menempati rumah baru. Kehidupan mereka nyaris sempurna, sampai Lita akan melahirkan bayi pertama mereka. Rama yang selalu ingin Lita terlihat sempurna mendapat rekomendasi dari dokter ahli bedah plastik ternama untuk bisa menghilangkan tanda lahir pada punggung Lita. Proses operasi pun berjalan lancar. Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena Lita kerap diteror oleh mahluk halus berwujud perempuan menyeramkan.

Film yg diproduksi oleh Rapi Films ini berusaha menampilkankan adegan-adegan yang mencekam, bisa dilihat dari beberapa adegan seperti bayangan sesosok wanita dalam cermin, ranjang yang seolah digoyang seseorang dari bawah, dan beberapa adegan mencekam lainnya. Namun para pemain dianggap kurang mampu mengembangkan karakternya dan kesan menyeramkan sedikit hilang karena kekakuan dan seperti tidak memahami keseluruhan alur cerita film. Akting mereka seadanya dan seperti terputus dalam satu adegan dengan adegan yang lain.

Cut Mini juga terlihat kurang berhasil dalam memerankan orang dengan gangguan jiwa. Namun aktingnya tetap dapat mencuri perhatian walaupun porsinya tidak terlalu banyak. Begitupun Sara Wijayanto terlihat kurang maksimal. Dia yang biasanya sangat baik dalam memerankan tokoh paranormal dalam film horor, justru hanya memainkan peran seorang Psikiater saja.

Film ini sebetulnya ditulis dengan baik oleh Fajar Umbara. Bagaimana alur cerita ditulis dengan memberikan potongan-potongan yang tidak tersambung, namun pada akhirnya memberikan titik temu dan benang merah atas keseluruhan alur cerita. Plot twist dalam cerita ini ada pada operasi tanda lahir Lita. Di awal terasa bahwa bagian itu hanyalah filler untuk menambah panjang durasi film dan terkesan tidak penting, padahal titik balik cerita justru berkaitan dengan hal tersebut. Namun begitu, penggunaan diksi yang tampak kurang pas di sana-sini, hanya membuat kabur makna sesungguhnya dalam film tersebut.

Sedikit lebih baik adalah departemen penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup membuat segelintir jump scare yang cukup efektif meningkatkan intensitas, walaupun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas, dan masih terjebak dalam pemakaian tata suara berisik. Elemen solid lain adalah tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi spesial akibat terlalu sering dieksploitasi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY