Konsep Kecantikan, Tanda Lahir dan Penerimaan Diri – Wawancara dengan Sutradara Yuka...

Konsep Kecantikan, Tanda Lahir dan Penerimaan Diri – Wawancara dengan Sutradara Yuka Yasukawa dari The Nighthawk’s First Love di TIFF ke-34

55
SHARE
Yuka Yasukawa ©2021 TIFF

Dari line up film-film di Tokyo International Film Festival ke-34 tahun ini, ada satu yang sangat menarik perhatian saya sejak awal sewaktu membaca sinopsis dan kemudian mendorong saya untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya. Sayang, memang belum terlalu banyak informasi tentang film yang rencananya baru akan dirilis tahun depan di bioskop-bioskop Jepang ini kecuali sinopsis dan kredit-kredit utamanya.

Kalaupun saya melewatkan, di tengah film-film non horor dan fantasi (terutama body horror) yang membahas soal penyakit kulit, ada sedikit bahkan belum pernah ada sebelumnya, tema soal birthmark (tanda lahir; juga sering disebut ‘tembong’ di Indonesia) yang diangkat ke layar lebar, apalagi dengan gambaran latar yang realistis. Ini jadi sangat spesial buat saya yang juga berprofesi sebagai seorang dermatolog, di mana film-film dengan problem penyakit kulit masih jauh kalah pamor dibanding kehadiran penyakit-penyakit lain, biasanya terminal – di layar lebar.

Ada di Asian Future sebagai satu dari dua film Jepang di segmen yang dimaksudkan untuk merayakan filmmaker Asia baru dan potensial ini, THE NIGHTHAWK’S FIRST LOVE merupakan adaptasi novel pemenang Naoki Prize karya Shimamoto Rio (2013). Seperti novelnya sendiri, The Nighthawk’s First Love bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Aiko dengan birthmark di wajah (facial birthmark) yang membuatnya kerap mendapat perundungan sewaktu kecil dan kemudian mengganggu rasa percaya dirinya sebagai wanita. Lalu buku tentang curhatan pribadinya menarik perhatian produser buat diangkat ke layar lebar, di mana Aiko lantas jatuh cinta pada sang sutradara yang ternyata mau menerimanya, namun ada masalah lain tentang perasaan yang ternyata tak berbalas sama.

Di balik konsep soal kecantikan dan permasalahan tanda lahir yang berujung pada sebuah kisah menarik serta relevan tentang penerimaan diri, adalah sutradara perempuan Yuka Yasukawa yang kemudian menemukan jalan untuk mengangkatnya menjadi sebuah film. Lahir di Naha, 35 tahun lalu, Yasukawa bukanlah seorang sutradara yang benar-benar baru. Film debutnya, sebuah drama indie DRESSING UP di-premiere-kan di Osaka Asian Film Festival (OAFF) di tahun yang sama dan kemudian menganugerahinya Grand Prize di Tama New Wave Festival 2013. Film itu lalu dirilis di bioskop-bioskop Jepang di tahun 2015 dan lagi-lagi meraih piala untuk The Best New Director di Japanese Professional Movie Awards ke-25. Setelah itu, Yuka juga membuat segmen dalam film antologi 21st CENTURY GIRL dan KAMATA PRELUDE, yang kembali ke OAFF sebagai film penutup. Dalam Kamata Prelude, Yuka menulis dan menyutradarai  segmennya tentang pelecehan seksual di tengah audisi seorang aktris. Semua karya-karyanya memang punya orientasi kuat soal menjadi seorang perempuan.

The Nighthawk’s First Love diperanutamai oleh Rena Matsui, aktris, penyanyi, novelis, YouTuber serta mantan anggota grup idol Jepang SKE48 dan Nogizaka46. Kebanyakan bermain di film-film TV, ia juga beberapa kali menjadi peran utama di film layar lebar, juga di segmen penyutradaraan Yuka di 21st Century Girl. Perannya di The Nighthawk’s First Love menjadi peran yang sangat menonjol dan Yuka melihat semangat besarnya untuk memerankan Aiko. Dari sesi Q&A filmnya, Yuka mengatakan ia berulang kali melihat Rena membaca novelnya sambil menempelkan catatan-catatan kecil di halamannya, dan ini membuatnya merasa sangat terinspirasi oleh usaha dan keteguhan Rena.

Melihat bagaimana Yuka menampilkan permasalahan utama soal tanda lahir dan alegori terhadap burung bernama Nighthawk untuk membahas ekses lebih jauh soal konsep kecantikan dan penerimaan diri, selain juga secara cermat menggambarkan aspek-aspek dari tanda lahir lewat make-up yang sangat teliti, juga merambah ke soal penatalaksanaan yang akurat dan update, saya sebenarnya ingin membahas lebih jauh, menanyakan lebih banyak hal lagi padanya soal film ini. Sayangnya, waktu wawancara yang ada cukup terbatas. Tapi paling tidak, Yuka sudah menyempatkan waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan kami di tengah kesibukannya menghadiri penayangan The Nighthawk’s First Love di TIFF ke-34.

Berikut adalah kutipannya.

©Rio Shimamoto/SHUEISHA ©2021 “The Nighthawk’s First Love” Production Committee

Bagaimana proses awal Anda bisa membuat film ini?

The Nighthawk’s First Love bukanlah cerita saya, tapi merupakan adaptasi novel karya Shimamoto Rio. Saya sangat menyukai tulisannya dan seperti kisah Aiko di dalam novelnya, ia ingin mengangkat novel ini ke layar lebar. Ketika saya membacanya, saya sangat kagum terhadap daya tarik yang ada dalam karakter Aiko yang berjuang untuk bisa diterima dengan kekurangan fisik dan estetiknya sebagai wanita, dan banyak aspek sosial yang turut diangkat di dalamnya. Saat saya selesai membacanya, saya merasa saya begitu ingin membuat film ini dan tak ingin proyeknya jatuh ke tangan filmmaker lain.

Bagaimana pandangan Anda soal konsep kecantikan dan penerimaan diri sebagai ekses anggapan-anggapan soal tanda lahir yang ditampilkan di Nighthawk?

Sebagai seorang perempuan yang hidup di tengah masyarakat Jepang, ketika saya memikirkan soal kecantikan, kita memang cenderung terpatok ke anggapan-anggapan umum yang ada soal kesempurnaan agar bisa dianggap normal. Kebanyakan perempuan sekarang sangat terpengaruh pada persepsi dan terminologi-terminologi semu soal kecantikan ini, membuat mereka kerap ingin menjadi si ini dan si itu, berpakaian seperti orang lain yang dianggap memenuhi persyaratan tadi. Lewat Nighthawk, saya ingin menceritakan perlawanan seoarang perempuan untuk bisa diterima di lingkungannya dengan kekurangan fisik yang ia miliki. Banyak orang yang melihatnya secara superfisial dan akhirnya melupakan sisi humanis yang ada dalam diri seorang manusia. Ini membuat karakternya lantas kebanyakan bersembunyi di dalam kegelapan dan larut dalam rasa rendah dirinya hingga suatu saat ia mulai mencoba menerima semua kondisi itu lewat tahapan-tahapan yang ia alami.

Seperti apa konsep cinta yang ingin Anda gambarkan di sini?

Ada banyak cinta yang saya gambarkan di film ini, dari cinta pertama (seperti judulnya) Aiko terhadap sang sutradara (diperankan Ayumu Nakajima), cinta dalam hubungan-hubungan persahabatan, cinta yang ternyata tak terbalas sebagaimana mestinya, namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita bisa menerima dan mencintai diri kita sendiri.

Saya rasa tema yang Anda angkat dalam The Nighthawk’s First Love sangat menarik walaupun sumbernya berasal dari novel, soal birthmark yang belum pernah diangkat ke film dan lantas menghubungkannya pada sebuah komentar sosial soal konsep kecantikan dan penerimaan diri dari karakter utama sekaligus kacamata perempuan. Karena saya juga seorang dermatolog, saya ingin menanyakan seberapa jauh riset yang Anda lakukan soal aspek medisnya, dan apakah ada penggunaan konsultan medis baik di skrip adaptasi maupun eksekusi make-up-nya?

Wah, terima kasih. Saya cukup banyak melakukan riset hingga berkonsultasi dengan tak hanya satu, tapi banyak dermatolog yang ikut memberikan berbagai saran untuk menjaga akurasinya. Saya juga melakukan riset terkait sumber aslinya yang sudah berusia 8 tahun lalu di mana penatalaksanaan tanda lahir ini, salah satunya melalui terapi laser yang masih relatif baru, mungkin sekitar beberapa tahun belakangan, yang saya tampilkan di filmnya. Jadi memang kami menggunakan sejumlah medical advisors, para dermatolog, dalam membuat film ini. Begitu juga untuk eksekusi make-upnya. Dalam cerita aslinya, birthmark yang ada pada Aiko digambarkan jauh lebih gelap dan besar, namun agar terlihat lebih wajar, realistis dan bisa lebih meyakinkan, para konsultan ini ikut memberikan masukan ke make-up artist kami, mulai dari bentuk hingga seberapa gelap gradasi yang dibutuhkan.

Keren. Saya bisa memuji usaha yang Anda lakukan dan semua aspek medis yang muncul dalam The Nighthawk’s First Love memang terlihat cukup akurat tanpa sama sekali terkesan berlebihan.

Terima kasih. Saya merasa sangat lega atas komentar Anda, dan saya yakin make-up artist kami juga akan sangat senang dengan masukannya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY