Rumah Merah Putih, Gambaran Sederhana Nasionalisme Yang Apik Melalui Persahabatan

Rumah Merah Putih, Gambaran Sederhana Nasionalisme Yang Apik Melalui Persahabatan

306
SHARE

Film Rumah Merah Putih menandai comeback-nya Alenia Pictures di dunia perfilman setelah lima tahun lalu bikin film Seputih Cinta Melati (2014). Digarap Ari Sihasale dan diproduseri oleh Nia Zulkarnaen, film ini tayang bulan Juli yang lalu, bertepatan dengan saat liburan sekolah.

Menceritakan persahabatan Farel Amaral dan Oscar Lopez yang tinggal di perbatasan NTT – Timor Leste. Berawal dari satu minggu menjelang perayaan 17 Agustus ketika kaleng cat merah putih milik Farel hilang.

Takut dimarahi orangtua, Oscar membantu Farel mengumpulkan uang untuk menggantinya. Masalah enggak sampai di situ, cat yang dibeli pun salah warna. Berhasilkah dua sahabat tersebut mendapatkan cat merah putih sebelum perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia?

Secara garis besar, Rumah Merah Putih bukan hanya membuka mata tentang potret kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia. Lewat kisah tentang dua bocah yang berpetualangan demi dua kaleng cat ini, sutradara Ari Sihasale mengusung kuatnya nilai persahabatan, budaya gotong royong, serta rasa cinta pada tanah air. Bagaimana mereka yang berada di garda terdepan Indonesia juga memegang teguh rasa nasionalisme dan tahu betapa berarti serta sakralnya Merah Putih untuk negeri.

Meski cukup banyak pesan kehidupan yang disajikan, Ari mampu mengemas kisah ini secara sederhana dan ringan. Selain itu, ia juga berhasil mengembangkan dua karakter utama Farel dan Oscar dengan dialog yang menggelitik tapi sesekali juga mengundang rasa haru. Dalam film yang berlatar belakang di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ini pun Ale sukses melahirkan dua aktor muda berbakat atas nama Patrick Rumlaklak dan Amori de Purivicacao.

Kedua aktor anak tersebut berhasil memainkan perannya dengan bagus dalam memerankan karakter lakonnya. Patrick Rumlaklak berhasil mengembangkan perannya sebagai Farel yang menggemaskan dan mengundang simpati. Amori De Purivicacao juga berhasil memainkan perannya sebagai Oscar sebagai sahabat yang polos dan setia, mengundang kelucuan yang menarik sepanjang film.

Aksi lain dari aktor dan aktris seperti Pevita Pearce, Shafira Umm, Yama Carlos, Abdurrahman Arif, serta Dicky Tatipikalawan ini pun melengkapi peran mereka sesuai porsi. Apresiasi lebih patut diberikan diberikan kepada Dicky Tatipikalawan sebagai Om Cio yang turut menghidupkan film ini lewat aksinya.

Karena film ini dapat klasifikasi “Semua Umur”, konflik yang ditampilkan sederhana dan tak dalam. Banyak konflik yang ditampilkan dengan solusi permukaan. Padahal, jika saja alur film ini hanya difokuskan pada satu konflik, misal soal perjuangan cat merah putih atau perjuangan mereka mengembalikan dompet, mungkin bisa dieksplorasi secara lebih dalam dan mengena.

Naskah film ini yang memasukkan unsur dialog nasionalisme sudah cukup baik dan relevan, karena khas film karya Alenia adalah gemar menyiarkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme. Sedikit agak absurd ketika pesan yang diulang-ngulang soal “Saya Indonesia” seolah ingin menegaskan soal itu, namun menjadi sedikit mengganggu dan mengesankan pengulangan yang tidak perlu. Padahal naskah Jeremias Nyangoen ini sudah cukup jelas menyampaikan pesan soal kesetiaan. Kesetiaan pada sahabat, keluarga dan pada negara.

Sedikit kekurangan dari alur skenario yaitu bagian akhir film ini yang terasa terlalu panjang. Scenes 10 menit terakhir, seharusnya bisa dibuat lebih padat dan tegas saja untuk memberikan efek yang lebih emosional bagi penonton, setelah menonton. Jikapun ingin menyampaikan pesan sebagai sebuah trilogy yang bertemakan kisah di perbatasan, mungkin bisa digarap lebih haus dalam menyiratkan pesan-pesan moral di dalam film.

Sinematografi film ini terlihat begitu menonjol. Joseph Fofid berhasil mengambil angle-angle yang menggambarkan suasana Desa Silawan dan Kota Atambua dengan indah tanpa meninggalkan kesan gersang dan panas yang membuat penonton bisa merasakan kehidupan di sana.

Satusisi yang patut dipuji dalam produksi film ini adalah tata suara yang ditangani oleh alm. Khikmawan Santosa dan musik oleh Tya Subiakto. Keduanya berhasil menghasilkan tata suara dan musik yang sangat mendukung keseluruhan alur film. Ditambah dengan penampilan vokal Amora Lemos, putri diva Indonesia Kris Dayanti Lemos, lewat lagu Sahabat Tersayang gubahan alm. Elfa Secioria menguatkan dan menambah klimaks film yang menyentuh hati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY