Sejuta Sayang Untuknya: Kisah Sederhana yang Mengena di Rasa

Sejuta Sayang Untuknya: Kisah Sederhana yang Mengena di Rasa

36
SHARE
Image: Citra Sinema, MD Pictures, 2020

Sutradara: Herwin Novianto

Produksi:  Demi Gisela Citra Sinema, MD Pictures, 2020

Nama Deddy Mizwar tentu bukan lagi nama yang asing bagi perfilman nasional. Meski belakangan kerap memproduksi FTV Plus dan sinetron, kini ia datang kembali dengan bandrol Citra Sinema dalam kolaborasi bersama MD Pictures untuk mengisi slot tayangan film panjang OTT yang ditayangkan di Disney Hotstar Indonesia. Mengusung nama Deddy sebagai produser sekaligus aktor utama,’ Sejuta Sayang Untuknya’ tetap tak jauh-jauh dari gaya Deddy biasanya. Menyentil, menggelitik dan sarat akan pesan (kalau tak mau menyebutnya) protes sosial. Terdengar usang mungkin dengan perkembangan yang ada, apalagi produksi sebelumnya, Bidadari Mencari Sayap yang juga mendahului tayang di Hotstar beberapa minggu, reuni kolaborasinya dengan sutradara Aria Kusumadewa setelah ‘Kentut’, punya banyak kekurangan. Tapi nanti dulu, karena Sejuta Sayang Untuknya ternyata punya kejutan.

Drama tentang ayah dan anak (perempuan) juga tentunya bukan lagi hal baru di film kita. Di atas gaya Deddy lewat skrip yang ditulis oleh penulis bernama panggung unik, Klik! Wiraputra Basri (ya, dengan tanda seru yang entah apa maksudnya), Sejuta Sayang Untuknya tetap punya idealisme Pak Haji, sebutan akrab Deddy belakangan, yang mungkin terasa konvensional (baca=jadul) di antara film-film sekarang. Dialog-dialog bijak dan arif yang tetap memenuhi layar dan interaksi karakternya punya signature khas Deddy yang gampang sekali dikenali, belum lagi bicara gaya aktingnya yang memang lebih dari beberapa puluh tahun terakhir selalu terbawa karakter Nagabonar.

Dalam Sejuta Sayang Untuknya, Deddy berperan sebagai seorang ayah sekaligus aktor usang bernama harafiah, Aktor Sagala, yang berjuang meniti karir di usia paruh baya dengan idealismenya. Kerap mendapat peran figuran yang mau tak mau tetap diterimanya demi alasan ‘berkontribusi pada seni peran’, Aktor yang single father ini sebenarnya bertahan buat anak semata wayangnya, Gina (Syifa Hadju). Walau tak mampu bayar hutang bahkan buat makan serta ongkos dan selalu berkelit, apa yang ia punya selalu diikhlaskannya buat Gina. Sementara Gina sudah capek menyarankan ayahnya buat mencari pekerjaan tetap karena kesulitan finansial ini, juga kebutuhan sekolahnya (yang juga dipoles penuh sentilan relevan terhadap kebijakan sekolah masa kini yang cenderung memberatkan siswa-siswanya). Konflik memuncak saat Gina memilih menyerah pada kondisi untuk tak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah, sehingga Aktor harus didorong memilih peran tersulit yang tak pernah ia sadari buat ia mainkan. Menjadi seorang ayah yang bisa dibanggakan anak yang sebenarnya sangat ia sayangi dalam kondisi apapun.

Sejuta Sayang Untuknya memang dikemas dengan sangat sederhana, bahkan nyaris tak se-kinclong FTV-FTV Plus Demi Gisela yang jauh melebihi FTV rata-rata. Plotnya pun mungkin terkesan ngalor ngidul untuk menyentil ke sana ke mari, termasuk ke subplot kisah percintaan Gina dengan teman sekolahnya – Wisnu (diperankan dengan baik sekali oleh Umay Shahab) yang tetap dibalut dialog-dialog bijak ala Deddy, namun bisa terasa nyaman karena koneksi erat akting Umay dan Syifa. Seakan semua tergarap dengan santai-santai saja, hal terbaik dalam Sejuta Sayang Untuknya adalah kekuatan gestur yang muncul lewat detil-detil mengejutkan selain oleh akting cemerlang Deddy dan lebih mengejutkan lagi, Syifa Hadju yang sekilas hanya berakting santai, juga sensitivitas pengarahan Herwin Novianto, sebagaimana yang sebelumnya ia lakukan di ‘Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara’.

Inilah yang membuat Sejuta Sayang Untuknya jadi terasa spesial, karena guliran pengisahannya memang mampu meyakinkan kita, di atas prinsip berbeda anak berpikiran logis dan bapak idealis yang kalau di rata-rata film Indonesia lain bisa ngelantur jadi saling berteriak ala sinetron, ada cinta dan rasa yang begitu mengena membuat empati mengakar ke karakter-karakter ini.  Detil-detil gestur sang ayah memberikan dompetnya untuk sang anak, tektokan dan celotehan yang kalau tak diperankan aktor yang tepat mungkin tak akan sebaik ini, dan masih banyak lagi. Bahkan ketika ia meledak di tengah suasana sepi yang menohok lewat salah satu akting Deddy dalam beberapa puluh tahun terakhir, kita sebagai penontonnya pun ikut tersentuh karena tak ada pertempuran hebat yang kelewat batas di sini.

Apalagi, bentukan karakternya tak digagas Klik! dan Deddy secara hitam putih. Aktor jelas-jelas adalah sosok ayah tak sempurna yang sibuk bergelimang dengan idealismenya, bahkan tak segan memanipulasi pemilik kedai tempat ia berhutang untuk makan dan meminta martabak pada Wisnu kalau mau menyambangi Gina. Gina, walaupun digambarkan berprestasi, bukan juga dieksploitasi ke anak penurut yang sibuk meminta iba. Penyelesaiannya pun bukan spesial bak durian runtuh, tapi ada adegan klimaks yang meski klise, tetap tak bisa menahan emosi kita karena  presisi rasa yang sudah dibangun dengan baik sejak awal.

Di tengah kesederhanaan penggarapan, Sejuta Sayang Untuknya memang dikemas dengan rasa, dan ini yang membuatnya jadi spesial. Rasanya sulit kalau masih ada yang bisa menolak ketika pada akhirnya Sejuta Sayang Untuknya memang bekerja seperti judul yang diusungnya. Buat sang ayah, menemukan seni peran terbaiknya menjadi ayah buat si anak, dan buat si anak, sebuah piala yang dipersembahkannya hanya untuk sang ayah. Ini sangat sederhana, tapi luar biasa mengena di rasa. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY