Mariposa: Cinta Itu (Tidak) Sederhana

Mariposa: Cinta Itu (Tidak) Sederhana

47
SHARE
Image: Falcon Pictures/Starvision Plus, 2020

Sutradara: Fajar Bustomi

Produksi: Falcon Pictures, Starvision Plus, 2020

Ada banyak pasangan remaja layar lebar yang tercipta lewat film, tak terkecuali film Indonesia. Nanti dulu pula status legendaris karena waktu yang akan menentukan nantinya. Tapi yang berhasil dalam artian komersil sehingga dipasangkan hingga mencetak kesuksesan lebih dari sekali, tentu tak banyak. Di generasi ini, Angga Yunanda dan Adhisty Zara agaknya boleh masuk ke segelintir daftarnya. Chemistry yang klop lewat ‘Dua Garis Biru’ kini mereka ulangi lagi di ‘Mariposa’, adaptasi Wattpad populer besutan Luluk HF.

Sebagai sebuah adaptasi Wattpad, sekilas, mungkin ia sama sekali tak seserius Dua Garis Biru yang mengusung soal pernikahan muda sampai ke konflik keluarga. Template dan pola-pola klise kisah-kisah percintaan remaja di Wattpad memang tak beranjak jauh dari bad boy yang digandrungi cewek-cewek di sekolah, dialog-dialog gombal dan soal per-bucin-an. Mariposa juga seperti itu. Karakter-karakter stereotip, benar juga. Tapi nanti dulu, karena sederhana belum tentu pula selalu berarti biasa.

Judul Mariposa sendiri mengarah ke karakter utamanya, Iqbal (Angga Yunanda), yang bagi Acha (Adhisty Zara) tak ubahnya bak kupu-kupu yang bila didekati selalu menghindar. Dikenal sebagai cowok cakep, pintar dan digilai banyak cewek di sekolah, Iqbal ternyata berhati dingin. Kecuali dua sahabatnya, Glen (Junior Roberts) dan Rian (Abun Sungkar), perhatiannya tersita untuk mengejar prestasi termasuk dalam olimpiade sains atas dorongan keras dari sang ayah. Acha pun sebenarnya menaruh minat besar dalam pelajaran sains hingga rela pindah sekolah demi niatnya bergabung dalam olimpiade tersebut. Namun Iqbal yang menarik hatinya membuat Acha tak menyerah mendapatkan perhatian Iqbal. Segala cara ia lakukan walaupun sudah diingatkan Amanda (Dannia Salsabilla) , BFF-nya, apalagi ketika ia bersama Iqbal sama-sama terpilih sebagai peserta olimpiade. Meski Iqbal tetap tak bergeming seperti batu, tapi keyakinan Acha tentu tak begitu saja bisa dipatahkan.

Begitulah. Plot yang diusung Mariposa memang sederhana dan sudah berulang kali kita lihat di film-film percintaan remaja sejenis. Tapi penceritaannya ternyata tak se-biasa yang kita kira, karena skrip adaptasi besutan Alim Sudio, pengarahan Fajar Bustomi yang dinamis dan di atas semuanya, keterkaitan akting Angga, Zara dan sederet aktor muda pendukungnya ternyata bisa membentuk sinergi yang tak kita temukan di rata-rata film dengan pencapaian biasa. Di tangan mereka semua, Mariposa bisa cukup kuat memercikkan sejumput ide soal emanispasi soal aktif-pasif gender-nya dalam mengejar cinta tanpa harus berserius-serius seperti menceramahi. Alih-alih pusing melihat aksi-reaksi yang biasa gagal tergambar di banyak film sejenis, kita sebagai pemirsanya justru bisa berkali-kali dibuat gemas bahkan tersentuh dengan belokan-belokan penceritaan tersebut.

Ini jelas ada pada peranan skrip, penyutradaraan dan akting para pendukungnya yang tak sampai membuat kita kesal. Karakter Iqbal yang diperankan dengan baik oleh Angga tak lantas jatuh ke ranah bad boy serba menyebalkan yang membuat Acha, yang juga diperankan dengan kepolosan dan naif-naif ala remaja sangat pas oleh Zara, terlihat murahan. Setiap aksi dan reaksinya ditimpali motivasi dari skrip Alim yang bisa membuat kita mengerti , dan justru di sini Mariposa menciptakan sebuah pemahaman bahwa soal cinta (dan hati) memang tak pernah bisa sederhana. Sebuah pencapaian yang tak mudah, memang, yang jelas memerlukan sensitivitas lebih dalam semua sisi penanganannya.

Di departemen teknisnya pula, Mariposa muncul dengan cemerlang. Materinya yang sederhana benar-benar ditangani dengan serius, membuat kita tak lagi mempertanyakan mengapa Mariposa mesti mengkolaborasikan dua PH sekelas Falcon Pictures dan Starvision dengan bujet seadanya. Sinematografi Dimas Imam Subhono yang dominan dengan warna-warna pastel untuk menekankan romantisasinya, tata artistik dari Allan Sebastian yang ikut menguatkan karakter, editing Ryan Purwoko dan tata musik dari Andhika Triyadi menyatu dengan pilihan lagu-lagu OST yang catchy dan ditempatkan dengan pas, terutama Gagal Bersembunyi dari The Rain dan theme song Rumit dari Langit Sore.

Seperti petikan lirik theme song tersebut, “Cinta itu sederhana… yang rumit itu kamu…”, yang juga mengantarkan salah satu adegan jagoannya seperti yang kita lihat di trailer, Mariposa memang membidik sasarannya dengan tepat. Jadi siapa bilang materi sesederhana romansa remaja harus juga ditangani dengan sederhana? Seperti cinta, ia juga bisa sama rumitnya. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY