Warkop DKI Reborn: Peremajaan Baru dalam Usaha Melestarikan Legenda

Warkop DKI Reborn: Peremajaan Baru dalam Usaha Melestarikan Legenda

20
SHARE
Ⓒ 2019 Falcon Pictures

WARKOP DKI REBORN

Sutradara: Rako Prijanto

Produksi: Falcon Pictures, 2019

Status Warkop DKI sebagai grup lawak/komedian terbesar di negeri ini, dengan 12 album rekaman, 34 film layar lebar dari 1979 – 1994, belum lagi terhitung sinetron, memang belum lagi bisa terganti. Menyisakan Indro sepeninggal Kasino dan Dono (masing-masing meninggal dunia di tahun 1997 dan 2001, sementara dua lagi personil aslinya; Rudy Badil – baru saja meninggal tahun ini dan Nanu Mulyono – meninggal tahun 1983 setelah hanya ikut dalam film pertama Mana Tahaaan…), adalah H.B. Naveen dan produser Frederica dari Falcon Pictures yang lantas melanjutkan warisan mereka lewat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dan Part 2 (2016, 2017).

Konsep melestarikan Warkop yang digagas dengan cerdas lewat penokohan baru yang dibawakan Abimana Aryasatya sebagai Dono, Vino G. Bastian sebagai Kasino dan Tora Sudiro sebagai Indro secara tak terduga, sementara Indro tetap ikut bermain, pun meledakkan rekor baru dengan total hampir 11 juta penonton dari Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! yang dibagi dalam dua instalmen itu (Part 1-nya sampai sekarang tetap menjadi film Indonesia terlaris dengan perolehan 6.858.616 penonton). Jadi tak ada alasan untuk tak terus melanjutkannya.

Sayangnya, mungkin ada masalah intern yang membuat Falcon lantas mengambil keputusan untuk mengganti semua aktor utama berikut sutradaranya. Selagi mereka memang bukan berniat membuat sebuah biopik yang habis dalam satu film, ada resiko memang, karena usia dan jumlah instalmen baru dalam cara pelestarian Warkop yang mereka pilih lewat Jangkrik Boss! itu masih benar-benar tak lama. Namun, ini juga bisa jadi kesempatan meremajakan lagi usaha itu dengan ansambel yang lebih segar. Toh, kita sebelumnya juga cenderung tak percaya trio Abimana, Vino, Tora bisa menghidupkan kembali Dono, Kasino, Indro dengan begitu baik bahkan membuat takjub.

Maka masuklah ansambel baru yang diisi oleh Aliando Syarief, Adipati Dolken dan Randy Danistha untuk menokohkan Dono, Kasino, Indro versi terbaru. Paling tidak, teaser yang mereka luncurkan beberapa bulan lalu, merendisi adegan ikonik dari film Warkop produksi Garuda Film, salah satu yang terbaik dan bebas dari jualan paha – dada – Sama Juga Bohong karya Chaerul Umam, tetap membuat kita kembali takjub melihat tiga aktor tak terduga ini meniru gestur, ekspresi dan intonasi tokoh aslinya. Masih ada satu hal lagi mungkin terkait pemilihan judul yang cukup memakai Warkop DKI Reborn tanpa subjudul entah buat menekankan ini adalah peremajaan dari penyegaran sebelumnya, yang bisa jadi cukup beresiko membuat orang agak bingung dengan kontinuitasnya. Tapi bukankah itu gunanya promosi gencar ala Falcon biasanya? Sebagaimana kita ketahui, Grand Premiere yang digelar di seluruh Indonesia tanggal 7 September jam 7 malam di satu hall dari semua bioskop yang ada itu dibandrol dengan HTM 5 ribu rupiah saja. Ini, paling tidak, membuat semua perhatian beralih ke promosi jagoan ala Falcon tadi. Tiket Grand Premiere itu pun ludes dalam hitungan sebentar. Apalagi masih ada ekspansi lain dari Warkop DKI animasi dari Faza Meonk yang muncul sebagai bonus pembuka.

Di tangan Rako Prijanto, dengan naskah yang ditulisnya sendiri bersama Anggoro Saronto, instalmen Warkop kali ini tak lagi digagas seperti kumpulan sketsa komedik tapi punya plot yang lebih runtut. Melihat potensi mereka sebagai komedian yang jadi figuran film, Dono, Kasino dan Indro direkrut oleh Komandan Cok (Indro Warkop) dan tangan kanannya, Karman (Mandra) sebagai agen polisi rahasia untuk menyelidiki kasus pencucian uang di industrinya oleh produser Amir Muka (Ganindra Bimo). Sepak terjang mereka mulai mencuri perhatian Amir yang berniat menjadikan mereka pemeran utama, sekaligus aktris cantik Inka (Salshabilla Adriani). Namun tak lama, kecurigaan Amir seketika mengantarkan mereka ke tengah perang suku di gurun pasir Maroko. Dibantu seorang penduduk lokal dan putri kepala suku (diperankan Dewa Dayana dan Aurora Ribero), Dono, Kasino, Indro pun harus menelusuri apa yang sebenarnya terjadi sambil mempertahankan keselamatan masing-masing di tengah kekacauan yang jelas bakal terjadi.

Tak terlalu banyak memang film-film Warkop DKI yang digagas di atas sebuah plot runtut. 3 film pertama mereka di bawah bendera Bola Dunia Film, Mana Tahaaan…, Ge..er Gede Rasa dan Gengsi Dooong saat mereka masih menokohkan tiga tokoh fiktif Slamet, Sanwani dan Paijo mungkin masih benar-benar menggunakan formula ini berdasar film-film komedian Perancis Les Charlots (di sini dikenal dengan nama Crazy Boys) atau komedi Israel Lemon Popsicle sebelum akhirnya beralih ke Parkit yang selain mengalihkan karakternya ke nama asli berlatar rumah kosan bersama cewek-cewek seksi (Eva Arnaz & Lydia Kandou), lebih menjual sketsa komedik ala India, berlanjut ke Soraya di akhir 80an yang makin inkoheren dan kacau balau (di tengah-tengahnya ada dua yang kembali ke basis plot dari Garuda Film – Sama Juga Bohong dan Jodoh Boleh Diatur). Warkop DKI Reborn ini, meski belum benar-benar bisa melepaskan formula sketsa yang lebih melekat tadi, paling tidak berdiri di atas plot yang lebih jelas sambil memuat homage ke film-film mereka yang bernuansa komedi aksi spionase ala Manusia 6 juta Dollar dan satu produksi Soraya – Depan Bisa Belakang Bisa.

Ide menggagas parodi industri film Indonesia di separuh bagian awal harus diakui memang membawa angin segar untuk sisi komedinya walau sesekali masih memunculkan komedi-komedi kasar (dan terkadang jorok) yang di luar dikenal dengan sebutan toilet jokes. Tak hanya soal aktor diva dengan akting bertolak belakang dari gestur dan orientasi aslinya, produser (India) dengan segala tingkah-polah khasnya berikut kelucuan-kelucuan di set film, skrip Rako dan Anggoro juga menyentil sana-sini soal film dari film-film produksi Falcon sendiri (Dilan & Bumi Manusia) sampai Ayat-Ayat Cinta 2 yang bisa jadi membuat panas rumah produksi saingan kalau saja bukan bertolak pada koridor komedi. Apalagi, mereka menyisipkan lawakan-lawakan Warkop klasik seperti soal plesetan marga Batak dari salah satu album rekaman lawak mereka berikut satu adegan luar biasa lucu saat kejar-kejaran di sebuah jembatan.

Bersama sentuhan musikal yang perlahan dibangun, paruh keduanya beralih menonjolkan set luar negeri yang asli dilakukan di Maroko dengan selipan adegan-adegan aksi komedi bersama pendukung serta figuran luar. Ini memang menjadi salah satu ciri khas produksi Falcon dalam menonjolkan kelas produksi yang tak main-main bahkan ketika membuat film komedi, namun di sini bangunannya memang berhasil dengan inovasi-inovasi komedik soal bahasa Arab ‘ngaco’ berikut kesalahpahaman-kesalahpahaman yang membangun kekacauan ke tengah-tengahnya. Tata kamera Hani Pradigya yang terasa sangat sinematis dengan tata artistik Ary Juwono bekerja dengan baik sekali terutama di bagian-bagian ini, juga penyuntingan Aline Jusria yang mau tak mau sangat berperan dengan berhasil tidaknya ketepatan ‘timing’ dalam adegan-adegan komedi itu walaupun tak semua berjalan terlalu mulus.

Begitupun, keputusan berani mengalihkan peran ke tiga aktor ini sebagai lini terdepan jualannya sebagai komoditas kelanjutan waralaba ataupun pelestarian nama Warkop tadi, satu hal yang pasti paling dinanti pemirsanya, harus diakui sama sekali tak gagal. Aliando, secara mengejutkan benar-benar berhasil bertransformasi sebagai Dono dengan semua gestur, ekspresi dan tingkah-polahnya kala melucu bahkan melebihi semua pencapaian aktingnya yang masih sering tak dipandang penonton senior, juga sedikit lebih baik dari Abimana di Jangkrik Boss!. Namun penghalangnya mungkin hanya satu, yakni intonasi dialog yang kerap terhalang gigi palsunya yang sebenarnya sudah tampil cukup baik dari tata rias Gunawan Saragih bersama rambut jambul dan riasan tambahan, juga tak bisa tertinggal, tata kostum Meutia S. Pudjowarsito.

Menokohkan Kasino, Adipati Dolken masih terlihat kurang meyakinkan di bagian-bagian awal, terlebih dalam dialek ngapak-nya, begitu juga Randy sebagai Indro walau sosoknya memang sudah punya kemiripan kecuali di soal postur. Untungnya, eskalasinya berjalan baik menuju paruh kedua di mana tautan ketiganya yang sudah sesekali tampil bagus sejak awal makin lepas serta terlihat nyaman mereka mainkan. Sebagai pendampingnya, ada Dewa Dayana – putra aktor Gusti Randa yang baru memulai debutnya dalam Asal Kau Bahagia yang juga memasangnya bersama Aurora Ribero (juga bermain bagus di sini) bersama Aliando dan disutradarai Rako, serta Ganindra Bimo dan Khiva Iskak yang secara komikal cukup masuk ke inovasi parodinya.

Lagi-lagi, genre komedi memang sangat relatif terpulang pada beda-beda selera penontonnya (bahkan komedian setenar Jim Carrey, Adam Sandler atau Will Ferrell pun punya pembenci tak sedikit, begitu juga dengan komika-komika di film kita sekarang), belum lagi yang berdiri di atas referensi dengan rentang karir panjang seperti Warkop DKI. Saat faktor ‘suka’ atau ‘tidak suka’ ini akan sangat menentukan, satu hal terpenting melebihi ‘kena’ atau ‘tidak kena’ di permainan lawakannya, ansambel baru ini tak bisa dipungkiri, sudah berhasil membawa kita kembali melihat Dono, Kasino, Indro – sekali lagi, hidup di depan layar. Artinya pula, Rako dkk.  sudah menyambung estafet dari instalmen sebelumnya dengan baik. Ditutup dengan hiruk-pikuk adegan musikal satu lagu dangdut yang sangat dikenal setelah muncul meledakkan tawa di satu adegan klimaks, untuk lagi-lagi membawa satu gaya khas lawakan Warkop menembus dinding keempat produknya sebagai film dengan penontonnya dalam memberi pesan bahwa ini (seperti biasa) akan bersambung ke Warkop DKI Reborn 2 nanti, tak tahu Anda, tapi saya – jelas akan sangat menantikan kelanjutannya. (dan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY