Twivortiare: Pengingat Sederhana Untuk Kembali Memaknai Cinta

Twivortiare: Pengingat Sederhana Untuk Kembali Memaknai Cinta

83
SHARE
Ⓒ 2019 MD Pictures

TWIVORTIARE

Sutradara: Benni Setiawan

Produksi: MD Pictures, 2019

Ika Natassa dengan novel-novel metropop-nya, adalah sebuah fenomena. Twivortiare – yang merupakan adaptasi dari dua novelnya, Divortiare dan Twivortiare, mungkin lebih lagi. Tak usahlah membahas yang pertama atau tidak, tapi dari proses kreatifnya, ia memang lahir dari sebuah fenomena lain yang kerap disebut ‘twitterature’ di luar sana; tulisan-tulisan, dari puisi sampai fiksi pendek ataupun karya sastra lain yang menggunakan layanan microblogging twitter. Muncul sebagai kicauan yang tertata panjang selama kurang lebih sepuluh tahun, Ika memang membangun karakternya bukan hanya hidup di novel kala karya itu dilepas sebagai salah satu produknya, tapi mereka hidup di dunia medsos dengan akun fiktif yang masih hidup sampai sekarang. Di sana, ia membentuk detil-detil karakter utamanya yang mungkin masih bisa dikembangkan sampai kapanpun. Karenanya, mengadaptasi Divortiare dan Twivortiare bukan hanya soal memindahkan medium novel ke layar lebar, tapi juga nyaris – karakter yang seolah nyata ada di mimbar (platform) itu bersama pengikut dan penggemarnya. Oh ya, Divortiare sendiri diambil dari kata Latin yang berarti perceraian (divorce), sementara sekuelnya, merupakan penggabungan dari Divortiare dan Twitter sebagai mimbarnya.

Lantas mari lihat sejarah film kita. Di luar tak begitu banyaknya eksplorasi genre film kita sejak dulu, dan sempat mengerucut makin sempit sampai beberapa tahun terakhir ada berbagai usaha dobrakannya oleh sineas-sineas baru, drama percintaan dewasa (adult romance) atau sering juga disebut drama rumah tangga (bukan drama keluarga dalam persepsi yang lebih ke arah film keluarga), memang merupakan komoditas populer di masa lalu. Dari era ‘70an kemudian sangat marak dengan trend adaptasi novel Mira W/Marga T di era ‘80an, sayangnya ia memang meredup di masa kebangkitan film Indonesia setelah mati suri di era ‘90an, meninggalkannya lebih berbalut subgenre drama reliji di saat genre percintaan lebih getol menyorot remaja atau adaptasi-adaptasi teenlit.

Twivortiare pun datang menyambung karya Ika yang sudah lebih dulu diadaptasi dalam skup subgenre-nya setelah Critical Eleven (2017, Monty Tiwa & Robert Ronny). Dan sedikit berbeda dengan film-film drama rumah tangga masa lalu dalam konteks film sebagai penanda zaman, nafas metropop yang dibawa Ika ke adaptasi filmnya memang tak lagi bicara hal-hal klise masa lalu seperti himpitan ekonomi, eksploitasi soal penyakit (ini masih sering sekali digunakan drama reliji) ataupun konflik seksual dari perselingkuhan sampai maaf, impotensi, yang seringkali punya pakem serupa berujung tragis buat memancing air mata pemirsanya. Ika lebih membawa karya-karya metropopnya lebih ke studi karakter dari produk-produk serba metropolitan, terserah kalau mau dipandang memuat paham hedonisme lewat tampilan latarnya, tapi sebenarnya lebih aktual ketika bicara soal problem-problem rumah tangga. Sebagian orang bisa jadi menerjemahkannya sebagai hal kecil tapi pada kenyataannya sangat manusiawi di balik ego manusia dalam sebuah hubungan.

Dua tahun setelah menikah lewat cinta pada pandangan pertama dan hubungan yang terjalin dalam hitungan bulan, bankir sukses Alexandra Rhea (Raihaanun) dan Beno (Reza Rahadian), dokter spesialis jantung yang kelewat sibuk, memutuskan bercerai karena pertengkaran tak berujung dipicu oleh kesibukan dan ego mereka. Tapi sejauh manapun mereka berusaha hidup sendiri-sendiri, walau ada Denny (Denny Sumargo) yang siap menjadi pengganti Beno bagi Alex, dua manusia ini tak bisa mengingkari hati masing-masing. Kali ini, bersama pernikahan kedua mereka, Alex dan Beno benar-benar kembali diuji untuk bertahan bukan hanya di tengah keinginan dan miskomunikasi, tapi sejauh mana cinta mereka bisa mengalahkan segalanya.

Pertanyaannya sekarang, apa yang sebenarnya paling dibutuhkan dalam sebuah drama romansa? Adalah chemistry, apapun pilihan terjemahan kata Indonesia yang dipilih, yang menggambarkan kedekatan tautan yang membentuk reaksi kimiawi antara dua molekul, dalam konteks ini, karakter dalam sebuah hubungan. Selagi Alim Sudio sebagai penulis naskah yang bertugas memindahkan novel serta karakterisasi dunia maya Ika ke medium film memang berhasil menangkap esensinya meski berputar di konflik yang sekilas terlihat simpel namun punya kedekatan representasi ke banyak orang terutama yang kebetulan menjalani profesinya, Reza Rahadian dan Raihaanun-lah yang muncul paling bersinar mengejawantahkan visual dan aspek-aspek pendampingnya.

Memerankan Beno yang juga punya akun fiktif dan dibangun dengan isi cuitan serba canggung, jarang dan sepotong-sepotong, Reza – aktor bunglon ini memang masuk secara berbeda lagi dengan karakter-karakter yang pernah ia perankan. Sementara Raihaanun adalah suatu kejelian tak biasa dari tim casting (termasuk Ika sendiri) atas talenta terbaik industri ini yang bukan tak pernah, namun mungkin tak bisa berkembang kala terus-menerus diasah di ranah arthouse memerankan karakter-karakter marjinal baik di film pendek maupun panjang setelah debut meyakinkannya di remake Badai Pasti Berlalu (2007). Sebagai Alex, bankir sukses yang penuh semangat mengejar karir, Raihaanun berdiri di atas polesan serba glamor tapi bukan berarti kehilangan humanisme memerankan karakternya.

Bersama Reza, ia benar-benar menyatu, hidup dengan gestur, ekspresi bahkan intonasi pengucapan dialog saling mengisi di atas penataan akting luar biasa sekaligus jadi salah satu perwujudan usaha penciptaan pasangan layar lebar terbaik yang pernah ada di film kita. Membuat kita, sebagai pemirsanya, merasakan kedekatan begitu intim serta membumi seolah menjalani kisah kita atau orang-orang terdekat sendiri. Tak bisa dipungkiri juga, proses penceritaan yang terbangun di atas tautan sempurna – tak mungkin tak membuat jatuh cinta itu, juga datang dari penyutradaraan Benni Setiawan, kali ini melampaui pencapaian dua karya terbaik di tengah naik turun karirnya; dalam Toba Dreams ataupun 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.

Begitu pula, kekuatan dialog berikut petikan-petikan/quote baper ala Ika yang berhasil diadopsi Alim tanpa pernah terasa berlebihan dalam 103 menit durasi yang membuat kita terhanyut hingga benar-benar meledak di pengujungnya kala lagu tema cantik dari Glenn Fredly, ‘Kembali ke Awal’ menghujam rasa di momentum yang luar biasa tepatnya. Semua aspek-aspek ini begitu berhasil menyajikan naik turun hubungan Alex dan Beno, konflik-konflik yang bisa sewaktu-waktu memuncak oleh ego dan tuntutan atas nama cinta tanpa sekalipun terasa mengada-ada, dari soal kesibukan dan miskomunikasi, soal merencanakan keturunan, kecemburuan bahkan tuntunan keluarga kedua belah pihak sebagai anak tunggal. Alim dan Benni juga tak lupa memasukkan unsur penting tentang mengapa Twivortiare dipilih menjadi judul uniknya lewat tampilan akun Twitter karakternya secara taktis tanpa harus mendominasi medium audio-visual konvensional yang lebih universal.

Dan bagusnya, Alim dan Benni berada dalam sinergi yang pas untuk tak terus memicu konfliknya secara berlebih tetapi sesekali menghadirkan belokan-belokan yang meneduhkan bak sebuah wahana rasa di mana kita bisa merasa gemas, terharu hingga trenyuh, pun lonjakan komikal dari dua pendukungnya yang diperankan baik sekali oleh Dimas Aditya, Boris Bokir apalagi Anggika Bolsterli sebagai Wina. Aktor-aktor pendamping lainnya seperti Ferry Salim, Denny Sumargo, Citra Kirana dan Arifin Putra yang dimunculkan sebagai faktor pemicu luarnya pun tetap diberi ruang cukup, juga bintang-bintang seniornya; Aida Nurmala, Roy Marten, serta Dwi Yan dan Lydia Kandou di reuni mereka yang cukup lama berjarak setelah Keluarga Markum.

Kekuatan lain dari Twivortiare juga datang dari aspek teknikal yang sedikit banyak mampu menutupi trik membatasi bujet produksi yang buat sebagian orang bisa jadi sangat bisa terlihat. Tata kamera Yudi Datau tetap menjaga keseluruhan tampilan serta mood-nya walau ini bisa jadi relatif dengan pencahayaan yang kadang terasa kurang lazim di beberapa titik, sementara tata artistik dari Frans X.R. Paat bersama tata kostum Wandahara dan rias dari Eba Sheba meski terlihat minim tantangan namun cukup solid memberi gambaran lapis sosial tipis para karakternya. Tak bisa dilupakan juga, dalam bangunan rasa keseluruhan yang sudah terbangun kuat dari tautan romansa Reza-Raihaanun bersama pengarahan Benni, penyuntingan dari Cesa David Luckmansyah dan Apriady Fathullah, serta musik latar Tya Subiakto yang kali ini tampil minimalis dengan dominasi dentingan piano tapi pas termasuk dalam penggunaan penggalan-penggalan intro lagu tema Glenn.

Pada akhirnya, Twivortiare bukan saja berhasil memanfaatkan materi romansa dewasanya dengan maksimal, juga menjadi salah satu kiprah terbaik masing-masing kru inti serta pemainnya terutama Reza dan Raihaanun; Alim dan Benni, juga adaptasi terbaik dari karya Ika Natassa. Namun di atas semuanya, dengan eskalasi romansa yang terbangun sebaik itu, ia memang bisa menggugah rasa buat kita, sebagai pemirsanya, buat benar-benar masuk dan memberikan hati dan keberpihakan kita untuk hubungan Alex dan Beno sekaligus berkaca. Seperti pasangan ideal dari Surga, Twivortiare adalah pengingat sederhana namun luar biasa manisnya buat semua hati yang menolak menyerah di luar sana, agar terus belajar dan selalu bisa kembali ke awal untuk memaknai ulang sebuah rasa bernama cinta. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY