Toko Barang Mantan: Tema Unik Komedi Romantis yang Tertata Cantik

Toko Barang Mantan: Tema Unik Komedi Romantis yang Tertata Cantik

42
SHARE
Image: MNC Pictures, 2020

TOKO BARANG MANTAN

Sutradara: Viva Westi

Produksi: MNC Pictures, 2020

Bagi pemirsa film lokal, fenomena unik yang diangkat menjadi tema sentral dalam ‘Toko Barang Mantan’ mungkin terasa baru walaupun sangat bisa diramalkan lewat trend yang ada sekarang. Namun sebenarnya, idenya tak lagi sepenuhnya baru karena sudah duluan hadir di sinema Hong Kong lewat Break Up 100 (2014) yang dibintangi oleh Ekin Cheng dan Chrissie Chau. Begitu pun, bukan berarti Toko Barang Mantan lantas menjiplak mentah-mentah plot film komedi romantis HK itu, walau jelas tak bisa lari dari template dan pola-pola sejenis, yang belakangan malah merambah sinema Hollywood lewat The Broken Hearts Gallery di tahun yang sama.

Plot soal toko yang menjual barang-barang mantan bagi orang-orang yang ingin move on dari mantan-mantan mereka pun jelas dengan mudah tertebak. Tapi tentu saja harus ada dua karakter utama yang menjalin hubungan di sentralnya sebagai sebuah drama/komedi romantis. Tristan (Reza Rahadian) adalah si pencetus ide toko ini. Mengembangkan Toko Barang Mantan bersama dua sahabatnya, Amel (Dea Panendra) dan Rio (diperankan aktor Malaysia Iedil Putra), Tristan rela meninggalkan kuliahnya tanpa menyangka, mantannya saat kuliah dulu, Laras (Marsha Timothy) kembali muncul ke hadapannya. Bukan hanya membuat dunianya jungkir balik di tengah profesi unik ini, kehadiran Laras juga sekaligus menyadarkan Tristan atas motivasi dan traumanya terhadap cinta selama ini – dan membuka satu hal yang akhirnya harus dikejarnya dengan resiko apapun; sebuah kesempatan kedua.

Ditulis Titien Wattimena berdasar ide cerita dari Priesnanda Dwisatria dan disutradarai Viva Westi, Toko Barang Mantan digagas dengan benang merah ke semesta sinematis yang sama dengan produksi MNC yang hadir sebelumnya, Teman Kondangan. Dalam trend soal semesta sinematis yang berkembang di mana-mana belakangan ini – mengikuti pola film-film blockbuster superhero luar walau dalam kelas yang jelas berbeda, ini memang menjadi daya tarik tersendiri – apalagi kalau nanti ada kelanjutan yang bisa dihadirkan di film-film berikutnya.

Skrip Titien sebenarnya sudah cukup mendasar membenturkan konsep move on dalam hubungan dan penyelamatan toko yang tak dimiliki Break Up 100 dan Broken Hearts Gallery, soal tetek bengek promosi sosial media dan prinsip dagang Tristan yang digambarkan sinis akibat sebuah trauma masa lalu keluarga. Bagi Tristan, barang-barang mantan ini tak bisa begitu saja dipasarkan di medsos sesuai saran Amel, melainkan harus melalui tatap muka langsung untuk memaknai barang-barang tersebut, namun sayangnya potensi menarik ini tak dikembangkan dan tertinggal seolah gimmick yang tak salah juga dalam konteks jualan, demi menampilkan deretan cameo nama-nama terkenal dari komedian sampai aktor macam Syifa Hadju hingga Gading Marten.

Untunglah, ketidaksempurnaan narasi itu bisa tertutupi oleh dua potensi terbesar yang memang dimiliki Toko Barang Mantan. Juga didukung oleh tektokan erat antara Dea dan Iedil, sisi paling bersinar dalam Toko Barang Mantan jelas ada pada Reza Rahadian dan Marsha Timothy, dua nama dengan kapabilitas yang jelas tak main-main menangani karakter yang diserahkan pada mereka. Walau keputusan meng-gondrong-kan rambut Reza sehingga terlihat sedikit aneh mungkin perlu ditanyakan ke tim kreatifnya, harus diakui bahwa Reza dan Marsha sangat sukses membawa Toko Barang Mantan ke tingkatan sebuah drama komedi romantis yang punya kelas lebih.

Pesona performa keduanya pun dimanfaatkan dengan baik oleh Viva lewat shot-shot close up dari Yadi Sugandi, yang berhasil menangkap gestur-gestur detil untuk memperkuat karakter sentral Toko Barang Mantan ini. Dibantu lagi dengan iringan scoring menarik dari Andi Rianto yang sudah menjadi spesialisasinya di genre sejenis, toh pada akhirnya yang kita butuhkan dalam sebuah film seperti ini adalah chemistry, keterkaitan romansa antar dua tokoh utamanya, yang tak sekali pun gagal dibawakan Reza dan Marsha untuk membuat kita percaya pada percikan rasa karakter mereka. Bisa lebih baik lagi mungkin bila guliran pengisahannya terkoneksi lebih, namun dalam hal ini, Toko Barang Mantan memang sudah cukup tertata cantik di atas tema unik yang ia angkat. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY