Mekah I’m Coming: Komedi Cerdas dan Segar yang Penuh Sindiran Relevan

Mekah I’m Coming: Komedi Cerdas dan Segar yang Penuh Sindiran Relevan

46
SHARE
Image: MD Pictures, 2019

Sutradara: Jeihan Angga

Produksi: MD Pictures, Dapur Film, 2019

Tak seperti banyak novel best seller yang diangkat ke film, tak banyak mungkin yang tahu, jalan yang ditempuh novel Mecca I’m Coming karya Salamun Ali Mafaz dalam proses adaptasinya ini cukup panjang. Berganti penulis dan rumah produksi, dari judul awal yang sebenarnya bisa lebih mengena, Haji Hoax, Mekah I’m Coming akhirnya ditayangkan secara spesial di JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival) 2019 dan mendapat sambutan sangat baik sebelum akhirnya dirilis ke publik 5 Maret 2020.

Ditulis dan disutradarai oleh Jeihan Angga sebagai directorial debut layar lebarnya, Jeihan yang sebelumnya sudah banyak berkiprah di film-film pendek lokal memang menarik buat dilirik. Komedi yang ia hadirkan, sebagai salah satu genre yang nampak sepele namun sebenarnya paling penuh tantangan, terasa menyegarkan dan tak biasa. Ada gaya ‘Mo Lei Tau’ yang sudah lama namun dipopulerkan Stephen Chow di sinema HK, komedi insensibel yang juga disematnya ke banyak adegan lucu di Mekah I’m Coming. Bermain-main dengan komedi slapstick memang, tapi jangan salah, belum lagi bicara soal transformasi deretan cast-nya yang sangat gemilang, Mekah I’m Coming juga punya dasar plot dan penceritaan kuat, akrab dan sangat relevan dengan fenomena yang banyak terjadi di negeri ini.

Biarpun ganteng – apalagi untuk ukuran kampung, Eddy (Rizky Nazar) adalah anak muda yang dijuluki Sontoloyo karena kerap dianggap tak becus menjalankan usaha bengkel yang dimilikinya. Itu juga mungkin yang hubungan percintaannya dengan kembang desa, Eni (Michelle Ziudith) tak berjalan mulus. Setidaknya, dari sisi ayah Eni, juragan telur Pak Soleh (Totos Rasiti) yang tak yakin dengan status sosialnya. Pak Soleh jelas lebih memilih juragan kaya dari kota, Pietoyo (diperankan dengan jenaka oleh Dwi Sasono) yang berniat melamar Eni dengan segala iming-iming status kekayaannya. Demi memenangkan hati Eni, Eddy pun menuruti saran ibunya, Bu Ramah (Ria Irawan) untuk berangkat haji. Belakangan sadar kalau kuota haji tak bisa instan, Eddy pun memilih jalan pintas hingga ia ditipu habis-habisan oleh agen travel haji abal-abal. Maka terpaksa ia merancang penipuan ke Eni, Soleh, bahkan ibunya dan seluruh warga kampung  selagi tak punya pilihan selain menumpang sambil bekerja di lapak pakaian muslim milik Pak Rojak (Rasyid Karim) bersama Fajrul (Ephy Pae) yang juga jadi korban. Jelas, semua kebohongan ini akhirnya terbongkar dan berujung kekacauan, tapi toh niat baik Eddy terhadap Eni tak lantas bisa pupus begitu saja.

Secara sepintas, plot itu memang terlihat simpel-simpel saja. Namun durasi 93 menit pengisahannya bisa berjalan dengan efektif di atas penulisan dan pengarahan Jeihan. Pendekatan komedi yang berbaur nyaris sempurna secara situasional dan selipan-selipan mo lei tau itu ternyata bisa membuat kita sebagai pemirsanya terus dibuat terpingkal-pingkal dengan hal paling mendasar dalam sebuah bangunan komedi yang menertawakan kebodohan karakternya. Meski begitu, ada justifikasi kuat yang membuat empati kita mengakar pada karakter utamanya yang terang-terang salah jalan, dan ini jelas bukan hal mudah. Kreatif sekaligus nyeleneh, Jeihan bahkan sukses mengetengahkan salah satu highlight paling pecah yang diiringi lagu ‘Cidro’-nya Didi Kempot sebagai mars patah hati nasional belakangan, juga adegan klimaks di tengah jurang yang bukan main lucunya tapi bukan lantas di-set up alih-alih saja melainkan punya pengenalan rapi sejak awal. Ini luar biasa uniknya, dan catat satu hal, bahwa dalam mengemas fondasi kisah romansanya sebagai motivasi, Mekah I’m Coming tak pernah kehilangan hati.

Bertransformasi menjadi aktor di ranah komedi, satu yang gagal dilakukan Rizky dan Ziudith sebelumnya di ‘Calon Bini’, keduanya sukses menjalin ikatan kuat di atas persona layarnya. Meski dialeknya mungkin tak sempurna, tapi kita percaya atas semua motivasi yang mendasari pilihan-pilihan dua karakter utama ini. Ada heart factor yang kuat pula antara Eddy dan ibunya yang diperankan dengan cemerlang oleh alm. Ria Irawan di peran terakhirnya, sementara koneksi Eni dan Pak Soleh pun tak lantas jadi klise layaknya anak cewek yang tengah dimabuk cinta dan sang ayah yang tak peduli seberapa manipulatif tapi tetap menyayangi putri semata wayangnya. Keluwesan cast ini berbaur bersama deretan pemeran pendukung yang juga tak kalah baiknya, membuat Mekah I’m Coming bisa leluasa menyemat sindiran-sindiran relevan soal reliji dan penipuan travel haji dengan selipan komedi-komedi nyelenehnya. Selebihnya, memang tak ada yang terlalu menonjol dari sisi teknis selain mungkin iringan scoring Krisna Purna.

Luar biasa jenaka tanpa sekalipun terasa menceramahi walau berpijak di ranah reliji, Mekah I’m Coming menemukan jalannya di tengah sinergi Jeihan sebagai debutan dengan performa juara deretan pendukungnya. Sebut semua pendahulu genre-nya yang kaya aspek tanpa sekadar mau melucu, dari Kejarlah Daku, Kau Kutangkap, Nagabonar hingga Get Married – Mekah I’m Coming benar-benar layak disandingkan bersama mereka semua sebagai salah satu komedi terbaik Indonesia yang pernah dibuat. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY