Yang Tak Tergantikan: Drama Rumahan yang (Sayangnya) Lemah Logika

Yang Tak Tergantikan: Drama Rumahan yang (Sayangnya) Lemah Logika

178
SHARE
Image: Falcon Pictures, Disney+ Hotstar, 2020

Sutradara: Herwin Novianto

Produksi: Falcon Pictures, 2021

Lagi-lagi sebuah film OTT yang tayang di Disney+ Hotstar Indonesia, lagi-lagi sebuah drama dari sutradara Herwin Novianto, ‘Yang Tak Tergantikan’ mungkin mengingatkan pada karya Herwin sebelumnya, Sejuta Sayang Untuknya yang juga punya aspek-aspek tak jauh berbeda, namun ada sisi gender swap ke sosok single mother (di sini diperankan oleh Lulu Tobing). Seperti Sejuta Sayang Untuknya, konflik yang ditawarkan Yang Tak Tergantikan pun tak kalah sederhana, namun  tergarap dengan cukup baik meskipun ada kekurangan yang cukup fatal di jalinan pengisahannya.

Begitu pun, Herwin, memang dalam sejumlah filmnya rata-rata memiliki sensitivitas penggarapan lebih sebagai seorang filmmaker yang tak canggung meski membesut tema dan plot serba sederhana. Tetap ada inovasi yang digagasnya, di sini lewat POV tak biasa terhadap salah satu karakter yang sebenarnya cukup penting buat diulik lewat skrip besutan Gunawan Raharja (22 Menit). Dan lagi-lagi sama seperti Sejuta Sayang Untuknya, Yang Tak Tergantikan juga bergerak sebagai drama rumahan yang ber-setting kebanyakan di rumah tempat para karakternya saling berinteraksi di tengah konflik (yang sebenarnya) cukup akrab buat banyak orang. Paling tidak, satu yang harus dicatat, apapun kekurangannya, Herwin memang punya talenta mengarahkan pemain-pemainnya dengan cukup baik, dan opsi-opsi terbatas sebuah film untuk tayang di OTT juga mungkin memberi penyegaran di tengah tipe tontonan film lokal yang masih belum beranjak dari tema percintaan remaja – drama atau komedi serta film horor.

Terasa unik mungkin kala kita diperkenalkan pada sosok karakter utamanya, single mother Aryati (Lulu Tobing) yang selepas bercerai dengan sang suami, terpaksa menghidupi ketiga anaknya yang tengah beranjak dewasa; si sulung Bayu (Dewa Dayana), anak tengah Tika (Yasamin Jasem) dan si bungsu Kinanti (Maisha Kanna), sebagai seorang supir taksi daring. Namun konfliknya memang tak bergerak terlalu jauh selain dibangun dari tiga tipe anak-anak Aryati ini. Bayu yang sigap mengambil peran pria dewasa dalam keluarga dan tengah berjuang dengan ancaman PHK di kantornya, Tika yang suka memberontak dan Kinanti – remaja pintar yang cerdas di sekolah dan selalu ingin tahu. Penekanan yang digagas dalam penceritaannya memang hanya berkutat di soal bagaimana keluarga tanpa ayah yang sering dianggap ‘tak sempurna’ ini lantas bisa saling mengisi dan mempertahankan kasih sayang antara satu sama lain.

Hal paling unik dalam penceritaan yang dipilih Herwin dalam Yang Tak Tergantikan memang adalah POV tak biasa yang menolak menampilkan sang ayah, mungkin demi memberi kesan ketidakhadirannya dalam keluarga. Sosok sang ayah yang entah diperankan oleh siapa ini hanya muncul sekelebat tanpa pernah kita lihat wajah ataupun tahu namanya walaupun karakternya muncul di beberapa adegan. Tak mengapa memang, karena ini merupakan pilihan unik serta tak biasa yang tak juga membuat pengisahannya menjadi jomplang.

Namun sayangnya, alih-alih menyuguhkan sebuah drama rumahan yang berisi potongan-potongan kehidupan karakternya, konflik utama soal persepsi anak berbeda usia serta pemahaman terhadap perceraian orang tuanya ini tak disertai logika yang baik. Kita jadinya bertanya-tanya kapan sang ayah dan sang ibu memutuskan cerai karena skrip Gunawan memang tak memberikan detil demi bangunan konflik yang mereka maksudkan soal ‘pertanyaan anak’ yang tengah beranjak dewasa dan harus memahami masalah ini. Kapan cerainya, kenapa baru bertanya sekarang, kenapa di antara sesama saudara yang digambarkan cukup erat walau kerap ribut-ribut kecil seakan tak pernah membahasnya, sementara sejumlah reaksi-reaksi berbeda tadi juga tak bisa sepenuhnya terjelaskan dengan baik oleh penulisan karakternya. Yang akhirnya lebih ditonjolkan justru lagi-lagi – soal kesulitan finansial sewa rumah.

Selain itu, Yang Tak Tergantikan masih tak bisa sepenuhnya menghindari langkah-langkah simplifikasi masalah yang cukup sering terasa repetitif. Selipan komedi lewat tampilan Babe Ucup (diperankan Babe Ucup), juragan rumah yang menaruh hati pada Aryati memang bisa mengundang tawa, tapi sebenarnya tanpa dipanjang-panjangkan atau diulang, bahkan tak ada pun tak mengapa. Belum lagi, Yang Tak Tergantikan agaknya masih sering terlihat sangat bergantung pada scoring (dikomposisi oleh Egi) nyaris nonstop dan menyetir emosi ketimbang mengedepankan penceritaan.

Namun untunglah, di tengah kekurangan dan ketidaksempurnaan yang sebenarnya cukup fatal soal cacat logika soal pemahaman anak terhadap perceraian orang tua yang bisa dikembangkan jauh lebih baik tadi, deretan pendukungnya bermain dengan baik. Lulu Tobing yang memang jarang-jarang muncul dan selalu ditunggu tetap punya persona layar yang spesial dan bisa meng-handle adegan-adegan emosionalnya dengan baik, sementara aktor-aktor muda; Dewa, Yasamin dan Maisha tampil cukup pas sesuai usia karakter mereka. Ada kekuatan interaksi yang meyakinkan kita bahwa keluarga ini memang punya koneksi kuat untuk bertahan dengan segala masalahnya, dan rasanya – apapun kekurangannya, ini adalah hal yang dibutuhkan buat film-film drama rumahan sederhana seperti Yang Tak Tergantikan ini. Bolehlah sebagai alternatif tontonan, tapi sebenarnya bisa digarap jauh lebih baik lagi. (Daniel Irawan)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY