“SAYA MEMILIH UNTUK BERBEDA” – WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN SUTRADARA GITANJALI RAO DARI...

“SAYA MEMILIH UNTUK BERBEDA” – WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN SUTRADARA GITANJALI RAO DARI FILM ANIMASI INDIA BOMBAY ROSE

147
SHARE
Ⓒ 2019 IFFAM

Ada banyak animasi India bertema mitologi yang kita saksikan di layar kaca. Tapi untuk layar lebar, mungkin masih sangat jarang. Tercatat di antaranya, ada Delhi Safari (2012) atau dari Kollywood, Kochadaiiyaan (2014). Kini, Bombay Rose datang di ranah yang lebih tradisional meski settingnya ada di dunia modern. Menggunakan teknik animasi 2D, ia hanya menggunakan animasi sebagai medium namun secara solid berdiri di atas kisah percintaan berlatar perbedaan antara pemuda Muslim dengan gadis Hindu bersama komen sosial dari kultur, politik hingga budaya hingar-bingar Bollywood yang diperuntukkan buat pemirsa dewasa, bukan sebuah tontonan animasi keluarga.

Menjadi yang pertama di industri sinemanya, Bombay Rose merupakan visi seorang Gitanjali Rao, sineas yang dari awal karirnya bergerak di ranahnya dan dengan berani berjuang mengangkat animasi di sinema Bollywood tanpa melupakan homage dalam selipan lagu-lagu klasik yang ada di dalamnya. Hadir di IFFAM (International Film Festival & Awards Macao) 2019, Gitanjali menyempatkan untuk berbincang-bincang dengan kami, membahas banyak hal soal Bombay Rose hingga kesukaannya terhadap Wayang Kulit. Namun di atas semuanya, pilihannya menghidupi sinema animasi memang patut dikagumi seperti pengakuannya, “Saya memilih untuk berbeda”.

Berikut adalah kutipan wawancara kami dengan Gitanjali.

Industri sinema India tak punya terlalu banyak film animasi layar lebar meski di ranah televisi cukup sukses. Apa kira-kira tujuan utama Anda dengan Bombay Rose?

Benar. India tak punya banyak film animasi, tapi kami punya banyak sekali animator yang biasanya bekerja di film-film luar India seperti Hollywood untuk production service dan mitra lainnya. Saya memang ingin berkarir di ranah animasi.

Dengan begitu banyak film-film animasi 3D digital, Anda justru memilih kembali ke animasi 2D. Apa alasannya?

Saya kira ini hanya sepenuhnya alasan personal karena ini animasi yang pertama saya pelajari dan secara personal juga paling saya sukai. Ketika saya memulai belajar animasi di sebuah perusahaan animasi tempat saya bekerja, semua masih dalam 35mm tanpa bantuan komputer (digital). Saya selalu menyukai tampilan, rasa dan kerja keras yang ada dalam sebuah animasi. Hanya saja, dengan teknologi yang ada, saya tak membuatnya di kertas lagi melainkan komputer. Saya mentransformasi lukisan yang saya kerjakan secara manual di kertas ke komputer menggunakan stylus. Teknologi memang membuat pengembangannya jadi tak terbatas dengan berbagai macam brushes, tools, namun teknik 2D di sumber awalnya memang saya pertahankan, di mana saya tak menggambar sketsa dasarnya di komputer melainkan tetap di atas kertas.

Dan ini adalah animasi layar lebar pertama Anda, benar? Bisa ceritakan prosesnya?

Ya. Sebelumnya saya membuat film-film animasi pendek yang saya kerjakan sendiri. Bombay Rose saya kerjakan di studio di India, sebuah studio kecil bernama Paperboat di Mira Road, Mumbai. Mereka juga sudah membuat animasi The Story of Goopi and Baagha yang sangat saya sukai tapi dirilis sangat terbatas. Ini dibuat dengan puppet style, terinspirasi dari Wayang Kulit Indonesia yang juga kami miliki di sebagian wilayah India Selatan, tapi memang saya akui kami tidak mempreservasi budayanya seperti Indonesia di mana Wayang Kulit masih menjadi living arts. Saya sangat terkesan dengan apa yang mereka lakukan dan memutuskan untuk bekerjasama dengan studionya. Awalnya kami punya sekitar 20 kru kemudian meningkat menjadi 80 orang animator bersama prosesnya.

So I see, Anda memilih animasi karena memang mempelajari animasi sejak awal karir Anda. Apakah Anda akan tetap berkarir di jalur ini?

Ya, benar, karena saya belajar dan mencintai dunia animasi. Saya bukan belajar animasi dari jalur institusi, karena memang tak ada institusi yang layak seperti di Beijing – misalnya, di mana banyak sekali tenaga pengajar ahli dari seluruh dunia, tapi dari pekerjaan pertama saya di studio animasi. Selama 2 tahun saya mempelajari semua tekniknya di situ. Saat itu masih ada hanya satu studio animasi di India. Tapi seperti yang Anda lihat, sekarang ranah animasi sudah sangat berkembang namun sayangnya SDM-nya lebih banyak berkarya buat film luar India.

Ini sebenarnya sama dengan Indonesia. Kami juga punya banyak animator bagus tapi industrinya kalah dengan Malaysia yang paling terdepan di Asia Tenggara, di mana juga banyak animator dari Indonesia yang bekerja di sana. Oke, sekarang saya akan menanyakan sesulit apa Bombay Rose mengumpulkan investor untuk produksinya?

Very hard. Kami membutuhkan waktu 4 tahun untuk membiayai produksinya, sementara pengerjaannya hanya 2 tahun. Jadi dalam total waktu 6 tahun, kami menghabiskan lebih sedikit waktu mengerjakan filmnya ketimbang mengumpulkan bujet produksi. Terlebih karena Bombay Rose bukanlah animasi biasa untuk anak-anak atau keluarga tapi lebih ke konsumsi dewasa dengan isu-isu sosial yang sensitif di dalamnya dari budaya ke agama, dan juga kami dari awal tidak punya bintang untuk mengisi suara karakter-karakternya. Jadi jelas lebih sulit untuk mencari dana dari investor apalagi dari India. Untungnya saya mendapatkan investor dari Prancis yang memang berfokus ke karya-karya non-komersial setelah saya mengadakan script labs sambil membawa film saya ke Cannes. Saya mendapat support system lebih besar dari sana.

Kenapa tidak memakai bintang sebagai pengisi suaranya?

Saya memilih untuk tidak menggunakan bintang terkenal sebagai voice cast karena Bombay Rose berkisah tentang masyarakat biasa di tengah pengaruh besar dan harapan-harapan terhadap Bollywood, seperti juga komen-komen sosial. Jadi saya memang butuh voice cast yang benar-benar genuine seperti aktor-aktor teater atau masyarakat biasa.


Ⓒ 2019 IFFAM

Bagaimana dengan aktor-aktor karakter yang sekarang tengah marak menggantikan bintang berstatus Bollywood hero? Sebut seperti Nawazuddin Siddiqui, Rajkumar Rao, Ayushman atau Bhumi Pednekar dan Taapsee Pannu?

Ya, saya mengerti maksudnya tapi begini. Karakter utama saya berusia 19 tahun dan pasangannya, wanita 20 tahun dan juga mesti bernyanyi. Aktor-aktor itu rata-rata punya suara bukan seperti orang berusia 19-20 tapi lebih ke orang dewasa. Begitupun, ada karakter Bollywood hero di Bombay Rose yang disuarakan sutradara Anurag Kashyap. Kalau Anda tahu, dia juga punya passion di film-film anti-Bollywood dan dia adalah sahabat saya. Saya rasa ini lucu juga. Sutradara yang kerap membuat film-film Bollywood non-mainstream justru diminta menyuarakan bintang Bollywood tipikal (tertawa).

Apakah Bombay Rose juga punya rencana ditayangkan di bioskop-bioskop India? Sesulit apa pula distribusinya?

Untuk saat ini kami masih berharap tapi dengan adanya respon cukup baik dari festival-festival internasional, kami mulai dari Venice hingga beberapa festival di India dan mendapatkan sambutan cukup baik, tapi juga menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya penonton kami menjajal animasi serius yang bukan diperuntukkan bagi anak-anak atau keluarga. Jadi ya, kami akan terus mencobanya lagi di awal tahun.

Okay. Bagaimana dengan di luar India (internasional)?

Kami juga sedang mengusahakan itu, karena produser saya memang datang dari Prancis, Inggris, India serta Qatar. Mungkin justru akan lebih mudah mendapatkan partner distribusi internasional ketimbang di India sendiri yang bukan tak mungkin akan dirilis cukup terbatas di pasar niche.

Dengan beragam budaya regional di India, akankah Bombay Rose juga di-dubbing untuk peredaran daerah?

Keinginan untuk mengedarkannya ke regional pasti ada meski sulit karena kami juga tak punya bintang Tamil, namun karena memang bersetting di Mumbai dan Bollywood, bahasanya yang digunakan adalah Hindi, Inggris serta Marathi. Namun begitu, ada satu lagu berbahasa Tamil di salah satu adegannya.

Setelah Bombay Rose apakah Anda akan tetap berkarir di ranah animasi?

Of course. Saya sudah mempersiapkan karya selanjutnya dan setelah cukup disibukkan dengan Bombay Rose ke berbagai festival sejak Agustus, saya harap setelah Macau, saya bisa mulai menulis film animasi saya berikutnya, dan mudah-mudahan yang terbaru ini bisa lebih mudah mendapatkan investor.

Bagaimana tanggapan Anda dengan OTT platform sebagai sinema alternatif sekarang ini?

Baik sekali, terlebih untuk film-film seperti Bombay Rose, juga film-film dari filmmaker independen. Benar bahwa kami juga sebisa mungkin mengusahakan agar  Bombay Rose bisa diputar di bioskop, namun harus pula menyadari bahwa kami tak akan punya terlalu banyak penonton untuk membuat bioskop mempertahankan waktu tayang di tengah banyaknya film-film komersil yang dirilis rutin serta reguler.

Oke, sebagai sutradara wanita seperti apa pandangan Anda soal female roles di Bollywood, baik animasi ataupun live action biasanya?

Ya, gerakan ‘Me Too’ memang merambah dunia sekarang dan tentu itu adalah hal yang bagus. Di ranah animasi mungkin masih nol karena produknya juga sangat sedikit bahkan hampir tak ada, tapi di film-film non-animasi, gerakan ini memang berjalan dengan baik di industri sinema. Semakin banyak female-driven film, sutradara-sutradara wanita handal dan ini sedikit banyak mendobrak industrinya sendiri. Begitupun, ini adalah perjuangan panjang untuk dunia nyata terutama wanita di India, karena walau pergerakan di film cukup besar – di masyarakat, tetap masih terjadi diskriminasi dan hal-hal negatif lainnya.

Terima kasih buat obrolannya..

Sama-sama, btw, tentang Indonesia, saya pernah ke Batam dari Singapura untuk mengunjungi salah satu studio yang ada di sana, mereka juga punya departemen animasi, saat ada pembicaraan mengerjakan film animasi Singapura yang sayangnya belum berlanjut. Saya selalu ingin ke Indonesia lagi lebih lama terutama untuk melihat budaya/pertunjukan wayang kulitnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY