“Tak Mudah Untuk Membuat Film dengan Peran Utama Wanita Paruh Baya” –...

“Tak Mudah Untuk Membuat Film dengan Peran Utama Wanita Paruh Baya” – Wawancara dengan Sutradara Mayu Nakamura di TIFF ke-34

63
SHARE
©2021 TIFF

Selain seorang sutradara dan penulis yang sudah melanglang buana ke sejumlah festival film internasional, Mayu Nakamura juga pernah mengantarkan film fiksi pertamanya ke kompetisi di Busan International Film Festival 2006. THE SUMMER OF STICKLEBACK, judul film itu, juga dirilis di bioskop-bioskop Jepang saat itu. Namun memang prestasinya lebih banyak tercatat di ranah dokumenter, antara lain lewat LONELY SWALLOWS – LIVING AS THE CHILDREN OF MIGRANT WORKERS (2012) yang memenangkan Grand Prix untuk Film Dokumenter di Brazilian Film Festival dan ALONE IN FUKUSHIMA (2015) yang ditayangkan di segmen dokumenter di Montreal World Film Festival, dan juga tayang di bioskop-bioskop Jepang. Sementara, kreditnya sebagai penulis ada di TOKYO TRIAL yang dinominasikan untuk Emmy Award ke-45 untuk Best TV Movie/Mini Series.

Intimate Stranger, film fiksi terbarunya yang ditayangkan di segmen Nippon Cinema Now di TIFF ke-34 dibintangi oleh aktris senior Jepang Asuka Kurosawa bersama Fuju Kamio, Shigen, Shiro Sano dan Mitsuko Oka. Sebuah thriller psikologis yang berkisah di Tokyo pasca Covid, Intimate Stranger bercerita tentang hubungan tak biasa antara seorang wanita paruh baya (Kurosawa) dengan pria muda (Kamio) yang mengaku mengetahui keberadaan sang putra yang tengah dicarinya.

Di tengah skedulnya di TIFF, Mayu menyempatkan untuk diwawancara mengenai visinya sebagai sutradara terutama dalam Intimate Strangers, proyek yang sebenarnya sudah sejak sangat lama ia rencanakan.

Berikut kutipan wawancaranya:

Saya dengar rencana Anda membuat Intimate Stranger sudah sangat lama hingga ke festival-festival dan funding project, juga melibatkan karakter pria dengan latar belakang imigran China untuk blending isu sosialnya. Bisa cerita sedikit mengenai hal ini?

Iya, benar. Saya menulis skripnya sejak 2006, setelah saya menyelesaikan The Summer of Stickleback. Ceritanya tentang seorang perempuan paruh baya yang berhubungan dengan seorang pria muda imigran pekerja pabrik yang mengaku mengenal anak yang tengah dicarinya. Rencananya memang tertunda karena tak mudah untuk mencari investor, namun ketika pada akhirnya proyek ini mendapat dana di saat pandemi, mau tak mau saya menyesuaikan latarnya untuk memudahkan proses syuting yang hampir sepenuhnya di interior dan berlatar pandemi Covid-19. Ini juga buat mengimplikasikan inti ceritanya sebagai sebuah thriller psikologis dengan bahaya yang tak jauh beda antara di dalam atau di luar, di mana si pemuda terjebak dengan kegilaan si perempuan.

Anda juga membuat film pendek AMONG THE FOUR OF US sebelumnya di OAFF/Japan Cuts yang berlatar Covid-19, benar?

Yes, film itu sebenarnya merupakan sebuah trial project ke Intimate Stranger yang saya kerjakan di September tahun lalu.

Jadi kondisi pandemi tak menahan Anda untuk menyesuaikan proyek-proyeknya, dan justru punya keuntungan tersendiri…

Saya rasa begitu (tersenyum).

Ada aspek eksistensial dari sebuah ketakutan, seperti sebuah ‘agony’ yang mentransformasikan struktur narasinya secara keseluruhan. Covid, inner fear dan saya rasa ini terasa sekali dalam Intimate Stranger. Apa memang ini yang ingin Anda sampaikan?

Ya sebenarnya ini pertanyaan yang dalam. Begini, saya menghabiskan waktu saya kebanyakan di negara luar saat belajar, jadi saat saya kembali ke Jepang, saya agak sedikit terkejut melihat sebuah pakem budaya yang ada di sana soal hubungan ibu dan anak laki-laki yang berbeda dengan di luar. Ini saya rasa seperti sebuah fenomena  yang terjadi rata-rata di Asia, di mana tak seperti anak perempuan, anak laki-laki sering sekali masih bergantung pada ibunya walaupun sudah dewasa, seperti meminta uang dan sebagainya. Sebaliknya, perempuan sering sekali berhadapan dengan hal yang serba salah. Jika Anda berusia di atas 30, menikah dan tak mempunyai anak, Anda dianggap gagal menjadi perempuan dan istri. Selain itu juga soal penipuan/scam lewat telefon ataupun yang lain, yang berkembang sangat besar di Jepang dan juga kebanyaan didominasi oleh laki-laki di usia tertentu. Dari sini saya ingin mengeksplorasi fenomena sosial ini.

Jadi memang benar Intimate Stranger pada dasarnya juga berbicara sebagai sebuah kritik sosial?

Iya, saya kira begitu. Dan ini juga yang membuat sangat sulit mencari pendanaan untuk Intimate Stranger. Walau industri Jepang sudah cukup banyak punya sutradara wanita, tak mudah untuk membuat film-film yang meletakkan karakter utamanya pada wanita paruh baya. Selain kebanyakan film yang berorientasi perempuan biasanya lebih banyak berkutat di perempuan-perempuan muda, kebanyakan investor untuk film juga didominasi kaum lelaki. Beberapa kali saya menawarkan proyeknya, mereka menganggap ini adalah sebuah cerita yang mengerikan, terlebih karena menggagas hubungan antara perempuan paruh baya dengan laki-laki muda. Seorang aktor masih bisa punya karir panjang sebagai peran utama bahkan hingga usia paruh baya, sementara perempuan sulit sekali di usia itu untuk terus berkarir karena sosoknya sudah absen duluan di film-film kebanyakan.

Tindakan-tindakan scam telepon yang Anda bicarakan tadi sebenarnya juga banyak sekali terjadi di sini. Ok, bisa ceritakan bagaimana proses casting dari Intimate Stranger?

Saya mengacu pada film-film Eropa di mana aktris-aktris mereka seperti Isabelle Huppert, Juliette Binoche, masih bisa menjadi peran utama di cerita-cerita yang sangat kaya. Dari awal memang saya ingin membuat film tentang seorang perempuan paruh baya yang masih bisa terlihat seksi dan mendominasi. Asoka Kurosawa menurut saya adalah aktris yang sangat ‘versatile’ untuk mentransformasikan ide ini, jadi memang ia adalah pilihan pertama saya. Soal karakter laki-laki-nya sendiri, karena memang Intimate Stranger pada akhirnya disesuaikan ke kondisi pandemi sehingga banyak adegan yang menggunakan masker, titik berat utama saya adalah sebuah aktor yang punya sorot mata kuat tanpa harus berekspresi menunjukkan keseluruhan wajah mereka. Dari karakter utama hingga supporting dan cameo laki-laki di sini punya layer berbeda dari sorot mata mereka, dan memang yang saya pilih adalah sosok yang saling mendekati secara look karena motivasi karakter Kurosawa memang mengarah ke sosok yang mirip dengan anaknya yang diceritakan di film.

Punya background kuat sebagai seorang sineas dokumenter, sejauh mana Anda rasa ini memengaruhi gaya/style Anda dalam membuat feature film?

Ya sedikit banyak mungkin ada gestur dokumenter yang terbawa. Dalam penggunaan musik, misalnya, saya terus terang kurang suka menggunakan musik untuk mengarahkan emosi. Lebih krusial buat saya membangun hal ini lewat akting dan bentukan karakternya. DoP saya, Tomohito Tsuji (Sutradara dan DoP senior yang cukup dikenal lewat sejumlah film-filmnya) dalam hal ini punya kemampuan lebih dalam menangkap subjek-subjek karakter ini dan akting mereka. Kami sering sekali mengamati aktor dan aktris kami ketika berlatih untuk kemudian menentukan seperti apa kita harus menghadirkan mereka di kamera. Bahkan melebihi masalah look dan image, saya selalu lebih memilih bergantung pada akting para aktor dan aktrisnya. Walau dokumenter berbeda dengan fiksi, menurut saya ada hal-hal yang sama dalam cara memotret sosok manusia dan kehidupan mereka di keduanya. Hanya pendekatannya saja yang sedikit berbeda.

© 2021 シグロ/Omphalos Pictures

Anda mengatakan mengutamakan akting ketimbang look dan image. Saya setuju dalam dokumenter pun sebenarnya bukan beautiful look yang berfungsi membawa kekuatan subjeknya, tapi dalam Intimate Stranger saya rasa ada konsep-konsep desain produksi, set dan sinematografi, bahkan suara yang tak kalah kuat dengan akting para pemerannya.

Ya, seperti saya katakan tadi, saya dan Tsuji sering mengamati aktor/aktris kami kala mereka latihan. Image di sini sebenarnya lebih mengarah ke penggunaan simbol-simbolnya. Secara visual, saya memang ingin memberik kesan pergerakan ruang apartemen sebagai set terbanyak di Intimate Stranger menyerupai rahim wanita dengan elemen-elemen yang ‘hidup’ di sekitarnya walaupun dialognya minim. Peralatan listrik, mesin cuci, ventilasi, semua kami rancang dengan desain dan efek suara yang detil. Bahkan kloset sebagai ujung akhir dari uterus, walau mungkin tak semua bisa menangkap, tapi itu yang ingin kami tampilkan. Pendeknya, keterbatasan bujet memang mesti membuat kita semakin imajinatif menerjemahkan storytelling sebuah cerita.

Wah, menarik sekali. Tapi memang kami sangat merasakan ketidaknyamanan itu di Intimate Stranger. Oke, kembali ke kondisi pandemi yang memberi keuntungan pada dua proyek terakhir Anda, dalam hal apa saja kemudahan yang Anda rasakan dalam membuat Intimate Stranger?

Saya rasa begini. Kondisi pandemi memang punya dua sisi dalam filmmaking, tapi terhadap film-film independen dan berbujet terbatas sebenarnya kondisinya memberi kesempatan buat kami yang bekerja dengan kru kecil dan waktu syuting singkat. Istilahnya seperti filmmaking comes in handy, dengan banyaknya penundaan proyek-proyek lebih besar kala pandemi, aktor-aktor yang kita inginkan juga jadi lebih mudah didapat dari sisi jadwal karena tak perlu terlibat terlalu lama dalam durasi syuting, serta dengan keterbatasan kru dan lokasi, tentu lebih mudah juga menjaga protokol kesehatan selama pandemi walau tetap punya resiko.

Oke, pertanyaan terakhir, seperti apa sebenarnya soal ‘hubungan’ yang ingin Anda tampilkan dalam Intimate Stranger,  karena kami melihat kedalaman ketimbang apa yang biasanya dilakukan film-film bertema sejenis baik tentang hubungan oedipal dan sebaliknya.

Saya mencoba menampilkan hubungan yang ganjil tapi tetap punya sensualitas dan keterikatan tanpa harus menampilkan hal-hal vulgar. Saya rasa juga karena saya seorang perempuan. Saat banyak mungkin filmmaker pria yang mempertanyakan atau cenderung mengarahkan pengadeganannya ke adegan seks, saya justru tak mau menampilkan adegan seks. Saya lebih memilih untuk mengeksplorasi erotisme dari cara yang subtil lewat gestur dari ekspresi hingga kalau perlu gerakan jari seperti yang Anda lihat di adegan memungut pecahan piring di filmnya. Ketegangan seksual karena obsesi yang saya ingin tampilkan lebih ke soal rasa dan sensualitas ketimbang seksualitas.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY